Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Utang $1,1 miliar Samoa dan gugatan pada pendeta
  • Minggu, 02 Desember 2018 — 16:46
  • 481x views

Utang $1,1 miliar Samoa dan gugatan pada pendeta

“Sebagai Menteri Keuangan, saya bisa berkata dengan berani, bahwa Samoa bisa melunasi utang-utang kita,” tegasnya.
Menteri Keuangan Samoa, Sili Epa Tuioti. - Samoa Observer
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Mata'afa Keni Lesa

Inilah kabar baiknya. Meskipun ini bukan pertama kalinya pemerintah Perdana Menteri Samoa, Tuilaepa Dr. Sa’ilele Malielegaoi meyakinkan rakyatnya, jika kita masih perlu diyakinkan lagi, mengenai bagaimana kita tidak tertimbun di bawah tumpukan utang, dan kesanggupan kita untuk melunasinya, Menteri Keuangan, Sili Epa Tuioti, adalah orang pertama yang patut kita dengarkan.

Dengan berbagai pembicaraan serta kecemasan tentang utang negara, opini Sili bahwa Samoa masih bisa menangani utang asingnya yang kian membesar ini dapat dipercaya. Tentu saja hal ini benar jika kita percaya bahwa dia berkata jujur – mengingat ia adalah menteri dalam kabinet pemerintah, yang diwajibkan untuk memberikan informasi yang benar.

Dari permukaan, ia sepertinya cukup jujur. Sebagai contoh, mari kita lihat liputan yang berjudul ‘Utang Samoa masih bisa dilunasi, kata Sili’ yang diterbitkan di halaman depan koran Samoa Observer pekan lalu. Mengingat banyaknya pertanyaan yang diungkapkan mengenai kesanggupan pemerintah dalam membayar utang kita, Sili tetap berkeras.

“Sebagai Menteri Keuangan, saya bisa berkata dengan berani, bahwa Samoa bisa melunasi utang-utang kita,” tegasnya.

“Setiap tahun, dalam anggaran tahunan, kita telah menyisihkan dana untuk membayar semua bunga pinjaman kita dengan Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia, dan Tiongkok. Tidak ada alasan untuk berpikir, kalau kita tidak bisa membayar kembali pinjaman kita di Samoa, kita hanya meminjam dana untuk membiayai keperluan penting saja, seperti infrastruktur sosial ekonomi yang akan membantu kita meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi dari rakyat kita, untuk mencoba mendorong perkembangan ekonomi Samoa.”

Baiklah, kalau begitu...

Bagian kalian yang belum tahu, jumlah total pinjaman asing pemerintah saat ini masih dalam kisaran $1.1 miliar. Itu jumlah yang resmi. Beberapa orang yang dapat dipercaya telah mempersoalkan angka tersebut, menyatakan jumlah yang sebenarnya jauh, jauh lebih besar daripada jumlah itu, dan mereka punya alasan sendiri.

Dari informasi yang telah diungkapkan sejauh ini, $416 juta itu, jumlah pinjaman kita dari Tiongkok, ‘sahabat baik’ Samoa. Sebagian besar dari pinjaman itu dipergunakan untuk membangun proyek-proyek infrastruktur, yang dapat diperdebatkan kegunaannya. Jangan minta saya untuk kembali menjelaskan hal ini. Kalian hanya perlu mulai menghitung proyek-proyek tidak berguna, yang mahal biaya pembangunan dan pemeliharaannya di Apia dan area-area sekitar, dan kalian pasti mengerti maksud saya. Apakah kita bisa berkata, dengan pasti, bahwa pembangunan berbagai infrastruktur ini penting? Kalian bisa menilai sendiri.

Kita bisa mengatakan dengan pasti proyek-proyek pembangunan ini, tidak datang dengan cuma-cuma. Dan mereka juga tidak murah. Mereka akan membebankan negara ini lebih dari pokok pinjaman dan bunganya, dari berbagai pinjaman yang sedang kita lunasi.

Kembali ke Menteri Sili. Ia meyakinkan kita bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana setiap tahun, untuk membayarkan utang-utang mereka.

“Untuk saya, sebagai Menteri Keuangan, di mana kita berada sekarang, kita bisa melunaskan semua utang kita,” tegasnya. Bagaimana dengan 20 tahun dari sekarang? Pengaturan ini akan tetap berlaku. Sangat tidak mungkin bagi kita untuk meminjam dana, melebihi kemampuan kita untuk membayarnya kembali, sebagai Menteri Keuangan, kita memonitor jumlah utang kita dengan sangat cermat.

“Kita tidak akan meminjam uang untuk membiayai sesuatu yang tidak kita perlukan, kita juga selalu memastikan bahwa dana yang kita pinja, digunakan untuk membiayai sesuatu yang kita perlukan, bukan yang kita inginkan.”

Luar bisa...

Namun inilah ironinya, jika pemerintah benar-benar memiliki kontrol penuh atas keuangannya, seperti yang berulang kali ditekankan oleh Sili, mengapa mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu, yang tidak pernah dilakukan nenek moyang kita saat mereka mengorbankan darah, keringat, dan air mata untuk membangun Samoa, seperti yang kita lihat modern ini?

Minggu lalu, Menteri Pendapatan, Tialavea Tionisio Hunt, membenarkan laporan bahwa delapan orang pendeta dari denominasi gereja Congregational Christian Church of Samoa (CCCS), telah digugat karena tidak melaporkan pajak mereka. Menteri Hunt mengatakan mereka berencana untuk menggugat lebih banyak pendeta.

“Karena penuhnya jadwal pengadilan, kita tidak menggugat semua pendeta saat ini, jadi kita harus membatasi jumlahnya menjadi delapan pendeta setiap minggu,” jelasnya. “Hukum dan perundang-undangan ini berlaku untuk semua orang. Hukum tidak bisa menunggu, sampai semua orang dan kelompok tertentu menerima keberadaannya. Kita sudah memberikan waktu 11 bulan untuk para pendeta gereja, dan mereka yang masih saja melanggar hukum ini akan menghadapi konsekuensinya.”

Nenek moyang kita tidak pernah menuntut pajak dari alofa pendeta-pendeta gereja sebelumnya. Mereka juga tidak mungkin berani menggugat para pendeta, hingga membawa mereka ke pengadilan.

Namun inilah kenyataan yang terjadi hari-hari ini dan sungguh sangat ironis. Jika klaim Menteri Keuangan itu benar dan situasi keuangan Samoa baik-baik saja, mengapa pemerintah justru menghancurkan keinginan nenek moyang kita, dengan menginjak-injak harapan mereka dan mewajibkan pajak bagi pendeta gereja?

Saat nenek moyang kita memutuskan bahwa Samoa adalah bangsa yang didasarkan pada Tuhan Allah, jelas sekali bahkan prinsip ini adalah sesuatu yang mereka hormati. Apa yang terjadi sejak saat itu? Bagaimana kita bisa sampai pada situasi di mana kita berada saat ini?

Jawaban yang paling mudah adalah ini. Saat pendahulu kita memerdekakan Samoa, mereka tidak perlu meminta pendeta-pendeta gereja, untuk membayar pajak karena mereka tidak meminjam uang, dan tidak ada utang asing yang perlu dilunasi. Waktu berubah, kita bisa menerima hal itu. Kita juga bisa menerima bahwa pembangunan memerlukan uang, dan sudah banyak pembangunan yang telah dilakukan sejak itu.

Selama lebih dari 50 tahun sejak Samoa merdeka, pemerintah tidak pernah mewajibkan pendeta-pendeta gereja, untuk berkontribusi melalui pajak, karena hal ini tidak perlu dilakukan.

Namun, karena mereka telah menggali lubang yang sekarang perlu mereka timbun, inilah mengapa pemerintah mengambil langkah, yang tidak pernah terbersit dalam benak pendahulunya.

Secara pribadi, ini bukanlah Samoa yang saya tahu dan kenal, ini, sudah pasti, merupakan hal paling konyol yang mereka lakukan.

Mari kita saksikan perkembangan ini. Karena sekarang pemerintah sudah mulai menggugat pendeta-pendeta yang tidak membayar pajak, apakah mereka juga ada menggugat kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, yang telah ditemukan berulang kali dalam administrasinya? (Samoa Observer)

 

Mata’afa Keni Lesa adalah salah satu editor untuk Samoa Observer.

loading...

Sebelumnya

Perjalanan mahal Pemerintah Solomon ke APEC dipersoalkan

Selanjutnya

LSM Kiribati desak pemerintah rilis laporan feri tenggelam

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34420x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23017x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18979x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe