Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Waket DAS: Ada pemberian gelar adat tak sesuai prosedur
  • Minggu, 16 Desember 2018 — 20:22
  • 689x views

Waket DAS: Ada pemberian gelar adat tak sesuai prosedur

"Kami mau memperbaiki karena ada kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan. Pemberian anak adat tidak sesuai prosedur," kata Orgenes Kaway, pekan lalu.
Wakil Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DAS) - Jubi/Arjuna Pademme
Arjuna Pademme
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Wakil Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DAS), Orgenes Kaway mengatakan, pada masa kepengurusannya akan membenahi berbagai hal terkait pemberian gelar adat di kalangan Suku Sentani. 

"Kami mau memperbaiki karena ada kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan. Pemberian anak adat tidak sesuai prosedur," kata Orgenes Kaway, pekan lalu. 

Menurutnya, dalam beberapa kasus, pemberian gelar anak adat di wilayah kerja DAS tidak lagi sesuatu berpedoman pada aturan yang semestinya. Siapa pun kini dapat diangkat atau diberikan gelar anak adat, meski tidak memiliki keterkaitan atau hubungan kekerabatan dengan pemberi gelar. 

Katanya, setiap kampung memang dapat memberikan gelar anak adat, namun latar belakang pemberian gelar itu harus jelas, apalagi jika diberikan kepada mereka yang berasal daru suku di luar Sentani atau provinsi lain. 

"Di kampung masih ada orang-orang khusus. Ini kesalahan, jangan adat dijadikan alat kepentingan politik. Saat seseorang diberi gelar anak adat, ia memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan kepada suku atau kampung yang memberikannya gelar itu," ujarnya. 

Ia mengatakan, seiring perkembangan zaman, tatanan adat juga ikut tergerus. Tatanan adat sesungguhnya yang diberlakukan para leluhur sejak zaman dulu mulai ditinggalkan, demi kepentingan sesaat, dan mengorbankan nilai-nilai sakral yang warisikan turun temurun para leluhur. 

"Tapi saya mengerti, semua itu terjadi karena ada kepentingan. Inilah tugas DAS untuk membenahi kesalahan itu," ucapnya. 

Sementara Sekretaris II Dewan Adat Papua, John NR Gobai mengatakan, ada proses yang panjang jika seseorang akan diberikan gelar anak adat atau nama/marga adat. 

"Ada ritual yang harus dilalui. Orang yang mendapat gelar itu harus benar-benar berkontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat adat atau suku yang memberinya gelar," kata Gobai. 

Untuk itu menurut Gobai, para kepala suku dan tokoh adat jangan sembarang memberikan gelar adat atau nama adat kepada seseorang, apalagi jika yang bersangkutan tidak berasal dari kalangan masyarakat adat pemberi gelar. 

"Di beberapa wilayah tertentu, seseorang diberi gelar adat atau marga/nama adat jika dia telah berjasa menyelematkan, membantu dan mengayomi suku yang memberinya gelar adat itu," ucapnya. (*) 

loading...

Sebelumnya

Nasib dana Otsus Papua ditentukan OAP, bukan Jakarta

Selanjutnya

Melanggar, 10 anggota polisi dan satu ASN Polda Papua dipecat

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe