Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kaledonia Baru tetap bersama Prancis
  • Kamis, 08 November 2018 — 01:44
  • 915x views

Kaledonia Baru tetap bersama Prancis

Jumlah orang yang datang untuk memilih pun bervariasi di sepanjang negara, namun ada mobilisasi kuat yang belum pernah terjadi dan terlihat sebelumnya di banyak daerah.
Roch Wamytan, mantan pemimpin partai pro-merdeka, Union Caledonienne, bersiap untuk memasukkan surat suara di TPS di Le Mont-Dore, Kaledonia Baru, 4 November 2018. - PINA/AP Photo/Mathurin Derel
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Nic Maclellan di Nouméa, Kaledonia Baru

Para pemberi suara di Kaledonia Baru, telah memilih untuk menolak kemerdekaan dari Prancis dalam referendum, Minggu (4/11/2018) lalu, tentang penentuan nasib sendiri.

Berbondong-bondong membanjiri lokasi pemilihan dalam jumlah yang belum pernah terlihat sebelumnya, mayoritas pemilih memutuskan untuk tetap bertahan dengan Republik Prancis.

Namun, suara mendukung merdeka jauh lebih kuat dari yang diprediksikan dalam jajak pendapat terakhir, dan dalam pernyataan-pernyataan dari politisi anti-kemerdekaan terkemuka selama masa kampanye.

Lebih dari 174.000 orang diminta untuk memberikan suara mereka atas pertanyaan: ‘Apakah Anda ingin Kaledonia Baru untuk memiliki kedaulatan penuh dan menjadi independen?’

Pada saat penutupan perhitungan pada Minggu malam, hasil sementara menunjukkan 43,6% memilih ‘Ya’ untuk merdeka, sementara 56,4% memilih untuk tetap di bawah Republik Prancis.

Dengan hasil penghitungan akhir, membenarkan kembali hasil sementara tersebut, hasil yang resmi telah diumumkan pada Senin pagi (waktu Nouméa) oleh Francis Lamy, Presiden Control Commission yang dibentuk oleh Pemerintah Prancis untuk menyelenggarakan pemungutan suara itu.

Perbedaan yang signifikan terlihat dari seluruh negeri, dengan 75,8% di Provinsi Utara dan 82,1 % di Provinsi Kepulauan Loyalty memberikan suara ‘Ya’ , dua wilayah di mana mayoritas penduduknya adalah penduduk pribumi Kanak.

Sebaliknya, Provinsi Selatan yang lebih besar, dengan mayoritas pemilih non-Kanak, dukungan kuat sebesar 73,71% tercatat untuk tetap bertahan dengan Prancis, hanya 26,29% orang dari provinsi itu yang memilih merdeka.

Jumlah orang yang datang untuk memilih pun bervariasi di sepanjang negara, namun ada mobilisasi kuat yang belum pernah terjadi dan terlihat sebelumnya di banyak daerah.

Hingga pukul 12 siang pada Minggu, 41,81% pemilih yang terdaftar telah pergi ke tempat pemungutan suara (untuk perbandingan, saat pemilihan lokal tahun 2014 lalu, hanya 27,27% yang telah memilih di tengah hari). Pada pukul 5 sore Minggu, jumlah pemilih yang datang meningkat menjadi 73,68%.

Pada saat penghitungan suara ditutup pada Minggu malam, jumlah pemilih secara keseluruhan lebih dari 80 %. Dari jumlah itu, partisipasi mencapai 86%di bagian utara, 83% di bagian selatan, namun hanya 58,8% di pulau-pulau terpencil di Kepulauan Loyalty.

Alasan yang berbeda-beda

Di Nouméa, para pemilih berbaris di sekolah-sekolah, balai kota, dan lokasi pemungutan suara lainnya di seluruh daerah ibu kota. Orang-orang yang berasal dari pulau-pulau terpencil, dan tidak dapat melakukan perjalanan jauh ke pulau asal mereka untuk memilih, dialihkan ke suatu pusat pemungutan suara khusus di kompleks olahraga di pinggiran kota, di Valee du Tir.

Berbicara kepada orang-orang ketika mereka melangkah keluar dari bilik-bilik TPS, terlihat jelas ada perbedaan yang signifikan antara pemilih Kanak dan non-Kanak, dan antara pemilih orang muda dan yang lebih tua.

Di tempat-tempat pemungutan suara di daerah pinggiran pantai yang lebih mewah di Anse Vata, para pemilih - umumnya orang keturunan Eropa - khawatir akan masa depan mereka. Dalam wawancara-wawancara Exit Poll setelah partisipan memberikan suara, ‘stabilitas’ dan ‘keamanan’ adalah kata-kata yang digumamkan berulang kali.

Sepasang suami istri lansia khawatir tentang kualitas sistem pelayanan kesehatan di negara itu jika merdeka, seorang guru sekolah mengenai kualitas pendidikan: “Kita sudah berhasil mencapai kemajuan yang besar dalam dua puluh tahun terakhir - kita sudah tidak lagi mengajarkan anak-anak tentang Charlemagne and the Gauls. Tetapi kita tidak boleh membuang semua ini dengan memilih merdeka.”

Perempuan lain berkata: “Kita adalah negara yang kecil dan kita memerlukan perlindungan. Kita memiliki kekayaan besar dengan nikel, dan banyak negara yang mengincar kekayaan kita ini.”

Seorang perempuan di Anse Vata enggan kehilangan akses ke negara-negara Uni Eropa yang ditawarkan oleh paspor Prancis (“kita semua orang Prancis”), sementara yang lain menjawab dengan sederhana: “Saya ingin tetap dengan Republik Prancis. Itu saja.”

Di daerah pemukiman kelas pekerja, Riviere Salee, ada beragam pandangan. Seorang pria asal Tahiti, bergabung dengan putranya yang memberikan suara untuk pertama kali, mengatakan dia terbuka untuk merdeka ke depannya, tetapi tidak sekarang: “Kita belum siap. FLNKS telah gagal dalam melakukan pekerjaan yang diperlukan, untuk meyakinkan orang mengenai bagaimana mereka akan membiayai negara di masa depan.”

Sebaliknya, sejumlah pemilih orang Kanak dengan tegas mendukung kampanye ‘Ya’. Seorang perempuan memberi tahu saya: “Saya memilih merdeka, untuk masa depan negara saya, identitas kami.” Apakah kaum muda akan datang dan memilih? “Saya benar-benar yakin anak-anak muda akan ikut memilih hari ini. Mereka juga tahu hal ini tentang apa.”

Seorang pemudi Kanak lainnya, ditolak dari bilik dan diarahkan ke tempat pemungutan suara lainnya, menjawab: “Saya akan memilih ‘Ya’ untuk negara saya.”

Tanggapan Prancis

Berbicara dari Paris setelah penghitungan suara dimulai, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik keputusan para pemilih Kaledonia Baru, menjawab ‘tidak ada jalan lain selain dialog.’

Meskipun kepentingan strategis Prancis yang berkelanjutan di Pasifik Selatan, Macron menunjukkan pemerintah Prancis sebagai mitra yang ‘sangat netral’ dalam referendum itu. Dia menekankan ‘transparansi dan kejujuran’ dari proses referendum itu, menegaskan pentingnya kehadiran berbagai pengamat dari PBB dan negara-negara tetangga di Pasifik.

Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe, tiba di Nouméa pada Senin pagi (5/11/2018), menghabiskan satu hari penuh dalam berbagai pertemuan dengan para pemimpin politik dan pejabat-pejabat Prancis di Kaledonia Baru, untuk memahami tanggapan partai-partai yang bersaing serta mendorong kedamaian selama enam bulan ke depan (warga Kaledonia Baru akan kembali memilih pada Mei 2019 mendatang, untuk menentukan perwakilan tiga majelis tingkat Provinsi dan Kongres nasional).

Mengisyaratkan tekad mereka yang berkesinambungan dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan, dua pemimpin pro-merdeka utama tidak melakukan perjalanan ke Nouméa untuk bertemu PM Philippe selama kunjungannya. Sebaliknya, Edouard Philippe terbang ke utara, ke ibu kota Provinsi Utara, Koné, untuk bertemu Daniel Goa, Presiden dari partai Union Calédonienne (UC) dan Paul Neaoutyine, Presiden dari partai Parti de Liberation Kanak (Palika).

PM Philippe juga telah mengeluarkan pernyataan, untuk menjabarkan tanggapan Pemerintah Prancis terhadap referendum dalam wawancara televisi, sebelum ia meninggalkan Kaledonia Baru pada Senin malam (5/11/2018). (PINA/Islands Business/PACNEWS 5/11/2018)

loading...

Sebelumnya

Polisi Fiji yakin pemilu aman tanpa kudeta

Selanjutnya

Dua menteri Vanuatu dicopot tanpa alasan

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34140x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 20488x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17845x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe