Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Cerita mereka yang dirampok hutannya
  • Senin, 10 Desember 2018 — 17:37
  • 1126x views

Cerita mereka yang dirampok hutannya

Air yang dulunya bisa diambil langsung untuk minum, kini tercemar limbah perusahaan.
Warga sipil korban pelanggaran kejahatan lingkungan saat memberikan keterangan kepada wartawan – Jubi/David Sobolim
David Sobolim
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi- Menyikapi peringatan hari Hak Asasi Manusia ( HAM) sedunia, organisasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua, Yayasan Pusaka, SOS Tanah Papua, KPCK GKI Tanah Papua, LBH Papua, dan PAHAM menghadirkan beberapa korban perusahaan dari sejumlah kabupaten di Propinsi Papua. Para korban bercerita bagaimana hutan dan alam mereka dirampok oleh perusahaan.

Linus Omba dari Kabupaten Boven Digoel, menjelaskan bagaimana perusahan Korindo Grup yang datang bertemu satu orang, lalu menebang pohon dan membawanya keluar dari wilayah itu.

“ Adat kami itu musyawarah lalu mufakat untuk kepentingan umum, tetapi PT.Korindo Grup datang ke satu orang dan membayar hak ulayat untuk menggambil kayu di hutan kami” kata Linus Omba, Senin (10/12/2018) di Jayapura.

Bonefasius Basik-basik ketua marga Basik-basik dan Kamijari, menambahkan perusahaan kelapa sawit dan penebangan kayu telah beraktivitas sejak dari 2012 sampai 2018. Sejak 2017, dia dan masyarakat sudah mengajukan pembayaran kepemilikan ulayat. Tetapi hingga kini belum ada jawaban dari perusahaan.

Masyarakat larang perusahaan untuk bawah kayu yang sudah ditebang. Kayu-kayu tersebut sudah mulai membusuk. “Akhirnya PT. ACP dan PT.APF membayar uang Natal,” kata Basik-basik.

Namun menurutnya, akibat penebangan dan pembukaan lahan baru itu, mulai berdampak ke masyarakat setempat. Air yang dulunya bisa diambil langsung untuk minum, kini tercemar limbah perusahaan.

Adolfina Kuum Aktivis dari Timika menjelaskan bagaimana kehidupan masyarakat Kamoro dan Amungme yang begitu berupa akibat kehadiran PT. Freeport Indonesia. Kerusakan alam akibat ulah PTFI sampai hari ini masih berdampak pada masyarakat setempat.

Aish Rumbekwan dari Walhi Papua menambahkan, kehadiran perusahaan-perusahaan di wilayah itu tidak memberikan rasa aman terhadap masyarakat asli papua. Negara pun tidak nampak melindungi warganya.

“Dan ekspansi hutan Papua dalam skala besar, memberikan keuntungan besar dalam pendapatan negara. Tetapi Negara belum memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,”ujarnya. (*)


 

 




 

loading...

Sebelumnya

Festival Noken momentum selamatkan hutan Papua

Selanjutnya

Pemerintah didesak selesaikan kejahatan lingkungan dan HAM

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe