Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Tim evakuasi gabungan Pemda Nduga mulai diturunkan
  • Kamis, 13 Desember 2018 — 19:45
  • 2145x views

Tim evakuasi gabungan Pemda Nduga mulai diturunkan

Tujuan kami ke sana untuk mencari empat orang yang dinyatakan hilang hingga kini, sehingga kita akan berupaya untuk mencari informasi keberadaan mereka apakah dalam keadaan hidup atau sudah meninggal
Wakil Bupati Nduga, Wentius Nimiangge bersama Kapolres Jayawijaya, Yan Pieter Reba saat melepas tim evakuasi berangkat ke Mbua-Jubi/Islami
Islami Adisubrata
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Selasa, 15 Januari 2019 | 10:26 WP
Features |
Senin, 14 Januari 2019 | 05:50 WP
Features |
Rabu, 09 Januari 2019 | 08:32 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi - Tim evakuasi gabungan dari Pemerintah Daerah Nduga, DPRD, pihak gereja, mahasiswa, telah turun ke sejumlah distrik di Nduga pada Kamis (13/12/2018). Mereka menggunakan 22 kendaraan roda empat jenis double cabin,

Kedatangan tim ini untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang berada di distrik Mbua, Yal, Dal dan Yigi karena dikabarkan telah mengungsi dan berlari ke hutan untuk menyelamatkan diri.

Wakil Bupati Nduga, Wentius Nimiangge sebelum melepas rombongan di halaman gereja Kingmi Klasis Baliem Tengah Jemaat Weneroma, Sinakma Jayawijaya mengatakan, tim ini turun guna mencari fakta di lapangan untuk meralat kembali semua informasi yang berkembang saat ini karena isu yang terjadi dianggap semakin tidak jelas.

“Tujuan kami ke sana untuk mencari empat orang yang dinyatakan hilang hingga kini, sehingga kita akan berupaya untuk mencari informasi keberadaan mereka apakah dalam keadaan hidup atau sudah meninggal,” katanya.

Apalagi menjelang natal, Wentius Niminagge mengungkapkan pemerintah daerah ingin mencari masyarakatnya yang masih bersembunyi di hutan, agar bisa dikembalikan ke rumahnya masing - masing untuk mempersiapkan diri menyambut natal.

Apalagi, lanjutnya, masyarakat juga memiliki andil besar dalam agenda besar yakni Pilpres dan Pileg maka pemerintah harus memanggil mereka kembali.

“Ada beberapa distrik yang kami dengar masyarakatnya masih mengungsi ke hutan,” katanya.

Wabup juga belum dapat memastikan hingga kapan tim ini akan melakukan evakuasi, pasalnya semua tergantung dari situasi di lokasi dan juga cuaca yang sering berubah- ubah.

Kapolres Jayawijaya AKBP, Yan Pieter Reba mengungkapkan hal ini wujud pemerintah untuk hadir melayani masyarakat, dengan melibatkan dan menggerakkan hati masyarakat lainnya untuk menolong dan mencari warga yang hingga kini masih mengungsi.

“Ini salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah, namun yang paling diharapkan bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dan aman supaya masyarakat bisa kembali bekerja dan merayakan natal,” kata Reba.

Menurut dia, masalah yang sudah terjadi diharapkan tidak terulang kembali dan harus ditutup serta memanggil kembali masyarakat untuk hidup bersama- sama dan melakukan pembangunan di seluruh wilayah Nduga yang dikehendaki masyarakat.

“Tim yang sudah ada ini merupakan implementasi pemerintah daerah, merespon dan mengambil sikap untuk melakukan penanggulangan dan evakuasi masyarakat yang mengungsi,” ujar Reba.

Koordinator Klasis Gereja Kingmi Kabupaten Nduga, Pdt. Nataniel Tabuni mengaku bahwa hamba Tuhan tidak akan berpihak kepada siapapun baik itu TPNPB atau TNI-Polri.

Dimana, kata pendeta Tabuni, pertama kali ia mendengar tentang kejadian di wilayah Klasis Yigi Timur, ada pendeta dan seorang pengungsi yang dikejar-kejar oleh TPNPB.

“Saya menyeberang dan bertemu dengan pendeta dan pengungsi yang melarikan diri, besoknya kami membuat patok tanda salib dan bendera gereja untuk menandakan tidak boleh TPN OPM melakukan penyerangan ke Distrik Mbua, namun TPN OPM melarang dan mencabut bendera itu,” ujarnya.

Pasca penyerangan itu, kata Pdt Nataniel tepatnya 2 Desember 2018, dan awal masyarakat mengungsi itu mulai saat Pos TNI diserang oleh kelompok bersenjata imbas dari peristiwa yang ada di Yigi pada 1 Desember, sebelumnya pihaknya juga sempat mendapat ancaman dari kelompok ini hingga terjadi masalah seperti ini.

“Untuk korban dari masyarakat saya tidak tahu dan saya hanya bisa mengatakan apa yang saya tahu,” kata pendeta Tabuni. (*)



 

loading...

Sebelumnya

Proyek jalan Wamena-Nduga akan diserahkan kepada TNI

Selanjutnya

Tujuh pekerja di Distrik Yigi berhasil dievakuasi

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Rabu, 09 Januari 2019 WP | 6003x views
Polhukam |— Selasa, 08 Januari 2019 WP | 5639x views
Mamta |— Kamis, 10 Januari 2019 WP | 4974x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe