Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Noken angkat perekonomian perempuan Papua
  • Jumat, 07 Desember 2018 — 09:53
  • 552x views

Noken angkat perekonomian perempuan Papua

Perempuan Papua menjadikan keterampilan menganyam noken sebagai modal mengangkat perekonomian keluarga. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Jayapura mendorong mereka agar bisa menghasilkan noken yang lebih berkualitas.
Mama Fransiska sedang melayani pembeli noken – Jubi/Ramah
Ramah
Editor : Syofiardi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

NOKEN hanya dibuat oleh Mama Papua. Pada kehidupan Papua yang tradisional, mama adalah pencari nafkah, seperti mengurus kebun hingga menjadi pedagang menjual noken.

Sellina Takimai, perempuan asal Kabupaten Paniai, mengatakan hasil berjualan noken setiap hari menjadi sumber mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Duduk tenang sambil tertunduk, jari-jarinya lincah merajut benang-benang sulam yang dibelinya di toko seharga Rp 20 ribu segulung.

Sesekali Takimai menyapa warga untuk menawarkan noken yang digelar di lantai. Ia mulai berjualan dari pukul 10 siang hingga pukul 5 sore.

Satu noken berukuran kecil dari benang sulam bisa ia selesaikan dalam dua hari. Sedangkan noken dari serat kulit kayu bisa diselesaikan seminggu.

"Karena dari serat kulit kayu harus dililit dulu baru disulam, kayunya cari di hutan, pakai kayu genemo, kalau cari kayu di hutan berangkat lima orang pergi pagi pulang malam," kata Takimai, saat ditemui di pasar tradisional Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Kamis, 6 Desember 2018.

Pendidikan yang mahal dan desakan ekonomi membuat Takimai tetap bersemangat berjualan meski pendapatan pas-pasan demi lima orang anaknya yang masih SD dan SMP.

Satu hari terkadang ia berpenghasilan Rp 100 ribu, bahkan hanya Rp 20 ribu. Harga noken yang ia jual mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu berbahan serat kulit kayu. Sedangkan noken dari benang sulam mulai Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu.

Ia mengaku kepandaian membuat noken karena sering melihat orang tuanya menyulam noken. Akhirnya ia belajar menggunakan kayu, kemudian dibentuk seperti jarum.

"Saya bikin noken tidak diajarkan, tapi bikin sendiri sambil melihat Mama merajut noken, belajar noken dari SD, awalnya hanya main-main, tidak serius," kenangnya tertawa.

Takimai menceritakan pertama kali merajut noken agak susah. Namun bila sudah terbiasa akhirnya menjadi lancar.

"Biasanya pembeli orang yang mau berangkat ke luar Papua untuk dijadikan oleh-oleh,” katanya.

Ia sudah berjualan di Jayapura selama empat tahun. Sebelumnya berjualan noken di Wamena dua tahun.

“Mau makan apa kalau tinggal di rumah, suami masih ada," ujarnya.

Di lokasi berjualan yang sama, Fransiska Badi, perempuan asal Kabupaten Pania, juga berjualan noken, baik dari kulit kayu maupun benang sulam.

"Lakunya tidak menentu, nasib-nasiban saja, kadang satu hari dapat Rp 100 ribu, kadang hanya Rp 50 ribu," ujar Badi.

Noken hanya bisa ditemui di Papua, kata Badi, tidak ada di tempat lain. Itulah sebabnya UNESCO menetapkan noken sebagai warisan budaya tak benda pada 4 Desember di Paris, Perancis.

Badi belajar menganyam noken dari orang tuanya sejak Sekolah Dasar.

"Dulu belum ada jarum, tapi anyam noken dari bambu yang dibuat menyerupai jarum untuk menyulam noken, waktu itu sangat susah, sekarang sudah enak ada jarum," katanya.

Kini untuk satu noken benang sulam bisa ia selesaikan tiga hari. Sedangkan noken dari kulit kayu dikerjakan dua hingga tiga minggu tergantung ukuran. Benang sulam dibeli di toko seharga Rp 20 ribu satu gulung dan kulit kayu dicari sendiri di hutan.

Badi menjual nokennya dengan harga bervariasi. Noken kulit kayu Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu dan dari benang sulam Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu.

Jika ada acara, Badi dan kawan-kawan selalu menjual nokennya di sana untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Ibu dua anak ini mengaku dari hasil jualan noken bisa membantu perekonomian keluarga seperti membiayai anak sekolah dan kebutuhan makan sehari-hari.

Lince Wenda yang sedang berbelanja noken dari benang sulam mengatakan noken sudah menjadi warisan dunia dan harus tetap disosialisasikan sebagai souvenir khas Papua agar bisa dinikmati banyak orang.

"Saya beli noken rajut dari benang sulam,menurut saya harga jual noken sudah pas karena pengerjaanya membutuhkan waktu yang lama, apalagi noken dari serat kulit kayu, wajar kalau harganya mahal," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Jayapura, Robert L. N. Awi, mengatakan sebagai upaya melestarikan budaya asli Papua, dinasnya telah melakukan pembinaan kepada mama-mama Papua dalam merajut noken.

Meski sudah mahir, tutur Awi, program merajut noken bagi warga di kampung dan kelurahan di kota merupakan pelatihan agar lebih meningkatkan keterampilan teknis, mutu, dan proses pemasaran.

"Sebagai dinas teknis kami bertanggung jawab melakukan pembinaan kepada mama Papua untuk bisa membuat noken dengan kualitas baik," ujarnya.

Menurut Awi, noken tidak hanya mencerminkan keberadaan budaya Papua, tapi juga menjadi bahan untuk mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Papua, karena memiliki nilai ekonomi.

"Agar menghasilkan noken berkualitas dan bermutu kami mendatangkan pelatih yang sudah berpengalaman dalam setiap pelatihan merajut noken," katanya.

Agar menambah nilai jual noken, perlu dimodifikasi dengan memberikan warna dan bentuk sehingga tampak menarik agar mendapatkan dampak kehidupan yang baik dengan peningkatan ekonomi.

"Kita harus memiliki kemampuan untuk merajut noken dengan baik, mendapatkan bahan baku yang baik dari kulit kayu maupun benang wol dengan cepat dan tepat sehingga pertumbuhan perekonomian perempuan Papua lebih baik lagi," ujarnya. (*) 

 

loading...

Sebelumnya

Konflik Nduga, Pertamina tunggu situasi kondusif untuk distribusi BBM

Selanjutnya

Realisasi penerimaan pajak baru capai 61 persen

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34421x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23018x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18979x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe