Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Sepinya museum Uncen
  • Senin, 10 Desember 2018 — 09:09
  • 789x views

Sepinya museum Uncen

“Museum Loka Budaya Uncen sudah dikenal luas oleh akademisi luar negeri. Juga menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Hal itu disebabkan karena museum Uncen telah masuk dalam buku Lonely Planet, buku yang menjadi referensi wisatawan dunia.”
Salah satu koleksi di Museum Loka Budaya Uncen – Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor : Dominggus Mampioper

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SAYA tak menemukan orang di sini. Di ruangan depan tertulis "tamu wajib lapor", tapi tak satu orang pun. Beberapa saat kemudian seorang pria muncul dari ruangan samping. Lalu saya meminta izin untuk melihat koleksi pada galeri yang tertata rapi.

“Ini tempat untuk umum, masuk saja,” kata pria yang menghampiri saya, Selasa siang, 4 Desember 2018.

Namanya Enrico Yory Kondologit. Ia adalah Kurator Museum Loka Budaya Uncen sejak tahun 2014. Kondologit masih muda. Belum berkepala empat. Terlihat dari rautnya tatkala menyambut saya dengan senyum ramah.

Saya pun dipersilakan memasuki galeri dan melihat berbagai koleksi. Di dalam ruangan tertata sejumlah koleksi. Ada ukiran-ukiran, lukisan kulit kayu, gerabah, perlengkapan perang, manik-manik, perahu, budaya, kain timor, dan benda-benda lainnya. Di sini terdapat 2.500 koleksi, tapi hanya 900 yang ada di ruangan pameran.

“Terdiri atas peralatan hidup, peralatan perang, alat musik, alat transportasi, aksesoris, dan religi, yang terbagi wilayah gaya seni, Dafonsoro Sepick, Saireri, Kepala Burung Bomberai, Pantai Selatan, dan Pegunungan Tengah,” kata Enrico Kondologit.

Dia belum memastikan jumlah pengunjung hingga awal Desember 2018. Tampaknya pengunjung sepi. Padahal baru direvitalisasi tahun 2014/2015.

Letaknya berada di pusat “Kota Pelajar”, Distrik Abepura. Museum yang koleksinya dikurasi Enrico, berdiri berdampingan dengan auditorium Uncen, Jalan Raya Abepura-Sentani, Kota Jayapura.

Awalnya museum ini dimaksudkan untuk menyimpan ukiran-ukiran Asmat. Tahun 1961 peneliti Amerika Serikat, Michael Rockefeller, hilang karena perahunya terbalik saat menyeberangi sungai Betsj, Kabupaten Asmat. Gubernur New York, Nelson Rockefeller, tahun 1974, mengagas pembangunan museum untuk menyimpan ukiran-ukiran yang ditemukan untuk mengenang anaknya itu. Hingga tahun 1981 museum dibuka dan serahkan ke Universitas Cenderawasih di bawah Lembaga Antropolgi Uncen.

Lembaga Antropologi kemudian digabung menjadi Pusat Penelitian Uncen pasca penetapan Peraturan Pemerintah RI Nomor 5 Tahun 1980 Tentang Pokok-Pokok Organisasi Universitas/Institut Negeri. Sementara museum dengan koleksi benda-benda etnografi ini menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) sesuai SK Rektor tertanggal 4 Juli 1990 nomor 1698/PT.23.H/C/1990.

“Kami adalah UPT,” katanya.

Soleman Soindemi, yang menjabat Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT Museum Loka Budaya Uncen mengatakan Rockefeller menginginkan agar anaknya ditemukan. Namun, anak yang meninggal dalam kecelakaan perahu tidak ditemukan, sehingga benda-benda yang ditemukan dalam ekspedisi pegunungan dan Asmat Papua disimpan di museum ini.

Museum loka budaya bahkan menjadi laboratorium bagi mahasiswa sejarah, bahasa, dan antropologi. Meski terdapat ratusan hingga ribuan koleksi dari 270-an suku di tujuh wilayah adat, koleksi museum Uncen didominasi ukiran-ukiran Asmat.

“Sekarang orang mulai memahami sehingga datang ke sini untuk mempelajari itu,” kata Soindemi.

Meski ada mahasiswa yang mengunjungi museum itu, lanjutnya, lebih banyak pengunjung dari luar negeri. Terutama pada bulan Maret, April, dan Mei saban tahun.

Hal senada di katakan peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto. Menurut Hari, museum Loka Budaya Uncen sudah dikenal luas oleh akademisi luar negeri. Juga menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Hal itu disebabkan karena museum Uncen telah masuk dalam buku Lonely Planet, buku yang menjadi referensi wisatawan dunia.

Museum Lokabudaya Uncen juga memiliki koleksi lebih lengkap dibandingkan dengan Museum Loka Budaya Expo-Waena, di Distrik Heram.

Punya museum terlengkap menjadi keunggulan bagi universitas negeri pertama di Tanah Papua ini dibandingkan dengan universtitas-universitas lainnya. Meski demikian, dia menyarankan agar koleksinya ditambah.

Pasalnya banyak benda-benda budaya Papua yang dikoleksi di luar negeri. Museum Loka Budaya Uncen bisa berperan menyelamatkan benda-benda budaya Papua yang akan dijual atau ke luar negeri.

“Untuk mengembangkan museum Loka Budaya Uncen tidak hanya pihak Uncen saja yang berperan, perlu dukungan Pemerintah Provinsi Papua,” ujar Hari.

Hari mengatakan benda-benda budaya dan artefak diduga dijual ke wisatawan asing. Setiap tahun ditengarai ada pembeli dari luar negeri yang datang ke Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka membeli artefak yang ditemukan masyarakat di dalam air danau.

“Di museum Loka Budaya Uncen ada sebuah tiang rumah tradisional Sentani yang diambil dari dalam danau dan tiang tersebut akan dikirim ke Jerman, tetapi berhasil disita dan disimpan di museum Uncen,” katanya.

Yosef Wally, seorang sarjana administrasi negara, menjadi pegawai di museum Uncen sejak tahun 1981. Dia baru pensiun tahun 2018. November lalu beliau baru merayakan ulang tahun ke-59.

Paitua Wally bercerita, Museum Loka Budaya Uncen dibangun Pemerintah Indonesia tahun 1970. Praktis satu tahun setelah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), dengan sponsor UNESCO. Diresmikan 1 Oktober 1973 oleh Dr. Ida Bagus Mantra, Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan Publik.

Selama 26 tahun mengabdi di museum ini, dirinya tak menemui banyak pengunjung. Hanya turis barat. Itu pun mereka yang sudah uzur.

Maka dari itu, ia menyarankan agar anak-anak muda Papua harus mengunjungi museum. Dengan itu, mereka dapat mempelajari banyak hal tentang Papua.

“Kalau tidak itu omong kosong,” kata Wally. (*)

loading...

Sebelumnya

Berbenam di Pasir Enam

Selanjutnya

Budaya maritim di pesisir utara Papua (2)

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe