Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Cari kepiting di Teluk Bintuni, satu nelayan dilaporkan hilang
  • Rabu, 05 Desember 2018 — 14:13
  • 427x views

Cari kepiting di Teluk Bintuni, satu nelayan dilaporkan hilang

Nasib malang menimpa seorang nelayan di Kabupaten Teluk Bintuni, Amsani (40 tahun). Ia dilaporkan hilang saat mencari kepiting di muara Sungai Sakaoni Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Sejak Sabtu (1/12/2018) nelayan itu belum kembali hingga saat ini dan belum diketahui penyebab hilangnya nelayan berusia 40 tahun itu.
Tim SAR dari Manokwari saat memantau dan mencari nelayan yang hilang sejak 1 Desember 2018 di Teluk Bintuni - Jubi/Hans Kapisa
Hans Kapisa
Editor : Dominggus Mampioper
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Manokwari, Jubi – Nasib malang menimpa seorang nelayan di Kabupaten Teluk Bintuni, Amsani (40 tahun). Ia dilaporkan hilang saat mencari kepiting di muara Sungai Sakaoni Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

Sejak Sabtu (1/12/2018) nelayan itu belum kembali hingga saat ini dan belum diketahui penyebab hilangnya nelayan berusia 40 tahun itu.

Tim Search and Rescue (SAR) gabungan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pos Bintuni dan Satpol Air Polres Teluk Bintuni masih melakukan pencarian.

Kepala Kantor SAR di Manokwari, George Merchy Randang, menyatakan kondisi membahayakan nyawa manusia telah dilaporankan  oleh salah seorang warga kepada tim siaga SAR di Teluk Bintui pada hari ini.

"Korban diduga hilang, karena sudah dua hari setelah bepergian menjaring kepiting di muara sungai Sakaoeni pada koordinat 2'1141.48"s-13'16'33.45"e dengan jarak 16,77 NM dan Heading 257,70," ujar George Randang, dalam rilisnya kepada Jubi, Senin (3/12/2018).

Untuk pencarian korban hilang lanjut dia, satu regu bantuan dari Kantor SAR Manokwari telah diberangkatkan dari Manokwari menuju Bintuni untuk membantu proses pencarian.

"Kami sudah kirimkan satu regu dari kantor SAR Manokwari ke Bintuni untuk bantu pencarian bersama dengan 3 anggota SAR pos Bintuni dan 2 anggota Sat Pol Air Polres Teluk Bintuni," ujarnya. 

Randang juga melaporkan keadaan cuaca di lokasi kejadian saat ini dalam kondisi hujan ringan, arah angin dari timur laut dengan kecepatan angin 20 km/jam.

Ia mengemukakan belum lama ini personilnya juga terlibat dalam pencarian seorang anggota polisi yang hilang dalam kecelakaan laut di Teluk Bintuni. Korban yang diketahui bernama Ipda Yusak Tomu anggota Polres Teluk Bintuni itu sudah ditemukan.

"Korban ditemukan Sabtu pekan lalu dalam kondisi sudah meninggal. Kami sudah serahkan kepada pihak Polres saat itu juga," katanya.

Ia berharap nelayan kepiting ini bisa segera ditemukan sehingga keluarga tenang

Berkaitan dengan kondisi membahayakan di sekitar perairan laut dan sungai, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Papua Barat dan kabupaten/kota diharapkan menyertakan rambu-rambu tanda bahaya, sehingga warga lebih berhati-hati dan waspada saat melakukan aktivitas, baik itu rekreasi atau melaut.

Kepala BPBD Papua Barat, Derek Ampnir, yang dikonfirmasi Jubi terkait dengan pemasangan rambu peringatan tanda bahaya di sejumlah lokasi pantai atau sungai yang berpotensi membahayakan jiwa manusia, merespons dengan jawaban akan dicek tugas pokok dan fungsinya.

"Nanti kami cek tupoksinya," ujar Derek Ampir, melalui pesan singkatnya kepada Jubi.

Kepiting bakau Bintuni

Kabupaten Teluk Bintuni terkenal dengan hutan bakau yang luas sehingga banyak nelayan dari Manokwari maupun daerah sekitarnya hendak mencari  kepiting bakau (Scylla sp) salah satu menu favorit pecinta seafood.

Sebagai salah satu daerah penghasil kepiting bakau di Indonesia, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat ditunjang dengan keberadaan hutan mangrove seluas ±260 ribu hektar dan mencakup 10 persen dari total luas hutan mangrove Indonesia sesuai data yang dikutip Jubi dari WWF Indonesia. Meningkatnya permintaan komoditas kepiting bakau ini memicu penangkapan yang berlebih di habitatnya.

Penangkapan kepiting bakau di Teluk Bintuni, khususnya di Kampung Banjar Ausoy didominasi oleh armada nelayan kecil ukuran di bawah 10 GT (Gross Ton). Dengan menggunakan mesin tempel ukuran 15 PK (Paarden Kracht/Tenaga Kuda). Nelayan kepiting bakau bisa melakukan aktivitas penangkapan sampai tiga hari berturut-turut di lokasi target, lalu kembali ke daratan atau fishing base.

Alat tangkap yang digunakan yaitu bubu, perangkap berbahan jaring yang khusus dibuat untuk menangkap kepiting. Terdapat 2 tipe bubu yang digunakan oleh nelayan Kampung Banjar Ausoy, yaitu bubu kotak dan wadong (berbentuk bulat). (*)

loading...

Sebelumnya

Keluarga korban pembunuhan dan perkosaan desak pedofil dihukum mati

Selanjutnya

Satupun pejabat daerah Papua Barat tak hadir, Panitia Fesitval Noken Arfak kecewa

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34065x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19010x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17654x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe