Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Dokumenter tim rugbi perempuan PNG dibuat
  • Kamis, 29 November 2018 — 04:15
  • 103x views

Dokumenter tim rugbi perempuan PNG dibuat

Saya tidak pernah bermaksud untuk membuat sebuah film. Tapi, seperti yang seringkali didapati oleh para pembuat film, kisah itu yang menemukan saya.
Power Meri: film ini sudah memicu diskusi tentang potensi liga rugbi perempuan untuk mengubah masyarakat PNG. - Lowy Institute/supplied
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Joanna Lester mengenai film dokumenternya, Power Meri.

Saya tidak pernah bermaksud untuk membuat sebuah film. Tapi, seperti yang seringkali didapati oleh para pembuat film, kisah itu yang menemukan saya.

Sejak dulu saya memang tertarik dengan kekuatan yang dibawa oleh olahraga, dan pada tahun 2014, saya pindah ke Papua Nugini untuk bekerja di bagian media dan komunikasi program Liga Bilong Laif (League for Life), yang dibiayai oleh Departement Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), dan dijalankan oleh badan olahraga Liga Rugbi (rugby league) nasional di Australia, National Rugby League (NRL), program yang menggunakan olahraga Liga Rugbi di sekolah-sekolah dan masyarakat, untuk menyampaikan pesan-pesan sosial yang penting.

Liga Rugbi bukan hanya merupakan olahraga nasional di PNG, ia adalah obsesi bangsa itu - kekuatan yang mempersatukan warganya di dalam negara yang seringkal bercerai-berai, dan sumber suka cita dan optimisme saat menghadapi berbagai macam persoalan.

Menetap dan bekerja di PNG telah membuka mata saya, untuk menyaksikan langsung dampak masyarakat yang bisa didapatkan, jika kita memanfaatkan popularitas meluas olahraga NRL. Namun, saya selalu merasa bahwa ada satu cerita yang sama pentingnya dan masih harus ditelusuri: perempuan permain liga rugbi di PNG.

Semua kolega-kolega perempuan saya di sini adalah pemain liga rugbi, untuk berbagai tim lokal di Port Moresby, dan mereka bercerita diam-diam mengenai bagaimana partisipasi mereka dalam olahraga nasional, yang didominasi laki-laki di negara itu telah mengubah hidup mereka sendiri dan sikap orang-orang di sekitar mereka.

Di negara dengan angka kekerasan berbasis gender yang tinggi dan terbatasnya peluang bagi perempuan, ini adalah contoh kuat perubahan dari akar rumput yang saya yakin dapat dipahami oleh khalayak luas, baik di PNG maupun di luar negeri.

Ketika diumumkan secara resmi bahwa PNG akan membentuk tim nasional liga rugbi wanita, dengan julukan the Orchids, dan akan berpartisipasi dalal piala dunia Women’s Rugby League 2017 untuk pertama kalinya, itu adalah kesempatan sempurna untuk mengabadikan kisah para pemain dan perjalanan yang di tempuh tim itu, dan lalu mempertontonkannya di layar lebar melalui suara-suara yang jarang didengarkan, suara dari para perempuan pemain rugbi perintis ini.

Melalui film yang akan dimainkan secara internasional ini, saya juga berharap dapat mendorong keterlibatan Australia dengan negara tetangga terdekatnya, dan berbagi kisah tentang inspirasi sekelompok perempuan PNG, untuk melawan pandangan negatif dan kerdil yang seringkali digunakan dalam menggambarkan PNG di layar-layar kaca.

Kerja sama tim

Sangat sulit untuk mendapatkan akses, agar bisa memfilmkan sebuah tim olahraga internasional selama kegiatan piala dunia. Harus ada keseimbangan yang baik antara merekam cukup banyak cerita, untuk memberikan penggambaran yang sesuai, dan tidak mengalihkan perhatian tim menjelang pertandingan-pertandingan penting.

Film saya berpusat pada cerita empat pemain the Orchids, dan mereka semua dengan sepenuh hati mendukung tujuan dari dokumentari ini, dan memiliki pemahaman mendalam tentang proses pembuatan film. Kita sengaja merekam wawancara-wawancara penting sebelum dan sesudah Piala Dunia itu, untuk meminimalkan gangguan selama turnamen berlangsung.

Selama proses penyuntingan, saya menunjukkan potongan-potongan film yang sudah hampir selesai, kepada para pemain untuk meminta pendapat mereka. Mereka tersentuh melihat betapa kuatnya cerita mereka ketika dimainkan di layar kaca, dan mereka bahkan lebih bahagia lagi ketika mereka melihat versi akhir film itu.

Kapten tim piala dunia liga rugbi wanita PNG, Cathy Neap, berkata:

“Menurut saya film ini akan memungkinkan orang-orang, untuk melihat seberapa jauh perjuangan the Orchids, dan hambatan yang harus mereka lalui, untuk mencapai posisi mereka saat ini. Dokumenter ini juga penting karena ia akan membantu menyebarkan pesan, bahwa perempuan sudah mulai bangkit dan melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan oleh perempuan sebelumnya, dan penting bagi laki-laki, dan anak- anak perempuan dan laki-laki untuk melihat pesan ini.”

Salah satu pemain the Orchids lainnya, yang juga merupakan pemain dari klub pemenang perdana liga NRL wanita Brisbane Broncos, Amelia Kuk, mengungkapkan:

“Saya merasa takjub melihat pembuatan film dokumenter ini, tentang kendala-kendala nyata yang dialami perempuan di negara ini... Film ini akan membantu memberikan suara kepada perempuan, dan saya yakin semua orang bisa merasakan relevansinya, melalui satu atau lain cara. Segala sesuatu dalam film ini sangat nyata. Itulah yang membuatnya sangat unik dan kuat dan, melalui kekuatan liga rugbi, kita bisa membawa perubahan.”

Media sosial dan kesehatan mental pemain

Film ini menunjukkan tantangan tim dan para pemain, ketika mereka bertransisi dari tingkat akar rumput ke tingkat internasional: dengan waktu persiapan minimal, pendanaan dan sumber daya terbatas, prasangka sosial, dan opini negatif dari publik.

Salah satu isu yang diangkat dalam film itu adalah penyalahgunaan media sosial. Film ini menyertakan komentar-komentar nyata dari Facebook, yang menunjukkan banyaknya komentar umum tentang tim Piala Dunia itu. Di PNG, bangsa di mana media sosial Facebook adalah salah satu platform paling populer dalam wacana publik dan berbagi informasi, topik ini tetap menuai berbagai komentar seperti biasanya.

Tetapi, bahkan pemain NRL yang di Australia dan telah menonton film itu juga turut bercerita mengenai persoalan yang serupa di negara itu, dan dampak kesehatan jiwa dari media sosial terhadapt para atlet.

Masa depan liga rugbi perempuan di PNG

Meskipun baru beberapa kali dimainkan di PNG dan Australia, film ini sudah memicu diskusi tentang potensi liga rugbi perempuan untuk mengubah masyarakat PNG, dan tentang bagaimana pertumbuhan dan perkembangan olahraga ini, dapat didorong dengan masukan dari liga rugbi wanita di Australia yang juga berkembang pesat.

Bulan Agustus lalu, the Orchids dan tim wanita Brisbane Broncos yang juga baru saja dibentuk, menandatangani perjanjian kerja sama yang akan memungkinkan pemain the Orchids, untuk menggunakan berbagai sumber daya dan keahlian klub Broncos. Dengan munculnya kompetisi NRL perempuan baru-baru ini, akan menarik untuk melihat apakah klub-klub NRL lainnya juga memperluas program pencarian bakat mereka ke PNG.

Mengingat peluang diplomasi bidang olahraga untuk memperluas hubungan antara Australia-PNG melalui liga rugbi perempuan, dan peluang besar tim perempuan PNG untuk bergabung dengan badan NRL lebih cepat daripada tim laki-laki, ini adalah ruang yang layak untuk diamati. (The Interpreter by Lowy Institute)


Joanna Lester adalah seorang jurnalis dan spesialis media dengan fokus pada olahraga dan Pasifik. Ia pertama kali datang ke PNG untuk meliput liga rugbi pada tahun 2009, ia lalu bekerja sebagai Penasihat Bidang Media dan Komunikasi untuk NRL di PNG, dari 2014 hingga 2015. Lester adalah sutradara Power Meri, film dokumenter yang menceritakan perjalanan tim liga rugbi wanita nasional PNG pertama.

 

loading...

Sebelumnya

Tekanan publik, wartawan PNG batal diskors

Selanjutnya

Parlemen Fiji ambil sumpah

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34421x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23019x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18980x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionl[email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe