Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Cerita Melkior Jebo, korban penembakan di belakang RSUD Merauke
  • Jumat, 14 Desember 2018 — 04:05
  • 1077x views

Cerita Melkior Jebo, korban penembakan di belakang RSUD Merauke

“Saya anak pertama yang harus bertanggungjawab untuk keluarga. Sehingga bagaimanapun juga, menuntaskan kuliah di STIA Karya Dharma Merauke,” katanya
Melkilor Jebo, korban penembakan di belakang RSUD Merauke yang terbaring di rumahnya – Jubi/Frans L Kobun

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi , 

MINGGU 9 Desember 2018, Jubi menemui Melkior Jebo, mahasiswa semester III Sekolah Tinggi  Ilmu Administasi (STIA) Karya Dharma Merauke yang menjadi korban penembakan oleh  oknum polisi di belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke  24 November lalu.

Melkior Jebo, baru keluar dari RSUD Merauke tadi siang, setelah kurang lebih  dua minggu menjalani perawatan dan pemulihan pasca operasi.

Di dalam rumah panggung sederhana itu, kedua orangtua serta beberapa rekannya masih menjaga korban yang sedang tertidur. Sementara balutan perban di perutnya, masih merekat rekat.

Kehadiran Jubi diterima dengan baik. Meskipun kondisi kesehatan belum pulih, namun Melkior masih bersedia untuk diwawancarai.

Kepada Jubi, Melkior Jebo menuturkan, saat kejadian, Sabtu 24 November 2018 sekira pukul 18.00 WP, ia membaur bersama masyarakat di salah satu kios di belakang rumah sakit.  “Ketika polisi datang, saya sudah ada disitu,” ungkapnya.

Saat itu, ia berada paling depan. Sempat terjadi adu argumentasi bersama polisi. Beberapa saat kemudian, tak disangka peluru telah bersarang di bagian kiri punggung belakang. Setelah mengetahui ditembak, ia langsung lari ke rumah sakit. 

“Saya tidak tahu siapa oknum polisi yang menembak. Tetapi jelasnya dari belakang, karena banyak polisi disitu,” ujarnya.

Setelah ditembak, darah terus keluar. Namun tak ada yang menolong termasuk polisi. “Justru saya ditendang lagi dua polisi,” katanya.

Oleh karena luka tembakan sangat sakit, ia tak melakukan perlawanan. Tetapi berlari ke rumah sakit. “Tenaga medis langsung menolong dan keesokan hari, Minggu 25 November 2018, harus menjalani operasi,” katanya.

“Memang saya sempat pusing dan lemas, lantaran banyak darah sudah keluar,” ujarnya.

Disinggung lagi kondisi terkini pascaoperasi dan tak dirawat di rumah sakit lagi, Melkior menjelaskan, sudah membaik, namun masih sakit. Lalu dokter menyarankan  tak mengkonsumsi makanan keras.

“Saya disarankan hanya makan bubur selama beberapa minggu kedepan sambil melakukan kontrol secara rutin,” ujarnya.

Diapun tak ingin berkomentar tentang proses hukum lebih lanjut. Karena masih fokus pemulihan sakit, sekaligus ingin cepat kuliah seperti biasa.

“Saya anak pertama yang harus bertanggungjawab untuk keluarga. Sehingga bagaimanapun juga, menuntaskan kuliah di STIA Karya Dharma Merauke,” tutur anak dari pasangan Petrus Jebo dan Anselina ini.

Aktivis Kemanusiaan wilayah Merauke, Fransiskus Gondro Mahuze menjelaskan,  saat ini pihaknya masih fokus untuk pemulihan kesehatan korban Melkior. “Ya, korban harus dioperasi guna mengeluarkan sisa-sisa serpihan peluru di dalam organ tubuhnya,” kata dia.

“Terimakasih kepada dokter Bily Ohe yang telah melakukan operasi dan menyelamatkan adik kami yang diduga terkena tembakan peluru oknum aparat keamanan itu,” katanya.

Gondro Mahuze berjanji mengawal kasus dimaksud dan pelakunya harus diproses hukum. Karena itu adalah bentuk pelanggaran HAM berat.

Mestinya, jelas dia, polisi adalah pengayom dan pelindung bagi masyarakat.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Merauke, Yohanes Nongyap mengungkapkan kekecewaan yang dilakukan oknum aparat keamanan dengan melakukan penembakan terhadap Melkior yang juga kader anggota PMKRI.

“Saya mengutuk keras tindakan oknum aparat kepolisian itu dan kami telah melaporkan kasus ini ke PMKRI pusat agar ditindaklanjuti,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolres Merauke, Ajun Komisars Besar Polisi (AKBP) Bahara Marpaung menegaskan, pihaknya belum bisa memastikan apakah itu tembakan atau tidak.

“Kita harus mendalami kembali. Sehingga menjadi lebih jelas,” tegasnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Masyarakat kecewa profil tank tak bisa difungsikan

Selanjutnya

Dua pelaku pencuri lampu dan kabel bandara ditangkap

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe