Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Mengembalikan vegetasi hutan Papua
  • Rabu, 05 Desember 2018 — 05:37
  • 607x views

Mengembalikan vegetasi hutan Papua

"Fungsi hindrologi DAS harus segera dipulihkan agar sehat kembali dan berkontribusi bagi pencegahan dan pencanangan ekosistem kesejahteraan masyarakat. Mengembalikan vegetasi adalah bagian dari tindakan menyeluruh yang diperlukan"
Penanaman pohon sagu di Kabupaten Jayapura - Jubi/Dok.
Yance Wenda
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

UNTUK mengembalikan vegetasi hutan Papua dan daerah aliran sungai, sejumlah pihak melakukan gerakan menanam pohon di Kabupaten Jayapura.

Penanaman ribuan pohon sagu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua, DPR Papua, Pemkab Jayapura, kepala distrik, PKK Provinsi Papua dan Kabupaten Jayapura.

Menanam pohon juga bertepatan dengan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN), Sabtu, 1 Desember 2018

“Kita coba mengembalikan vegetasi hutan dan lahan yang terdegradasi. Tetapi menanam pohon belum cukup untuk tujuan besar, melakukan pemulihan lahan atau hutan secara luas yaitu dengan satuan ekosistem daerah aliran sunggai (DAS),” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, dalam sambutannya.

Ia mengatakan fungsi hindrologi DAS harus segera dipulihkan agar sehat kembali dan berkontribusi bagi pencegahan dan pencanangan ekosistem kesejahteraan masyarakat. Mengembalikan vegetasi adalah bagian dari tindakan menyeluruh yang diperlukan.

Pasalnya, mulai tahun 2018 dan selanjutnya Hari Penananam Pohon akan diperingati untuk pemulihan daerah aliran sungai. Pencanangan tahun ini mengambil tema "Daerah Aliran Sungai Sehat Sejahtrakan Rakyat".

Menurut Siti Nurbaya, mengelola DAS dilakukan karena berhubungan dengan bentang alam dengan unsurnya yang paling terkait. DAS merupakan wadah atau ekosistem yang mana seluruh manusia melakukan aktivitas yang berada dalam dinamikanya.

“Bentang yang mengambarkan atribut lahan, yang berupa faktor lahan, material curah hujan konfiguriasi, tipografi sosial dan budaya yang termanfestasikan. Sehingga DAS ini baik ekrubliernya harus di jaga, untuk itu bentuk atribut dan lahannya harus di jaga,” ujar Menteri Siti Nurbaya.

Ia melanjutkan sangat penting yang harus dilakukan yaitu deviasi yang dilakukan terlalu besar terhadap kondisi keseimbangan atau ekelibirium sistem ekologis yang ada.

“Itulah mengapa kita harus menanam lebih meluas dan menanan pemulihan secara holistis,” jelas Siti.

Pertumbuhan ekonomi selain menghasilkan kemajuan  perekonomian, lanjutnya, juga sangat mempengaruhi dinamika penggunaan lahan, termasuk perubahan bentang alam di kondisi bentang kerusakan alam yang terjadi. 

"Kerusakan DAS dimensi cakupannya sangat luas, pangan dan energi adalah fakta-fakta yang tak terbantahkan yang terjadi di berbagai wilayah kita,” ucapnya.

Pendangkalan waduk-waduk vital untuk pengairan banjir serta pembangkit listrik terganggu roda perekonomian wilayah dan menurunkan tingkat kehidupan masyarakat. 

Berbagai kalkulasi kerugian telah dilakukan untuk menilai dampak dari DAS, kerugian akibat erosi, di Jawa pada tahun 2005 sudah mencapai 400 juta US Dollar, per tahun, indeks persediaan air di Jawa dan Bali, dimana 60% penduduk Indonesia bermukim, berdasarkan survei 1986 sebesar 1.750 meter kubik per tahun.

“Memasuki musim penghujan saat ini, sudah banyak bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah negara kita. Hasil laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  tahun 2016 menunjukkan terjadinya peningkatan bencana alam hingga 16 lebih tinggi  jumlah kejadian bencana di tahun 2002,” kata Siti.

Ia juga mengharapkan agar dilakukan pendekatan holistik dalam konteks mengembalikan DAS dengan berbagai program kerja.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Ifale. Mereka dianggap punya dukungan yang luar biasa untuk melindungi hutan dan menjaga lingkungan sekitarnya.

“Terima kasih juga kepada Ibu Yulce W. Enembe selaku Ketua PKK Provinsi Papua, yang begitu semangat dan bagaimana gerakan ini didukung oleh lapisan ibu-ibu  di Tanah Papua, untuk menanam, mengelola, dan memelihara," kata Awoitauw.

Oleh karena itu, imbaunya, semangat itu terus digelorakan. Kala itu mereka yang hadir menanam ribuan pohon sagu. Sagu merupakan simbol bagi orang Papua.

Sebelumnya, 21 Juni 2018, Ondofolo Kampung Kehiran II menyerahkan 25 hektare lahan untuk dusun sagu untuk dikelola demi kepentingan masyarakat.

Pada lahan seluas itu, kata Ketua Kelompok Penggiat Sagu Pharaaisa Kampung Kehiran II, Alberth Suebu, diusulkan pembuatan hutan wisata, kampung sagu, dan tugu sagu.

Ketua Penggerak PKK Provinsi Papua, Ny. Yulce Enembe, mengatakan kegiatan seperti itu sangat diharapkan oleh masyarakat, sebab langsung bersentuhan dengan kepentungan mereka.

"Tidak hanya sebatas program-program saja,” kata Yulce Enembe. (*)

loading...

Sebelumnya

KNPI rekrut 8.000 sukarelawan PON

Selanjutnya

Penjual pernak-pernik Natal bisa beromzet jutaan rupiah

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34066x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19012x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17655x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe