Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Lepra muncul kembali di PNG
  • Senin, 10 Desember 2018 — 06:38
  • 535x views

Lepra muncul kembali di PNG

“Seseorang yang sangat memerlukan obat itu, bisa saja berjalan kaki selama satu hari untuk mencari klinik, hanya untuk diberitahu bahwa obatnya untuk satu bulan ke depan tidak ada,” tutur dr Martin.
Gambar Sinar-X dari seorang penderita lepra. - Australian National University/ Development Policy Centre Blog/ National Museum of Health and Medicine/Flickr/CC BY 2.0.
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Selasa, 15 Januari 2019 | 10:26 WP
Features |
Senin, 14 Januari 2019 | 05:50 WP
Features |
Rabu, 09 Januari 2019 | 08:32 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Doug Hendrie

Saat abad ke-21 baru saja dimulai, Papua Nugini mendeklarasikan penyakit kusta atau lepra telah berhasil dieliminasi dari negaranya.

Ia dieliminasi – tapi tidak dieradikasi. Akibat jumlah penderitanya yang turun di bawah nilai batasan, yang ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) - 1 dari 10.000 - pemerintah PNG mengalihkan pembiayaan bidang kesehatan yang terbatas, untuk mendanai penanggulangan penyakit lainnya. Namun penyakit kusta tidak pernah benar-benar punah. Delapan belas tahun setelah deklarasi tersebut, penyakit kusta telah kembali ke negara tetangga terdekat Australia itu.

Dulunya bekerja sebagai dokter umum (GP) sebelum pensiun, dr Colin Martin, Ketua dari organisasi Leprosy Mission Australia, mengungkapkan kepada newsGP bahwa “Penyakit lepra tidak pernah benar-benar dibasmi di PNG. Tempat itu sangat sulit, banyak lembah-lembah dengan akses buruk. Pemerintah memprioritaskan penanggulangan HIV, TB, dan malaria. Lepra tidak dilihat dengan urgensi yang serupa. Namun dari perspektif lainnya, penyakit ini juga sama tingkat keparahannya oleh karena dampaknya: stigma, dislokasi sosial, dan disabilitas”.

Sekarang, penyakit kusta mulai tersebar kembali, terutama di kawasan hunian miskin di pinggiran ibu kota negara itu, Port Moresby, dan di desa-desa terpencil. Kusta memiliki prevalensi lebih tinggi di antara kaum perempuan dan anak-anak dan tersebar melalui hidup bersama dengan penderita kusta.

Pengadaan dan distribusi diperkirakan merupakan hambatan terbesar. Ada berkarton-karton obat antibiotik yang disimpan di kota-kota besar, namun untuk mendistribusikannya ke daerah-daerah terpencil di sepanjang sungai atau di daerah pegunungan yang berkabut, dan ini adalah hambatan yang sangat menantang.

“Seseorang yang sangat memerlukan obat itu, bisa saja berjalan kaki selama satu hari untuk mencari klinik, hanya untuk diberitahu bahwa obatnya untuk satu bulan ke depan tidak ada,” tutur dr Martin.

Di PNG, pekerjaan organisasi Leprosy Mission termasuk mendiagnosis orang-orang, serta merawat dan memberikan pelatihan vokasi untuk pasien yang terkena penyakit itu. Untuk pasien yang terlambat didiagnosis dengan lepra, organisasi ini juga memberikan bantuan dalam hal menyediakan peralatan, mengatur pelaksanaan operasi bedah rekonstruktif, bahkan menyediakan pasokan kacamata hitam, bagi mereka yang sudah kehilangan kemampuan untuk menutup kelopak mata, akibat kronisnya keadaan kesehatan mereka.

Rosa Koian adalah seorang manajer proyek dengan Leprosy Mission, khusus untuk di daerah PNG. Koian melaporkan bahwa kantornya di Port Moresby , elah mendapatkan 400 kasus baru dalam beberapa tahun terakhir ini. “Banyak penderita penyakit ini yang tidak terdeteksi penyakitnya”, jelasnya kepada newsGP. “Kita juga bertemu dengan beberapa anak yang tidak mau pergi ke sekolah, karena guru-guru dan staf sekolah takut penyakit itu akan tersebar ke anak-anak lainnya. Sejauh ini kita sudah berhasil mengembalikan empat anak ke sekolah. Orang-orang PNG hidup dalam lingkungan yang sempit dan padat. Orang yang terkena lepra tinggal dengan keluarganya - dan itulah bagaimana bakteri penyebab kusta menyebar. Beberapa keluarga yang datang kepada kita itu, semua anggota keluarganya sudah terjangkit.”

Saat Rosa, atau salah satu dari 52 pekerja lapangan organisasi itu di Port Moresby memiliki alasan yang kuat, bahwa seseorang dalam komunitas terkena lepra, mereka lalu mendorong orang itu untuk datang ke klinik.

“Sebagian dari mereka takut, sebagian kelihatan malu setelah didiagnosis. Mereka tidak ingin masyarakat untuk tahu. Sebagian lagi tidak tahu harus berbuat apa,” Rosa menceritakan.

Ketika Rosa melihat seseorang yang ia curigai mengidap kusta, ia pergi untuk duduk dengan mereka, sampai dokter tiba untuk melakukan pemeriksaan. Sementara mereka menunggu dokter, ia memberikan berita baik kepada pasien itu. Penyakit ini bisa disembuhkan, jika dirawat sejak awal, sebelum kerusakan saraf permanen terjadi.

“Jika kita mengobati penyakit ini sedini mungkin, kita bisa menyelesaikan masalah kesehatan ini.”

Sementara itu dr Martin dari Leprosy Mission Australia menyambut penuh sukacita berita baik, bahwa WHO sedang berusaha untuk meningkatkan berbagai macam upaya, dalam perang melawan penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical diseases; NTDs), dimana penyakit kusta adalah salah satu yang juga diidentifikasi karena perlu penanggulangan.

“Dalam hal tahun hidup tuna upaya (disability-adjusted life years; DALYS) penyakit tropis yang terabaikan melampaui AIDS dan TB. Namun di negara-negara miskin dimana penyakit ini tersebar, ia tidak dilihat sebagai wabah, layaknya HIV, dan ia juga tidak mematikan, layaknya TB,” jelas dr Martin.

“Setelah menggunakan terapi aneka obat (multidrug), infeksi itu berhenti dalam 48 jam, dan dalam satu tahun, selama pasien konsisten dalam mengikuti terapi, infeksi ini dapat sembuh. Pekerjaan kita selesai. Untuk pasien dengan penyakit lepra, jika penderita didiagnosis dan menerima perawatan dini sebelum kecacatan timbul, maka mereka dapat sembuh. Namun jika penderita datang dengan jari-jari tangan seperti sedang mencakar, ia akan memiliki kecacatan itu sepanjang hidupnya.” (Development Policy Centre Blog, Australian National University 7/12/2018)


Doug Hendrie adalah Associate Editor di newsGP

loading...

Sebelumnya

Prancis dituduh targetkan pemimpin partai pro-kemerdekaan

Selanjutnya

Negara-negara anggota PNA perjuangkan hak atas ZEE

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Rabu, 09 Januari 2019 WP | 6001x views
Polhukam |— Selasa, 08 Januari 2019 WP | 5639x views
Mamta |— Kamis, 10 Januari 2019 WP | 4973x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe