Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Masyarakat Biak harus pertahankan tradisi dan budaya maritim
  • Rabu, 12 Desember 2018 — 09:04
  • 516x views

Masyarakat Biak harus pertahankan tradisi dan budaya maritim

Tineke Rumkabu, seorang mama Papua yang ikut dalam rombongan perahu Wairon dari Provinsi Papua ke Aletau, Provinsi Milne Bay, berharap generasi muda suku Byak harus mulai belajar budaya maritim dan mempertahankan tradisi asli.
Perahu Wairon tiba di Provinsi Oro disambut Gubernur Oro -Jubi/Dok

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Tineke Rumkabu, seorang mama Papua yang ikut dalam rombongan perahu Wairon dari Provinsi Papua ke Aletau, Provinsi Milne Bay, berharap generasi muda suku Byak harus mulai belajar budaya maritim dan mempertahankan tradisi asli.

“Selama berlayar ke sana saya memberikan pemahaman budaya kepada anak-anak muda yang ikut dalam perahu Wairon,” katanya, kepada Jubi di Jayapura, Kamis (11/12/2018).

Dia menambahkan perahu Wairon sekarang berada di Kampung Maiwara di Aletau, Provinsi Milne Bay, dan tahun depan 2019 baru mengikuti festival perahu perang dan tifa di Provinsi Milne Bay.

“Oleh karena itu bagi masyarakat Biak perlu adanya kesadaran untuk mencintai budaya dan membangun kecintaan akan dunia maritim,” katanya, seraya menambahkan orangtua dulu berlayar hanya mengandalkan astronomi bintang di langit dan mengarungi gelombang laut.

Dia juga menambahkan selama berlayar di atas perahu Wairon mereka semua melakukan wor untuk memacu semangat mengarungi laut di Papua New Guinea dari  Pulau Kar-kar, Lae, ke Wewak hingga Provinsi Oro, dan terakhir 1  Desember 2018 tiba di Pulau Samarai, salah satu pulau terujung dari Provinsi Milne Bay.

“Tahun depan kita akan mencoba untuk membangun tiga perahu Mansusu dan Wairon untuk mengikuti festival perahu perang dan tifa di Kampung Maiwara, Aletau di Milne Bay,” katanya.

Pertukaran budaya

Dikutip dari Post Courier, Wairon mengakhiri perjalanan epiknya dari Pulau Biak, Jayapura, Papua Barat, sampai Pulau Samarai, kemudian Alotau dan akhirnya Kampung Maiwara pada Senin, 3 Desember 2018, dalam kondisi cuaca yang sangat panas di tengah terik matahari.

Para awak perahu Waiorn bertemu dengan Wali Kota Aletau, Gita Elliot, dan kelompok budaya Milne Bay yang menyambut kedatangan perahu.

“Selamat datang dan dimandikan sinar matahari yang cemerlang,” kata Wali Kota Aletau.

Usai bertemu dengan Wali Kota Aletau, perahu Wairon kemudian berlayar ke Desa Budaya Maiwara, tempat Festival Kano Perang Huhu.

Para prajurit berbaju pendayung yang mengayuh perahu dari perahu Lopos perahu perang dari Kampung Maiwara menyambut kedatangan perahu Wairon dari Papua Barat.

Selain terik matahari, badai petir besar di langit terbuka menyambut para pejuang pelaut dari perahu Wairon.

Memang Wairon tidak tiba pada waktu yang tepat pada Festival Perahu Perang dan Tifa pada 3 November 2018. Sehingga tahun 2019 pada November barulah perahu Wairon ikut berpartisipasi karena saat ini perahu Wairon sedang berlabuh dan tinggal di Kampung Maiwara di Aletau.

"Namun kedatangan Anda sangat istimewa karena itu menandakan datangnya hujan setelah kekeringan panjang minggu ini di Alotau," kata Wali Kota Aletau.

Sementara itu, Apolos Sroyer dan juga manawir BYak dan budayawan Dennis Koibur berbicara melalui penerjemah Rosa Moiwend mengatakan mereka sangat terkesan dengan dua sambutan yang diberikan kepada mereka.

Keduanya menyatakan rasa terima kasih mereka kepada saudara-saudara mereka di Melanesia.

Sementara itu, Ketua Festival Perahu dan Tifa Milne Bay, Harold Tabua, menyambut Wairon dan para anggota kru ke Alotau.

Tabua mengatakan itu sangat memuaskan melihat mereka tiba di Alotau untuk mengakhiri perjalanan panjang dan sulit mereka.

Perahu Wairon

Perahu Waiorn dibangun sejak 2015 dengan ukuran perahunya, panjang 34,9 meter dan lebar 85 centimeter sedangkan tinggi satu meter.

Menurut Denis Koibur, pembuatan perahu Wairon memakan selama waktu tiga tahun. Pada 2015 mulai memotong kayun untuk badan perahu. Penyusunan papan badan perahu tahun 2016 dan diresmikan 2017.

Sedangkan ukiran badan perahu terdapat dua jenis ukiran yang mengambarkan dualisme,  pertama ukiran Arbur dan kedua ukiran Uryas.

“Arbur mengambarkan tentang seluruh kekuatan di darat. Uryas mengambarkan tentang seluruh kekuatan di laut,” kata antropolog Denies Koibur, seraya menambahkan Wairon memiliki kekuatan empat ton mengangkut barang. (*)

loading...

Sebelumnya

Kisah penjual jagung rebus mengantarkan anaknya jadi polisi

Selanjutnya

Bingkisan Natal bagi OAP di kampung-kampung

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe