Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Kupu-kupu sayap burung di Arfak, terancam punah
  • Senin, 10 Desember 2018 — 00:09
  • 813x views

Kupu-kupu sayap burung di Arfak, terancam punah

Selain itu, kata Wika, beberapa tekanan pun diidentifikasi di kawasan Pegunungan Arfak seperti invasi spesies eksotik yang mengancam spesies endemik, kebakaran hutan, penebangan liar hingga longsor yang terjadi di beberapa titik.
Konsultasi publik NKT (Nilai Konservasi Tinggi) flora-fauna di Kabupaten Pegunungan Arfak oleh WWF program Papua bersama mitra dan Pemkab Pegunungan Arfak. (Jubi/dokumentasi WWF-program Papua)
Hans Kapisa
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Arfak, Jubi - Survei NKT (Nilai Konservasi Tinggi) atau High Conservation Value Forest di Kabupaten Pegunungan Arfak oleh WWF dan sejumlah pihak terkait, melaporkan  bahwa selama dilakukan survei tidak ditemukannya jenis kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera) baik jantan maupun betina, meski jenis tumbuhan yang menjadi pakan kupu-kupu tersebut masih tersedia.

"Survei NKT pada bulan Agustus lalu, kami menemukan walaupun  pakan kupu-kupu jenis sayap burung (Ornithoptera) tersedia, sayangnya dalam survei itu tidak ditemukan jenis kupu-kupu yang dilaporkan van Mastrigt, H dkk (2010) di wilayah Pegunungan Arfak baik jantan maupun betina. Ini dimungkinkan karena habitat kupu-kupu itu terganggu,” ujar Wika Rumbiak,  Acting West Papua Landscape Manager, WWF Indonesia - Papua Program di Manokwari belum lama ini.

Selain itu, kata Wika, beberapa tekanan pun diidentifikasi di kawasan Pegunungan Arfak seperti invasi spesies eksotik yang mengancam spesies endemik, kebakaran hutan, penebangan liar hingga longsor yang terjadi di beberapa titik.

Kondisi tersebut disampaikan Wika dalam konsultasi publik NKT kepada Pemerintah Daerah pihak terkait di Kabupaten Pegunungan Arfak.

“Untuk itu melalui konsultasi publik ini juga diharapkan ada persamaan pemahaman antar pemangku kepentingan dalam menyikapi tekanan terhadap kawasan Pegunungan Arfak serta pelaksanaan pembangunan yang dapat bersinergi dengan prinsip-prinsip keberlanjutan untuk menjaga keseimbangan ekologi,” ujarnya seperti dalam rilis yang diterima Jubi.

Konsultasi publik ini, lanjut Wika, bertujuan untuk mensosialisasaikan hasil dan temuan survei di lapangan tentang NKT yang telah dilakukan pada bulan Agustus lalu di tiga kabupaten di Provinsi Papua Barat yakni Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Tambrauw dan satu Kabupaten Supiori di Provinsi Papua.

"Survey NKT merupakan tindak lanjut dari komitmen Pemprov Papua Barat sebagai provinsi konservasi yang menargetkan peningkatan luas kawasan lindung di provinsi Papua Barat. Untuk mendorong upaya tersebut, WWF-Indonesia bersama Pemprov Papua Barat berinisiatif untuk meningkatkan fungsi lindung sebesar 3-5 persen di kabupaten-kabupaten tersebut,” ujarnya .

Peningkatan fungsi lindung yang dimaksud, telah sejajar dengan temuan di lapangan selama survei berlangsung atas beberapa jenis spesies endemik baik flora dan fauna yang bernilai penting untuk menjaga fungsi ekologi lingkungan juga bermanfaat secara sosial budaya masyarakat tradisional yang mendiami wilayah tersebut. 

"Melalui survey NKT identifikasi dilakukan atas enam atribut pendukung NKT yakni  kawasan yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati penting, kawasan bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami, kawasan yang mempunyai ekosistem langka atau terancam punah, kawasan yang menyediakan jasa-jasa lingkungan alami, kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal dan kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk identitas budaya tradisional komunitas lokal,” ujar Wika.

Dalam konsultasi publik NKT itu, juga dipaparkan teknis pelaksanaan survei, termasuk metodologi serta ancaman ataupun tekanan yang diidentifikasi dalam survey tersebut. 

Selain WWF, survei NKT di Pegaf ini juga melibatkan Universitas Papua, Universitas Cenderawasih, Universitas Ottow Geissler, Litbang Kehutanan Manokwari dan Yayasan Paradisea dan didukung penuh oleh pemerintah kabupaten Tambrauw, Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak.

Bupati Kabupaten Pegunungan Arfak Yosias Saroi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak sepenuhnya mendukung  kegiatan survei hingga pelaksanaan konsultasi publik NKT (Nilai Konservasi Tinggi) yang telah dilakukan di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak. 

"Pemda Pegaf akan memberikan dukungan untuk keberlanjutan dari hasil survei NKT ini, sehingga tidak selesai sampai di tingkat konsultasi publik tapi akan disesuaikan dengan program pembangunan di Pegaf yang sampai saat ini masih prioritaskan pembangunan infrastruktur jalan dan sarana penunjang lainnya,” ujar Saroi. (*)

loading...

Sebelumnya

Perlu pengawasan ketat jaga kelestarian hiu

Selanjutnya

Berbenam di Pasir Enam

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe