Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Suara dari anak noken
  • Kamis, 06 Desember 2018 — 10:15
  • 600x views

Suara dari anak noken

“Mama-mama Papua punya talenta merajut atau menganyam noken. Hasil karyanya dijual. Mereka tidak bisa menjual mie instan dan produk buatan pabrik. Hanya menjual pangan lokal, kerajinan noken, dan souvenir asli Papua, sehingga harus difasilitasi”
Perempuan Papua merajut dan menggelar noken saat peringatan Hari Noken, Selasa, 4 Desember 2018, di halaman auditorium Uncen Abepura – Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

PELATARAN auditorium Universitas Cenderawasih Abepura, masih tenang Selasa siang, 4 Desember 2018. Beberapa mahasiswa duduk di sisi kiri-kanan gedung, sedangkan di depan gedung pascarjana mereka duduk memagar.

Beberapa saat kemudian, selepas pukul 1 siang beberapa perempuan bermunculan. Satu per satu turun dari mobil blakos (belakang kosong) atau pick up. Ada juga yang berjalan kaki dari arah Jalan Raya Abepura-Sentani.

Mereka menenteng aksesoris, noken, pernak-pernak, dan kerajinan tangan lainnya. Langkahnya gagah.

Sembari menggelar lapak, seorang mama bolak-balik ke musem lokabudaya Uncen. Ia irit bicara. Hanya melempar senyuman dan sesekali menjawab pertanyaan Jubi.

“Noken ini mau dijual. Kalau trada yang beli ya kasih masuk lagi ke museum,” katanya, sambil berlalu menuju museum di wing kanan auditorium.

Selain noken, perempuan asal Waropen ini menggelar manik-manik, gelang akar kayu, dan kalung. Butuh beberapa hari dirinya membuat kerajinan tangan tersebut.

“Ini buatan kami sendiri. Kita harus bekerja keras untuk membangun kita punya tanah ini,” katanya.

Di depan stannya terpampang baliho. Besarnya seperti bentangan lapangan badminton. Bergambar perempuan asal pegunungan mengenakan noken di kepala. Hari Noken Seduni Ke-6.

Di bawah bentangan baliho mama-mama menggelar karpet sederhana. Menata noken.

Tangannya menusuk-nusuk benang pabrik. Duduk bersila. Menghadap gelaran noken dengan aneka motif dan ukuran. Ada yang polos, punya tulisan. Ada yang terbuat dari benang. Tak sedikit dari akar dan serat kulit kayu.

Matahari mulai condong ke arah barat. Sejumlah manusia mondar-mandir. Senyum-senyum di depan ponsel. Mata kedip-kedip. Sibuk swafoto. Di dalam frame kamera tampak latar belakang bentangan noken, mama-mama, baliho.

Seorang perempuan paruh baya mendekat. Namanya Nela Bobi. Saban hari menjual noken di bawah jembatan penyeberangan Uncen Abepura.

Mama Nela Bobi memerotes perilaku pengunjung, yang seolah-olah tak menaruh simpati pada mereka. Hanya sibuk foto sana-sini.

“Jangan hanya foto saja. Ini karena ada yang datang dari jauh, ada yang janda. Kitong hidup dari ini,” kata Mama Nela.

Saban hari mereka berjibaku di pinggiran jalan. Duduk melantai di bawah terik matahari. Menghirup debu-debu kota dan asap kendaraan. Mengais rezeki dari kaum berdasi, bersepatu, bertitel dan berduit. Kalau-kalau membeli karya tangan mereka.

Maka ungkapan kekesalan Mama Nela beralasan. Dia mengetuk nurani para pengunjung. Baginya dan mama-mama penjual noken lainnya, momen hari noken merupakan hari istimewa. Jika mereka menjual kerajinan tangannya di tepi jalan, emperan toko, maka pada peringatan Hari Noken tiap 4 Desember, ada yang merogohkan koceknya. Membeli karya tangan mereka.

“Ambil ka, satu ka, dua ka. Tapi orang yang datang hanya lihat-lihat, foto saja,” katanya.

Di depan musem Loka Budaya Expo-Waena, atau sekira seperempat jam dari Abepura, di Distrik Heram, sekelompok perempuan dan laki-laki mementaskan tari-tarian. Menyanyikan lagu-lagu daerah. Diringi tabuhan drum. Lengkap dengan pakaian adatnya. Serba merah. Kain timor dan selendang, serta mahkota cenderawasih.

Mereka adalah mahasiswa asal Papua Barat, tepatnya dari daerah Tambrauw, Maybrat, dan Sorong. Ingin berpawai menuju auditorium. Berpartisipasi pada momen istimewa ini.

Namun pawai urung dilakukan. Hanya menumpangi blakos. Entah alasannya. Mereka menghentak-hentakkan kakinya. Menyanyikan lagu daerah di atas mobil, sepanjang jalan Expo-Abepura. Beberapa personil polisi dengan mobil patroli mengkawal aksi mereka. Hingga tiba di halaman auditorium Uncen saat matahari sore membentur bubungan dan anterior auditorium.

“Sebagai generasi muda Tanah Papua, khususnya Sorong, Tambrauw, dan Maybrat ini sebagai jati diri dan identitas kita. Maka apa yang dilakukan oleh leluhur kita, harus kita ikuti,” kata Benediktus Bame, mahasiswa asal Tambrauw di Kota Jayapura.

Bame mengusulkan agar peringatan hari noken selanjutnya melibatkan semua komponen. Itu sebagai dukungan untuk melestarikan warisan leluhur orang asli Papua, hingga diakui dunia melalui UNESCO.

“Di Tambrauw noken disebut Ayuu, terbuat dari kulit kayu. Masyarakat biasanya potong kulit kayu dan mengajak anak-anak untuk ikut,” kata pemuda yang menjabat ketua PMKRI Jayapura itu.

Seorang pria muncul di tempat kegiatan selepas kegiatan di kampus USTJ, Padangbulan. Mengenakan kaus hitam, berkrah dengan bis merah. Di saku bagian kirinya bertuliskan “Gerakan Noken Papua”. Dipadukan dengan gambar pulau Papua. Sebagian tulisannya dipele ponsel yang dikantungkan. Namanya Titus Krist Pekei.

Pekei menyambangi Jubi. Mengingat-ingat momen bersejarah enam tahun lalu. Beliau mengantar tas tradisional OAP ini ke panggung dunia.

Berkat jasa anak Mee ini, 144 negara dalam Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan PBB bermarkas di Paris, Prancis, kala itu, 4 Desember 2012, menetapkan noken sebagai warisan budaya dunia takbenda. Noken yang diakui terbuat dari serat kayu dan kulit kayu yang dirajut dan dianyam.

Namun, kebanggaan itu seketika surut, sebab peringatan hari noken biasa-biasa saja. Hanya diikuti sekelompok orang. Mama-mama dengan nokennya, mahasiswa dengan pentas seninya, meski di beberapa tempat digelar diskusi publik.

“Ini kan tahun keenam. Berarti semua orang Papua sudah tahu dan noken sebagai warisan dunia. Harus bawa noken. Kalau ada rezeki lebih, memfasilitasi mama-mama untuk memeriahkan Hari Noken,” kata Pekei.

Ketua Noken Foundation ini berujar mama-mama Papua punya talenta merajut atau menganyam noken. Hasil karyanya dijual. Mereka tidak bisa menjual mie instan dan produk buatan pabrik. Hanya menjual pangan lokal, kerajinan noken, dan souvenir asli Papua, sehingga harus difasilitasi.

Ketika dunia mengakui warisan budaya OAP ini, pemerintah harus memberdayakan mama-mama penjual noken. Semua pihak harus bahu-membahu melestarikan noken. Bila perlu menanam pohon sebagai bahan baku. Pemerintah pun harus membudidayakan pohon dan tanaman baku pembuatan noken.

Selain itu, upaya pelestarian noken dilakukan dengan melestarikan dan melindungi hutan, membuat kurikulum lokal tentang noken. Dengan tidak menghargai noken, dia bahkan menilai, otonomi khusus di Papua gagal.

Dia bercerita, awalnya bakal diberikan penghargaan noken kepada sejumlah pihak. Baik instansi-instansi, maupun pejabat, aktivis, dan media massa. Namun penghargaan hanya diberikan kepada wali kota Sorong dan beberapa orang di Manokwari, Papua Barat.

“Yang terpenting sumbangsih mereka dan bagaimana sikap pemerintah terhadap noken ini,” ujarnya.

Peringatan noken menunjukkan bahwa orang Papua masih ada. Mereka masih punya tanah, adat, budaya, dan kekayaan alam yang harus dihargai dan dilindungi.

“Kami angkat tema lingkungan. Tema ini diangkat karena hutan tidak boleh dirusak. Hentikan pengrusakan hutan,” kata Dekler Yesnat, penanggung jawab Hari Noken ke-6 Tahun 2018.

Yesnat memberi apresasi kepada pihak-pihak, yang telah dengan caranya masing-masing, mendukung pargelaran Hari Noken 2018.

“Saya sangat apresiasi terhadap dukungan dari Dinas Perhubungan Kota dan Komunitas Kepi, Pramuka, PTPPMA, SKPKC Fransiskan, dan mahasiswa serta mama-mama Papua,” katanya.

Hingga ujung hari, matahari tak tampak lagi dari arah Sentani. Remang-remang lampu jalan menyinari halaman auditorium Uncen. Mama-mama Papua masih setia di depan noken-nokennya. Sedang para pengunjung melingkari kelompok mahasiswa asal Papua Barat, yang menyanyikan lagu daerah dan tarian. Diringi tabuhan drum dan tiupan suling. Saya lalu pulang, karena dikejar deadline. (*)

loading...

Sebelumnya

Sudah waktunya Papua berbicara bahasa Inggris

Selanjutnya

Media hoax, hantui jurnalis Papua

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34066x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19024x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17658x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe