Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Penelitian situs arkeologi dikelola untuk publik
  • Kamis, 13 Desember 2018 — 10:27
  • 455x views

Penelitian situs arkeologi dikelola untuk publik

Hasil penelitian terhadap situs-situs purbakala di sejumlah daerah di Tanah Papua diharapkan dikelola baik dan dapat berguna bagi kepentingan masyarakat.
Pemateri dan peserta foto bersama usai seminar nasional "Belajar Masa Lalu untuk Mengawal Masa Depan" di  Waena, Distrik Heram, 11-12 Desember 2018 - Jubi/David Sobolim

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Hasil penelitian terhadap situs-situs purbakala di sejumlah daerah di Tanah Papua diharapkan dikelola baik dan dapat berguna bagi kepentingan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Arkeologi (Balar) Papua, Gusti Made Sudatmika, kepada Jubi di Kota Jayapura, Rabu (12/12/2018), usai seminar nasional "Belajar Masa Lalu untuk Mengawal Masa Depan" di  Waena, Distrik Heram, 11-12 Desember 2018.

Selama dua hari, di hadapan peneliti Universitas Gajah Mada Yogyakarta, UKSW Salatiga, dan beberapa pihak di Tanah Papua, peneliti dari Balar Papua memaparkan hasil penelitiannya sepanjang tahun 2018 di Pulau Mor Nabire, Raja Ampat, Sentani, Keerom, Kaimana, dan Teluk Berau, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

"Hasil penelitian banyak yang dikelola tentu masuk dalam karya tulis. Jurnal. Kedua diolah lagi untuk kepentingan masyarakat," kata Made Sudatmika.

Ia mengatakan jika hasil penelitian tersebut hanya untuk dibuat jurnal atau buku, maka itu terbatas pada kalangan tertentu.

Misalnya untuk dimuat dalam pelajaran muatan lokal, tempat-tempat wisata," katanya.

Soal situs megalitikTutari di Doyo Lama, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, misalnya. Balar sudah mengusulkan agar kawasan itu menjadi cagar budaya. Diusulkan ke Badan Pembinaan dan Peneltian, lalu ke Dirjen Kebudayaan. 

"Memang prosesnya panjang. Kami sudah lakukan. Meski belum ada, tapi dari data arkeologi Tutari menjadi cagar budaya karena ditangani Dinas Kebudayaan Provinsi Papua," kata Made.

Di tempat yang sama, akademisi Universitas Kristen Satya Satya Salatiga, Harry Turman Simanjuntak, usai memaparkan materinya "Migrasi Awal Manusia di Papua" mengatakan peneliti harus berdialog dengan masyarakat. Mereka berdialog dan bercerita, melalui hasil pengamatan terhadap tinggalan yang ditelitinya.

"Bukan tinggalannya yang bercerita. Penelitinya menangkap itu semua dan menceritakannya," katanya.

Harry mengatakan sejak 12 ribu tahun lalu, para ahli sudah melihat kekhasan populasi di dunia. Populasi yang mendiami Asia Tenggara, Melanesia Barat, dan Australia. (*)

loading...

Sebelumnya

Pesawat Alfa Trans tergelincir di Bandara Kasonaweja

Selanjutnya

Momen natal bagi mahasiswa Hubula di Jayapura

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe