Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ikke Dogopia, perempuan Mee tampil beda di Festival Noken Arfak
  • Jumat, 07 Desember 2018 — 12:10
  • 662x views

Ikke Dogopia, perempuan Mee tampil beda di Festival Noken Arfak

Ikke hadir di festival noken dengan mengenakan baju, anting, noken, dan sepatu hasil rajutan tangannya sendiri. Penampilan perempuan Mee ini menarik perhatian tamu dan para peserta festival untuk mengabadikan momen tersebut.
Ikke Dogopia, perempuan suku Mee yang tampil dengan baju rajutan dalam Festival Rajut Anyam Noken Arfak di Manokwari - Jubi/Hans Arnold Kapisa
Hans Kapisa
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Manokwari, Jubi - Ikke Dogopia, perempuan suku Mee dari Kabupaten Paniai Papua, tampil beda dalam Festival Rajut Anyam Noken Arfak, yang digelar oleh Yayasan Gubuk Arfak. Festival  ini diselenggarakankan untuk memperingati hari noken sedunia pada 4 Desember lalu di Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat. 

Ikke hadir di festival noken dengan mengenakan baju, anting, noken, dan sepatu hasil rajutan tangannya sendiri. Penampilan perempuan Mee ini menarik perhatian tamu dan para peserta festival untuk mengabadikan momen tersebut.

Ikke Dogopia secara singkat berkisah tentang motivasinya untuk bergelut di dunia rajutan selain belajar dari orangtua yang juga mahir dalam merajut noken. Namun lebih dari itu ia berpandangan bahwa noken adalah jati diri orang Papua khususnya kaum perempuan (mama) yang mengandung dan melahirkan generasi Papua. Namun ada banyak versi yang dapat mengartikan noken sesuai budaya dan tradisi masing-masing daerah di tanah Papua.

Ikke Dogopia, pertama kali menekuni pekerjaan rajut-merajut noken sejak usia 15 tahun di Jayapura. Ia mengawali dengan merajut noken dan hasil rajutannya itu dijual di pinggir jalan, tepatnya di Abepura dan emperan toko di sekitar Waena. 

Memasuki usia 20-an tahun, kata Ikke, mulai meningkatkan kemampuannya sehingga bukan saja merajut noken tapi juga dapat merajut sepatu dan baju. Dia mengklaim sebagai perempuan Papua pertama yang bisa merajut sepatu dari bahan dasar benang. Motif rajutannya, sempat ditiru oleh pekerja rajutan di Jakarta sampai sekarang.

"Saya yang pertama buat sepatu rajutan, kemudian diikuti oleh mama-mama dan pegiat rajutan lainnya di Jayapura, bahkan sampai motif rajutan sepatu saya ditiru oleh perajut sepatu di Jakarta," ujarnya.

Soal penghasilan yang diperoleh dari hasil jualan rajutan miliknya, Ikke katakan dalam sebulan bisa meraup keuntungan Rp 5 juta sampai Rp 10 juta, dari hasil jualan di pinggir jalan maupun hasil dari pemesan.

"Pendapatan normal per bulan bisa lima sampai 10 juta rupiah. Kalau ada festival saya bisa mendapat keuntungan sampai Rp 15 juta," ujarnya.

Selain kemahiran dan kreatifitasnya, Ikke juga memilih benang berbahan policerry yang khusus untuk merajut baju dan sepatu, sehingga nyaman saat dikenakan.

Bincang soal kedatangan Ikke ke Manokwari, dia akui baru saja datang ke Manokwari pertengahan tahun 2018 ini untuk kembangkan usaha rajutannya. Di Manokwari, Ikke punya cita-cita untuk membuka buka lapak untuk menjual hasil karya rajutannya dan berencana akan buka peluang untuk membina generasi muda Papua di Manokwari. Hanya saja impiannya itu masih kandas di fasilitas tempat.

"Saya punya keinginan bisa buka satu lapak atau galleri di Manokwari dan buat pelatihan untuk kaum muda Papua khususnya perempuan untuk belajar merajut baju dan sepatu. Tapi saya belum punya fasilitas dan juga belum punya tempat,” ujarnya.

Dia yakin, tidak akan bersaing dengan hasil karya rajutan asli Arfak di Manokwari, tapi dia ingin mengajak mama mama Papua asli Arfak dan remaja untuk berani berbuat lebih dari biasanya, yaitu merajut baju dan sepatu.

Saat di Jayapura, kata Ikke, baju rajutan berbahan policerry yang dibuat olehnya sudah beberapa kali dipesan dalam acara wisuda dan fashion show dan teknis pesanannya dibuat dalam satu paket.

"Satu paket pesanan yaitu baju, sepatu, anting, dan noken harganya Rp 3 juta. Kalau hanya baju biasanya Rp 1,5 sampai Rp 2 juta. Harga sepatu rajutan, untuk sepatu tinggi (boat) Rp 500 ribu, kalau sepatu rendah (biasa) Rp 300 ribu, anting Rp 30 ribu untuk benang, dan Rp 50 ribu untuk rajutan tali," ujarnya.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan rajutan juga sesuai pesanan, biasanya, kata dia, untuk baju rajutan bisa menghabiskan waktu tiga minggu dan paling lama sampai satu  bulan, sepatu rajutan tiga hari, dan noken bisa dirajut dalam sehari.

"Pesanan cukup banyak, tapi karena saya sendiri sampai kewalahan juga memenuhi pesanan pelanggan, makanya kerja juga agak lambat," kata Ikke.

Selain rajutan baju berbahan dasar policerry, dia juga unggulkan rajutan dari bahan tali alam untuk rajutan rok wanita dan merajut noken ukuran besar atau yang biasanya disebut sebagai selimut karena bisa dikenakan di bagian atas kepala dan menutup seluruh tubuh.

Dia berharap melalui festival noken Arfak di Manokwari bisa memacu semangat mama-mama Papua khususnya asli Arfak untuk bisa meningkatkan kualitas rajutan, sehingga nilai ekonomis (harga) juga bisa dinaikkan untuk menambah penghasilan. 

"Saya sudah buktikan, sekarang tinggal kemauan dan kreatifitas kita saja. Jangan tunggu orang lain tiru kita punya karya baru kita beli dari mereka tapi akan lebih bermartabat kalau kita sendiri yang buat dan hasilnya juga untuk kita sendiri anak-anak Papua,“ kata Ikke.

Ketua Yayasan Gubuk Arfak, selaku penanggung jawab iven tersebut, Septi Meidodga,  mengatakan lima tahun sejak Unesco akui noken sebagai warisan budaya Papua, di Papua Barat belum pernah mengadakan iven seperti yang dilakukan oleh pecinta noken di Jayapura. 

Bagi Septi, selaku putra asli suku Arfak di Manokwari, bahwa menjaga noken berati menjaga Papua. Noken sendiri memiliki multi arti, tapi sesungguhnya budaya itu harus tetap terjaga dan secara turun-temurun.

"Jaga noken, jaga Papua, sehingga mama-mama pengrajin noken yang hadir dalam festival noken Arfak adalah perempuan-perempuan hebat yang menciptakan penjaga Papua yaitu generasi penerus budaya kita," ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

“Ayo, Pakai Noken!”

Selanjutnya

Warga Merauke kaget, Satpol PP gelar operasi yustisi

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34421x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23018x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18979x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe