Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Sosialisasi sehat di Pasar Pharaa
  • Jumat, 14 Desember 2018 — 10:06
  • 900x views

Sosialisasi sehat di Pasar Pharaa

Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura melakukan sosialisasi agar pasar sehat. Sampah yang berserakan merupakan sarang penyakit. Pedagang dan pengelola pasar berharap sosialisasi dilakukan terus-menerus.
Koordinator Pasar Sehat, Djunaidi, memperlihatkan gambar perilaku baik dan buruk kepada pedagang di Pasar Pharaa, Sentani, Kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

BANYAK pasar yang tidak sehat. Sampah berserakan di mana-mana, got tidak lancar, kalaupun ada tempat penampungan sampah, isinya tidak segera dibuang, melainkan teronggok lebih 24 jam.

Lalat berterbangan kemana-mana, hinggap di makanan yang dijual di warung-warung. Nyamuk bersarang di tempat-tempat gelap dan tikus bersilewaran dari got ke meja penjual.

Dengan kondisi seperti itulah pedagang hidup seharian, datang pagi dan pulang pada sore atau malam hari. Para pembeli juga datang ke lokasi itu dan membeli makanan atau minuman.

Inilah yang menjadi sumber penyakit, dibawa penjual dan pembeli ke rumah masing-masing. Lingkungan pasar yang tidak sehat, jelas akan berdampak kepada kesehatan masyarakat, karena pasar merupakan tempat berkumpul banyak orang.

Inilah yang melatarbelakangi Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura melakukan sosialisasi ke pasar-pasar agar bisa menciptakan pasar yang sehat. Kali ini petugas mendatangi Pasar Pharaa di Sentani, yang merupakan pasar sentral di Kabupaten Jayapura.

Koordinator Tim Sosialisasi, Djunaidi, yang juga dari Program Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Pemprov Papua, mengatakan masalah kesehatan bukan masalah individu saja, tetapi juga menyangkut tempat-tempat umum seperti pasar.

"Pasar tidak hanya menjadi tempat perdagangan tapi juga menjadi tempat penularan penyakit, contohnya jika di pasar ada penjual makanan dan berbagai macam penjual ada di situ, kalau tidak sehat maka akan menjadi sumber penularan penyakit," katanya, kepada Jubi, di Pasar Pharaa Sentani, Rabu, 12 Desember 2018.

Pasar dijadikan tempat utama sosialisasi karena pasar merupakan tempat umum dan  penularan penyakit sangat gampang terjadi di sana. Pasar tempat banyak orang dengan sampah berserakan dan penjual tidak tertata dengan baik.

"Kalau ada yang buang sampah tidak pada tempatnya, apalagi kalau di situ ada makanan, itu saya yakin penyebaran penyakit akan cepat sekali, memang kita tidak berharap langsung berubah dengan cepat, tapi sosialisasi merupakan tahapan dari itu," kata Djunaidi.

Sosialisasi awal dilakukan dengan memanggil perwakilan dua orang setiap los. Dinas menyediakan tenaga kesehatan dari puskesmas yang nanti melanjutkan dengan lebih banyak kegiatan.

Menurut Djunaidi, sosialisasi tersebut sebagai langkah awal untuk mengajak petugas di Dinas Kesehatan Kabupaten dan puskesmas mendorong terciptanya pasar yang sehat. Selanjutnya Dinas Kesehatan kabupaten dan puskesmas setempat yang akan meneruskan sosialisasi seperti yang telah dilakukan.

Sosialisasi, kata Djunaidi, sudah dilakukan di sejumlah pasar di kabupaten dan kota di Provinsi Papua. Namun untuk Kabupaten Jayapura, Pasar Pharaa yang pertama.

"Kami sudah lakukan di Pasar Timika, Wamena, Nabire, dan sosialisasi ini ditargetkan dilakukan di seluruh pasar, ini dilakukan agar mereka yang ada di pasar paham akan kebersihan," ujarnya.

Sosialisasi awal, katanya, tidak bisa mengumpulkan peserta lebih banyak, karena tidak gampang menghadirkan pedagang sekaligus. Karena itu yang diundang hanya perwakilan.

"Di beberapa tempat yang sudah kita laksanakan, peserta cukup antusias, namun ada beberapa kendala yang mereka hadapi, yaitu fasilitas, seperti tempat sampahnya yang harus standar, juga pengelola, pengunjung, dan pedagang pasar juga harus punya pemahaman yang sama," katanya.

Menurut Djunaidi, ada beberapa persoalan penting dihadapi masyarakat di Pasar Pharaa terkait kesehatan lingkungan. Tidak ada listrik, air bersih, dan fasilitas toilet tanpa air.

“Jadi dari yang disampaikan tersebut masalah utama adalah air, padahal air adalah kebutuhan utama atau vital di sebuah pasar," ujarnya.

Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pasar Pharaa, Daniel Sokoy, mengatakan sosialisasi pasar sehat sangat penting. Namun ia berharap sosialisasi tidak dilakukan pada Desember karena bulan yang sangat sibuk.

“Kalau bisa ada surat undangan juga dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura untuk mengumpulkan pedagang di satu tempat untuk diberikan sosialisasi dengan waktu yang lebih lama agar para pedagang paham bagaimana menjajakan dagangan dengan baik dan benar,” katanya.

Sokoy juga berharap sosialisasi dilakukan terus-menerus dan dinas berkoordinasi dengan pengelola pasar agar bisa mempersiapkan kegiatan lebih baik.

"Di Pasar Pharaa ada 1.500 pedagang, kalau 30 persen sampai 40 persen pedagang bisa hadir saat sosialisasi berikutnya sangat bagus,” katanya.

Pedagang sagu di Pasar Pharaa, Mama Koenip, setelah mengikuti sosialisasi mengaku mendapatkan manfaat karena paham tentang pentingnya kebersihan.

"Tadi itu bagus sekali, dengan disampaikan seperti itu baru kita mengerti karena di pasar ini banyak sampah baru jualan makan ini terbuka saja apalagi tikus banyak dan lalat juga banyak kita tidak tahu to itu sehat kah tidak, tong hanya makan saja," katanya.

Ia berharap sosialisasi tidak hanya sekali, tapi dilakukan terus-menerus agar yang disampaikan benar-benar dijalankan pedagang di pasar.

"Saya paling tidak suka orang makan pinang baru buang ludah sembarang itu, coba buang di tempat sampah kah biar pasar ini kelihatan bersih,” katanya.

Menurt perempuan Genyem tersebut sampah di mana-mana akan mendatangkan lalat yang membawa penyakit ketika hinggap di makanan. Orang yang memakan bekas lalat tersebut bisa mual-mual, sakit demam, dan panas tinggi. Tempat yang tidak bersih juga bisa menyebabkan malaria.

“Sebenarnya itu dari hal-hal kecil saja,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Berawal dari Uncen, lahirlah Byakologi

Selanjutnya

Kontroversi asal mula babi di Papua

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe