Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Bantuan alat pemintal benang noken untuk pengrajin Utikini
  • Sabtu, 08 Desember 2018 — 16:32
  • 725x views

Bantuan alat pemintal benang noken untuk pengrajin Utikini

"Alat pemintal benang ini menjadi inovasi sederhana yang memiliki dampak besar dalam proses pembuatan noken. Cara penggunaan alat pemintal benang ini cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta proses pemintalan benang serat kayu yang lebih singkat sehingga pada gilirannya mampu memotong waktu produksi noken," ujar Dina.
Noken Papua dari akar anggrek – Jubi/isroi.com
ANTARA
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jakarta, Jubi - Noken, kerajinan rajutan asal Papua cukup familiar bagi masyarakat Indonesia. Selain benang, serat kayu dan akar anggrek juga digunakan sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi beragam hasil kerajinan tangan, khususnya tas. Namun, belakangan berkembang tren pembuatan noken yang menggunakan bahan baku benang yang terbuat dari berbagai macam jenis, tidak lagi memanfaatkan serat kayu atau akar anggrek.

Untuk itu, Freeport Indonesia beserta mitranya yang melakukan pendampingan di masyarakat mencoba berinovasi guna mencari solusi pengolahan benang serat kayu guna memudahkan produksi noken.

Inovasi yang dilakukan adalah alat pemintal benang sederhana yang menggunakan dinamo seperti yang dipergunakan pada alat mesin jahit.

Perusahaan tersebut bersama dengan Yayasan Nirudaya menyalurkan alat pemintal benang serat kayu untuk digunakan para mama Papua di kampung Utikini Baru, Timika, Papua.

Dina Lakupais, pendamping pengrajin noken binaan Freeport Indonesia, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (7/12/2018), mengatakan penggunaan serat kayu dianggap tak lagi efisien oleh pengrajin noken karena waktu pengerjaan yang memerlukan waktu yang lama.

"Alat pemintal benang ini menjadi inovasi sederhana yang memiliki dampak besar dalam proses pembuatan noken. Cara penggunaan alat pemintal benang ini cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta proses pemintalan benang serat kayu yang lebih singkat sehingga pada gilirannya mampu memotong waktu produksi noken," ujar Dina.

Maria Kwiyami, salah seorang pengrajin noken di Utikini Baru, mengatakan mesin pemintal tersebut memudahkan para mama Papua dalam kegiatan membuat noken.

"Untuk memintal benang ini, dahulu generasi orang tua kami memintal menggunakan tangan, tapi sekarang dengan alat ini, kami bisa memintal lebih cepat," kata Maria, yang ikut hadir pada Festival Filantropi Indonesia (Fifest 2018) di JCC Senayan, Jakarta (15 November 2018) lalu.

Secara tradisional, tambahnya, benang untuk membuat noken diambil dari serat kayu yang dipilin dengan tangan, helai demi helai hingga akhirnya menjadi benang. Proses inilah yang mendorong pembuatan noken memerlukan waktu yang cukup lama, bahkan proses pemilinan benang saja bisa memakan waktu hingga dua bulan.

"Jadi setelah ada alat ini, proses memintal benang bisa selesai hanya dalam waktu satu sampai dua minggu. Kalau menunggu proses secara manual bisa sampai satu atau dua bulan. Itu pun baru benangnya saja," katanya.

Untuk proses sampai menjadi tas rajut noken, tambahnya, dulu saat masih dikerjakan secara manual bisa memerlukan waktu hingga tiga bulan.

Maria menyebutkan bantuan alat pintal ini telah diperolehnya selama sekitar tiga bulan (sejak Agustus). Selama jangka waktu itu, dirinya merasakan peningkatan dari sisi perekonomian keluarga dan usahanya yang turut didorong oleh proses produksi yang bisa berlangsung lebih cepat.

Ketua Yayasan Nirudaya, Martin Asda, mengatakan proses pemintalan manual selain lama juga cukup menyakitkan bagi para Mama Papua karena harus memilin kulit kayu yang kasar hingga menjadi lebih halus, tak jarang, proses ini menyebabkan luka di tangan para pengrajin. Oleh karena itu pihaknya memberikan bantuan berupa alat mesin pemintal benang untuk pengrajin noken.

"Ide awalnya ini memang merupakan aspirasi dari para mama Papua agar mereka mendapatkan mesin pemintal benang untuk noken, karena kulit kayu itu kan kasar, ketika dipelintir tak jarang membuat mereka, itu proses yang menyakitkan," katanya.

Sejak 2017 akhir Yayasan Nirudaya mulai merancang program untuk menciptakan dan mendistribusikan alat pintal dan 2018, alatnya sudah mulai didistribusikan. Bersama PT Freeport Indonesia maka pihaknya menyediakan alat pemintal, juga membina warga di Kampung Utikini Baru sebagai pengrajin noken. Sejak Agustus 2018, telah 13 orang mama Papua di desa Utikini Baru menerima bantuan berikut pelatihan produksi noken, serta mengembangkan desa tersebut sebagai desa noken.

Sebagai desa noken, ujar Martin, nantinya Kampung Utikini Baru tidak hanya akan memproduksi noken dalam bentuk tas, namun juga berbagai produk turunannya seperti pakaian hingga hiasan rumah. (*)

loading...

Sebelumnya

Penerimaan CASN Papua masih “KJ”

Selanjutnya

Kampanye lingkungan lewat Festival Cycloop

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34140x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 20488x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17845x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe