Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Opini
  3. Budaya maritim di pesisir utara Papua (2)
  • Senin, 10 Desember 2018 — 20:03
  • 386x views

Budaya maritim di pesisir utara Papua (2)

“Fungsi perahu bagi masyarakat pesisir utara Papua sebagai alat lalu lintas melalui air. Ada pula perahu yang khusus dipakai dalam rangka berdagang, berperang, menangkap ikan, dan untuk ke kebun. Perhiasan perahu adalah suatu seni mengukir dan melukis, yang telah dikenal oleh nenek moyang pada masa lampau untuk memperindah haluan dan buritan pada bagian badan perahu”
Perahu bercadik masyarakat Papua di pesisir utara yang menjadi koleksi musem Loka Budaya Uncen – Jubi/Timo Marten
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Rabu, 16 Januari 2019 | 09:13 WP
Features |
Selasa, 15 Januari 2019 | 10:26 WP
Features |
Senin, 14 Januari 2019 | 05:50 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh Hari Suroto

Dalam melakukan usaha penangkapan ikan, nelayan Pulau Liki masih menggunakan sarana yang masih bersifat tradisional dan nelayan-nelayan masih melakukannya dengan cara subsistem atau hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka saja. Model penangkapan seperti ini dilakukan secara turun-temurun dan dengan alat tangkap sederhana. Perahu yang digunakan adalah jenis perahu dayung kecil.

Sumber daya ikan dan non ikan dari kawasan Kabupaten Sarmi telah lama dimanfaatkan baik secara tradisional. Nelayan tradisional biasanya memanfaatkan sumberdaya tersebut secara subsistem dan dilakukan secara turun temurun dengan menggunakan alat tangkap sederhana.

Lokasi penangkapan ikan serta non ikan baik bagi nelayan tradisional maupun komersial dapat dibedakan atas beberapa wilayah, yaitu, (1) Perairan lepas pantai yang merupakan lokasi penangkapan nelayan komersial; (2) Sepanjang pesisir pantai yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal dan kapal komersial penangkap udang; (3) daerah terumbu karang yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal dan komersial; (4) Laguna yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal pada perairan tawar.

Bagi nelayan tradisional, daerah penangkapan ikan umumnya berdekatan dengan daerah pemukiman mereka, dan hal ini berhubungan pula dengan alat transportasi yang digunakan masih sangat sederhana (kole-kole) sehingga tidak dapat menjangkau daerah-daerah penangkapan yang agak jauh. Bagi nelayan yang telah melengkapi perahunya dengan motor tempel dapat menjangkau daerah tangkapan yang jauh dengan waktu tempuh yang lebih singkat serta produksi tangkapan yang tinggi.

Lokasi penangkapan di laguna, estuari dan sungai kecil tidak dikenal musim penangkapan. Pada daerah penangkapan tersebut nelayan tidak mengenal bulan-bulan istirahat dalam menangkap ikan pada setiap tahun. Ini disebabkan perairan tersebut terlindung dari pengaruh musim angin barat, sehingga nelayan dapat melakukan aktivitas penangkapan sepanjang tahun. Pola penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan yaitu dengan melihat kondisi pasang surut. Kegiatan penangkapan ikan umumnya dilakukan pada saat surut.

Alat transportasi yang digunakan adalah perahu dayung ukuran kecil yang hanya memuat untuk dua orang. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring insang (gillnet) yang digunakan untuk menangkap ikan dan alat pengait berbentuk cagak untuk menangkap kepiting. Lokasi penangkapan pada perairan tawar juga tidak mengenal musim penangkapan dan sepanjang tahun masyarakat dapat melakukan kegiatan penangkapan. Akan tetapi jauhnya lokasi penangkapan dari pemukiman penduduk mengakibatkan penangkapan pada periaran ini jarang dilakukan.

Pada beberapa lokasi penangkapan dikenal adanya musim penangkapan selama satu tahun, terutama pada perairan yang terbuka dengan Samudra Pasifik. Selama satu tahun dikenal dua kali terjadi pergantian musim, yakni musim angin barat (musim ombak) dan musim angin timur (musim teduh).

Pada musim angin barat, kondisi perairannya berombak dan disertai dengan angin kencang, sehingga nelayan lebih banyak tidak melaut dan melakukan pekerjaan-pekerjaan di darat (berkebun). Berbeda halnya dengan musim angin timur, kondisi perairannya relatif tenang sehingga nelayan lebih mudah menjangkau daerah penangkapan dengan risiko yang kecil dan biasanya hasil tangkapannya berlimpah.

Walaupun ada pengaruh musim, pada beberapa lokasi kegiatan penangkapan masih dapat dilakukan terutama pada perairan yang agak terlindung, seperti perairan terumbu karang, daerah teluk, sungai-sungai kecil. Posisi pulau dan esturi yang strategis cukup memberikan perlindungan kepada nelayan tradisional utnuk memanfaatkan sumberdaya perikanan dengan perahu sampan yang kecil.

Pada bulan Juni hingga September (pada musim timur) merupakan musim kegiatan penangkapan yang memungkinkan nelayan untuk mendapatkan hasil penangkapan yang cukup banyak. Sedangkan pada bulan Oktober hingga Desember (pada musim barat) kegiatan penangkapan ikan oleh masyarakat hampir tidak dilakukan karena gelombang yang besar dan angin dilaut yang cukup kencang.

Selain musim, aktivitas kegiatan harian nelayan lebih banyak ditentukan oleh pengaruh pasang surut. Pada saat surut sebagian daerah sungai dan esturi akan mengalami kekeringan sehingga ikan lebih terkonsentrasi pada daerah tertentu, dan hal ini membuat kegiatan penangkapan menjadi lebih mudah. Kondisi surut ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memasang perangkap pada sungai-sungai kecil.

Hasil perikanan di kawasan Kabupaten Sarmi terdiri dari berbagai jenis ikan baik yang berasal dari perairan laut, esturi, dan air tawar. Ikan air tawar yang dominan yang terdapat pada beberapa sungai di Sarmi adalah ikan gabus dan ikan sembilang (Arius spp), sedangkan jenis ikan yang hidup pada perairan esturi berasal dari jenis-jenis ikan yang dapat bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang ekstrim dan lebih bersifat sebagai penghuni tidak tetap (sedentary organism), misalnya bobara (Carangoides sp.) dan bulanak (Mugil cephalus) serta Bandeng (Chanos chanos).

Sebanyak 23 jenis ikan air tawar yang ditangkap oleh nelayan di Sarmi, yaitu Anguila bicolor, arius solidus, Arius uterus, Arius velutinus, Neosilurus novaeguinea, Chilaterina fasciata, Glossolepis multisquamatus, Melanotaenia praecox, Melanotaenia vanheurni, Hephaestus transmontanus, Glosamia beauforti, Giurus margaritaceus, Mogunda nesolepis, Oxyyeleotris fumbriata, Axyeleotris heterodon, Eugnathogobius tigrellus, Glossogobius bulmeri, Glossogobius koragensis, Cyprinus caprio, Barbodes gonionotus, Puntius orphoides, Clarias batrachus, Oreochromis mossambica.

Kepiting juga merupakan produk tangkapan nelayan tradisional. Kepiting yang bernilai ekonomis penting terdistribusi pada perairan esturi (mangrove) dan perairan laut, yaitu kepiting bakau (Sctlla serata) dan rajungan (Potunus sp). Kepiting bakau umumnya ditangkap dengan alat pengait yang terbuat dari bahan logam tetapi kadangkala juga tertangkap dengan jaring, sedangkan rajungan lebih banyak tertangkap dengan jaring insang dasar.

Komoditas perikanan lain dari kawasan Kabupaten Sarmi adalah lobster yang terdiri dari dua jenis udang jarak (Panulirus polyphagus), udang bunga/raja (P. Longicep). Dua jenis ini sudah diusahakan secara ekonomis oleh nelayan-nelayan tradisional di Pulau Wakde dan Liki. Di Pulau Wakde sendiri sudah ada pedagang pengumpul lokal yang siap menampung hasil tangkapan nelayan. Untuk mendapatkan lobster ini dilakukan dengan cara menyelam.

Dari berbagai jenis moluska yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp) dan berbagai kerang-kerangan baik yang ditemukan di daerah bakau, maupun di terumbu karang seperti Nerita sp, Litorina sp, Tebrallia, Strombus sp dan Telescopium sp serta Trocus niloticus.

Fungsi perahu bagi masyarakat pesisir utara Papua sebagai alat lalu lintas melalui air. Ada pula perahu yang khusus dipakai dalam rangka berdagang, berperang, menangkap ikan, dan untuk ke kebun. Perhiasan perahu adalah suatu seni mengukir dan melukis, yang telah dikenal oleh nenek moyang pada masa lampau untuk memperindah haluan dan buritan pada bagian badan perahu.

Motif hias perahu suku Sobey terdiri atas terumbu karang, ikan, burung, manusia, cicak, anjing, kura-kura. Warna motif hias perahu dibuat dengan pewarna dari alam. Warna merah dari tanah liat. Hitam dari jelaga dicampur dengan getah pohon. Warna putih dari getah pohon dicampur kapur.

Perahu digunakan untuk berlayar antarpulau. Perahu juga digunakan untuk mengangkut komoditas barang yang dibarter seperti gerabah. Perempuan menggunakan perahu untuk pergi ke muara sungai atau rawa bakau untuk mencari kepiting, udang, atau kerang. Perahu berukuran besar digunakan untuk berdagang antarpulau. Perahu ini bercadik dan menggunakan layar yang terbuat dari anyaman daun tikar. Perahu suku Sobey memiliki satu cadik.

Warisan turun-temurun dari nenek moyang turut membentuk kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan. Hal paling mudah dijumpai adalah adanya mitos mengenai hantu laut. Orang-orang pesisir utara Papua sangat percaya bahwa laut memiliki kekuatan gaib yang dapat  menjadi sumber kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang tetap menjaga keselarasan dengan "penguasa" laut. Sebaliknya akan mendapat bencana seperti gelombang tinggi, cuaca buruk, orang yang mati tenggelam atau diserang ikan hiu, serta berkurangnya hasil tangkapan ikan bagi nelayan.

Ada kawasan pulau, pantai dan laut yang disakralkan yang dijaga oleh suanggi -- setan laut. Setiap orang yang melewati kawasan itu harus memberi salam dan mempersembahkan saji-sajian. Tidak boleh berbuat jahat seperti membuang sampah, berkata kotor, menangkap penyu, dan dilarang melaut kalau melihat ikan paus.  

Adanya tradisi dalam bentuk mitos dan simbol-simbol dari alam yang diwariskan dari nenek moyang tersebut telah membentuk kebiasaan atau pengalaman masyarakat tentang "hari baik" beraktivitas di laut dengan memprediksi kondisi alam seperti iklim, arus, gelombang, adanya migrasi burung-burung untuk menentukan lokasi kumpulan ikan, jenis ikan, penyu bertelur, dan kondisi biota laut lainnya.

Bidang perikanan tangkap Kabupaten Sarmi keanekaragaman jenis ikan yang sering ditangkap sangat tinggi, seperti ikan tenggiri, ikan tuna, serta ikan kakap merah. Potensi perikanan tangkap di Kampung Sawar salah satunya cukup besar namun belum ditingkatkan mengingat alat tangkap yang digunakan masih tradisional. Dan juga nelayan baik di Kampung Sawar dan Pulau Liki tidak memakai rumpon sebagai tempat mencari ikan. Hasil tangkapan nelayan hanya untuk kebutuhan saat itu juga, belum ada upaya untuk ditingkatkan pada produksi yang lebih besar.

Pemerintah setempat bahkan membangun sebuah pasar ikan khusus di Kampung Sawar, namun tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terbengkalai begitu saja, karena nelayan setempat hanya menjual ikan di depan rumah masing-masing.

Bentuk kebudayaan maritim di pantai utara Papua meliputi mata pencaharian hidup, pengetahuan tradisional terkait dengan maritim, peralatan hidup, dan kearifan lokal dalam pelestarian sumberdaya maritim. Bentuk perahu dan dayung daerah pesisir, sungai, dan danau berbeda. Perahu daerah pesisir memiliki cadik sebagai penyeimbang, ukuran perahu beragam sesuai dengan fungsinya.

Perahu yang digunakan di daerah sungai dan danau berbentuk seperti lesung. Tradisi maritim di pantai utara Papua mengenal kearifan lokal dalam mengatur, mengelola, memanfaatkan, serta ikut melestarikan sumber daya laut dan pesisir. (*)

Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

loading...

Sebelumnya

Budaya maritim di pesisir utara Papua (1)

Selanjutnya

Sampai kapan pembunuhan menjadi cara menyelesaikan masalah di Papua?

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Rabu, 09 Januari 2019 WP | 6003x views
Polhukam |— Selasa, 08 Januari 2019 WP | 5639x views
Mamta |— Kamis, 10 Januari 2019 WP | 4974x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe