Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Komunitas Green Papua tolak kapitalisasi SDA di Papua
  • Senin, 17 Desember 2018 — 11:18
  • 1544x views

Komunitas Green Papua tolak kapitalisasi SDA di Papua

"Kami prihatin atas maraknya ekspansi industri berbasis lahan di Papua yang menjadi pendorong utama deforestasi," ujar Yohanes Giyai dari Komunitas Green Papua dalam rilisnya kepada Jubi, Minggu (16/12/2018).
Komunitas Green Papua berfoto bersama usai diskusi peringati HUT ke-2 di Malang, Sabtu (15/12/2018) - Jubi/KGP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Nabire, Jubi - Peringati hari lahirnya yang kedua, Komunitas Green Papua menyelenggarakan diskusi tentang kapitalisasi sumber daya alam dan marginalisasi rakyat Papua, di Malang, Sabtu (15/12/2018). 

"Kami prihatin atas maraknya ekspansi industri berbasis lahan di Papua yang menjadi pendorong utama deforestasi," ujar Yohanes Giyai dari Komunitas Green Papua dalam rilisnya kepada Jubi, Minggu (16/12/2018).

Komunitas yang didirikan pada 15 Desember 2016 di Malang, Jawa Timur, oleh mahasiswa Papua di Pulau Jawa dan Bali ini prihatin atas ratusan izin perkebunan sawit, pertambangan, dan kehutanan di Papua yang semuanya berbasis lahan. Di hari ulang tahunnya ke-2, Green Papua mengajak mahasiswa Papua di Malang memahami dampak kapitalisasi SDA di Tanah Papua terhadap orang asli Papua. 

"Komunitas ini dibentuk atas keprihatinan terhadap praktek-praktek ecocide (perusakan lingkungan masif) di Papua, mendiskusi dan mengkampanyekan persoalan konflik agraria di Papua agar khususnya mahasiswa Papua dan Indonesia di Jawa Bali dapat memahami dampak (baik dan buruk) kapitalisasi SDA di Tanah Papua," kata Giyai. 

Harapannya, setelah kembali ke Papua, Komunitas Green Papua terus bergerak untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat atas pengelolaan kearifan lokal oleh masyarakat adat Papua dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Dari delapan pernyataan pers di hari ulang tahunnya, secara khusus Green Papua menyerukan penghentian proyek Trans Papua karena dianggap menjadi jalan ekploitasi sumber daya alam dan militerisasi di Papua. 

Mereka juga meminta agar politik privatisasi tanah adat melalui penerbitan sertifikat tanah gratis oleh Rezim Jokowi-JK di Papua segera berhenti. (*)

loading...

Sebelumnya

Tak kenal siapa PU, TPNPB ungkap struktur komando nasionalnya

Selanjutnya

AMP Semarang : Trikora 19 Desember 1961 ilegal

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe