Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Meepago
  3. Meki Nawipa bicara Kopi, pendidikan, HIV hingga “Paniai Berdarah”
  • Kamis, 13 Desember 2018 — 21:07
  • 743x views

Meki Nawipa bicara Kopi, pendidikan, HIV hingga “Paniai Berdarah”

Masyarakat Paniai ini tidak bisa jaga kios, tidak punya kesabaran. Yang bisa menolong orang Paniai adalah sesuatu yang dia tanam
Bupati Paniai, Meki Nawipa (melihat ke arah kamera) saat mengunjungi stand sumber daya manusia di acara Bursa Inovasi Desa di Aula Bupati Paniai, Madi, Selasa (11/12/2018) - Jubi/Zely Ariane
Zely Ariane
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Selasa, 15 Januari 2019 | 10:26 WP
Features |
Senin, 14 Januari 2019 | 05:50 WP
Features |
Rabu, 09 Januari 2019 | 08:32 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Enarotali, Jubi - Bupati Kabupaten Paniai, Meki Nawipa, berjanji memastikan sektor-sektor penting pembangunan masyarakat berjalan maksimal dalam lima tahun pemerintahannya.

Janji itu dia katakan di hadapan 216 kepala kampung, ketua-ketua Bamuskam (Badan Musyawarah Kampung) dari 23 distrik di Kabupaten Paniai, pimpinan Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD), Lembaga Non-Pemerintah (NGO), dan para undangan,

Di antara sektor yang akan menjadi prioritas, Bupati sekaligus pilot pesawat terbang ini berkali-kali menekankan soal pengembangan kopi dan instruksinya agar kampung-kampung yang sesuai dengan kondisi, diwajidkan menanam kopi. Dia bahkan menegaskan bagi yang tidak melakukannya, akan terancam dicopot dari jabatan.

Di sela-sela waktunya, setelah membuka acara dan meninjau program-program di Bursa Inovasi Desa di Aula Kantor Bupati Paniai, Madi, Selasa (11/12/2016), Jubi berkesempatan mewawancarai orang nomor satu Paniai yang baru terpilih dari ajang Pilbub kabupaten yang masuk kategori daerah "Pilkada rawan" ini.

Bupati Meki Nawipa menjelaskan kebijakannya terkait alasan memilih budidaya kopi sebagai prioritas ekonomi rakyat, peningkatan sumber daya manusia bagi Orang Asli Papua (OAP), persoalan kesehatan dan tindak lanjut kasus Paniai Berdarah 8 Desember 2014.

Berikut petikan wawancaranya.

Jubi (J): Bapak Bupati berkali-kali menekankan soal pentingnya budidaya kopi menjadi prioritas aktivitas ekonomi kampung, apa alasannya?

Meki Nawipa (MW): Masyarakat Paniai ini tidak bisa jaga kios, tidak punya kesabaran. Yang bisa menolong orang Paniai adalah sesuatu yang dia tanam, dia tinggalkan, nanti datang lagi. Kehidupan dia itu begitu.

Nah, kopi adalah emas hijau. Hari ini kita tanam, 20-30 tahun kedepan kita masih bisa panen. Karena itu kopi harus dikembangkan. Anak-anak kita nanti masih bisa nikmati.

Yang kedua, karena peminat kopi di dunia ini makin naik. Terus kopi di Inggris kita bisa jual 300 ribu, di AS 450 ribu, di Jakarta 150-200 ribu. Itu artinya orang sudah mulai lupa isap rokok, dan mulai pikir minum kopi. Karena kopi berguna untuk kesehatan dan daya tahan tubuh meningkat. Jadi seiring dengan bisnis juga.

Saya pikir kopi adalah salah satu komoditi unggulan yang bisa kita bangun di Paniai sehingga generasi kita kedepan bisa bangga mengatakan orang tua kita hari ini audah tanam kopi dan sekarang kita sukses.

J: Bapak juga berkali-kali tekankan soal pentingnya peningkatan sumber daya manusia. Terkait itu, dari laporan-laporan yang kami tulis dalam berita keadaan sekolah di Paniai secara khusus, dan Papua secara umum, sangat memprihatinkan. Apa yang membuat bapak berbeda dengan kebijakan peningkatan SDM yang akan bapak lakukan?

MN: Pertama soal pendidikan kita harus meyakinkan diri dulu bahwa kita benar-benar ada di sini. Saya sendiri anak guru, jadi saya tahu betapa susahnya orang tua saya pada saat itu. Sekarang semua sudah ada tinggal bagaimana membangun sistemnya.

Sementara ini saya sedang bangun sistem di Sekda. Kalau ini bisa jalan baik, saya perketat. Guru yang tidak mengajar kita pecat saja, sesuai aturan ASN. Silahkan cari pekerjaan lain. Guru yang mengajar kita kasih reward (penghargaan) sehingga semua bisa jalan. Jadi bagaimana sekarang itu kita yakinkan pada guru-guru bahwa uang bukan segalanya dalam hidup ini tetapi investasi masa depan yang bisa buat kita bangga kalau anak kita sukses.

J: Terkait kurangnya tenaga guru dari masyarakat asli Papua sendiri, apa yang akan bapak lakukan?

MN: Saya kan baru datang, sekarang saya sudah dengar kalau di Paniai guru non sarjana di sini itu kurang lebih 90 persen, sekarang bagaimana kita kerjasama dengan FKIP, bagaimana supaya FKIP Universitas Cenderawasih dan universitas lain yang kita sudah kerjasama itu kita tingkatkan supaya kualitas dan kapasitas guru naik.

Hal lain mungkin kita harus kerjasama dengan Yayasan Katolik yang namanya Jesuit, dia itu bisa mengajar volunteer (sukarela) tapi kualitasnya bagus. Itu kita bisa kembangkan. Yang ketiga, anak-anak Paniai yang kuliah di Rusia dan AS kita panggil.

Tahun depan kita sudah anggarkan, untuk buat lembaga pendidikan independen. Matematika, Fisika, B. Inggris akan belajar di Enarotali. Sehingga pada saat mereka akan kuliah di AS, Inggris bisa langsung tes disini. Kita harap 3 tahun ke depan akan jalan.

J: Terkait kondisi kesehatan, Dinkes Papua baru merilis data jumlah penderita HIV/AIDS di Nabire yang sekarang menempati posisi tertinggi. Artinya itu juga meliputi ODHA di Meepago. Bagaimana pendekatan pemerintahan di Paniai terkait ini?

MN: Pertama, saya sudah ke RSUD Paniai beberapa hari lalu. Saya cek sakit yang ada apa saja, salah satunya Paru dan TB, artinya kita akan perbaiki Honai. Jadi Honai yang ada tempat kita makan dengan asap harus kita buat bagaimana agar asap itu keluar. Itu penanganan yang harus kita buat. Kemudian RS kita di Madi ini lebih bagus daripada Dogiyai dan Deiyai, malah kita yang tolong mereka.

Ketiga bagaimana agar penyakit HIV itu tidak menular sebenarnya itu tergantung manusia. Maka itu kita harus pendekatan rohani, bahwa Tuhan Yesus itu penting dari semua ini. Sehingga orang itu sadar bahwa hidup ini sementara. Kalau bilang obat itu tidak akan menyelesaikan. Karakternya itu yang harus kita bangun. Bagaimana caranya? ya men to men yaitu harus pendekatan orang perorang. Kalau kau buat ini maka masalah ini akan terjadi.

Nah saya baru duduk, nanti kita lihat ke depan seperti apa, tapi saya tertarik dengan pendekatan manusianya.

J: Publik baru saja memeringati Hari HAM, terkait kasus Paniai berdarah, kira-kira apa yang bisa bapak lakukan ke depan?

MN: Kalau itu saya no comment (dulu). Karena saya kan orang baru bagaimana saya tahu.(*)


 




 


 

loading...

Sebelumnya

Pelni Timika: Puncak mudik Natal 22 Desember

Selanjutnya

Bupati Paniai imbau warga kampung tidak terlena dengan uang

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Rabu, 09 Januari 2019 WP | 6002x views
Polhukam |— Selasa, 08 Januari 2019 WP | 5639x views
Mamta |— Kamis, 10 Januari 2019 WP | 4973x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe