Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Belajar berdemokrasi sejak di sekolah
  • Senin, 17 Desember 2018 — 11:24
  • 712x views

Belajar berdemokrasi sejak di sekolah

Belajar berdemokrasi harus dilakukan sejak di bangku sekolah, tidak hanya teori, tetapi juga praktek seperti yang dilakukan SMP Negeri 6 Jayapura. [caption]
Pelajar SMPN 6 Jayapura mengkuti pendidikan demokrasi - Jubi/Ramah

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

INDONESIA adalah negara yang menganut paham demokrasi. Kata demokrasi (dari bahasa Yunani) yaitu demos (rakyat) dan cratos (kekuasaan dan kedaulatan).

Dalam negara demokrasi setiap warga negara berhak berpendapat dan berekspresi dengan bebas selama tidak berbenturan dengan aturan perundang-undangan sehingga kehidupan bernegara menjadi lebih berwarna.

Di SMPN 6 Jayapura, siswa diajarkan cara berdemokrasi melalui kegiatan konstektual atau pendekatan belajar dalam materi yang dipelajari oleh siswa dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka.

"Kegiatan dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari sebagai individu, angota keluarga, dan anggota masyarakat," kata Kepala SMPN 6 Jayapura Purnama Sinaga, Sabtu, 15 Desember 2018.

Ditemui di sekolahnya Jalan Kayu Batu, Tanjung Ria, Base G, Distrik Jayapura Utara, Purnama menjelaskan dari penerapan dan pendekatan pembelajaran konstektual tersebut, siswa diajak melakukan study tour ke tengah masyarakat dan lembaga-lembaga terkait seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melihat sidang dan ke distrik untuk melihat langsung proses rapat di sana.

"Bagus juga kalau anak-anak itu dibawa untuk melihat ke lapangan, misalnya ada rapat di tingkat distrik atau sidang DPR untuk melihat secara langsung sehingga lebih konstektual," ujarnya.

Menurut Purnama, sebenarnya dari kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Paskibraka, dan OSIS juga ada kegiatan rapat dengan beradu argumen dan mengeluarkan pendapat.

"Di SMPN 6 Jayapura baru sebatas kegiatan pembelajaran di kelas karena tuntutan kurikulum, kami punya kegiatan study tour ke luar sekolah, tapi belum pernah untuk masalah demokrasi, biasanya kami melakukannya ke museum," kata perempuan tersebut.

Dalam muatan kurikulum tentang demokrasi di sekolahnya, Purnama mengaku sudah membahas lebih dalam dengan guru PKn dan melakukan beberapa kali pertemuan pada masing-masing kelas 7, 8, dan 9.

Menurutnya, pendidikan wawasan demokrasi bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi guru PKn menganggap perlu diadakan debat dan membuat lomba Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), sehingga penanaman konsep demokrasi lebih mendalam karena konsep dan materi sudah diajarkan di kelas.

"Pendidikan wawasan demokrasi merupakan muatan dari kurikulum mata pelajaran PKn dan terintegrasi dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler," katanya.

Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan konstektual, kata Purnama, adalah guru yang berwawasan.

"Sekarang kan tinggal inovasi dari gurunya agar peserta didiknya bisa langsung belajar di lingkungan masyarakat supaya anak-anak bisa lebih paham demokrasi, bagusnya langsung dipraktekkan," ujarnya.

Selain itu, guru harus bisa mencari materi yang dijiwai agar bermakna bagi siswa, memiliki strategi dalam proses belajar-mengajar sehingga siswa lebih bersemangat belajar.

"Suasana dalam lingkungan pembelajaran sangat berpengaruh karena dapat mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa," katanya.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, mengatakan pendidikan wawasan demokrasi perlu diperkuat sejak usia dini.

"Agar generasi muda tetap kokoh memperkuat demokrasi dan memiliki wawasan kebangsaan, maka perlu pendidikan yang memadai," katanya.

Menurutnya, pendidikan demokrasi untuk mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Supaya mewujudkan generasi yang berbudaya dan beretika dalam berdemokrasi untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Seiring berkembangnya dunia teknologi sekarang ini, lanjutnya, usia muda sangat rentan disusupi dengan paham radikalisme sehingga mengikis wawasan demokrasi dan kebangsaan.

"Di Kota Jayapura kami melibatkan berbagai instansi dan lembaga terkait untuk membina anak-anak usia SMP dan SMA," ujarnya.

Ia menilai generasi muda di Kota Jayapura terlihat aktif dalam mengikuti setiap pendidikan demokrasi dan wawasan kebangsaan.

"Terbukti banyak siswa yang bertanya setiap kami melakukan sosialisasi ke sekolah, kami juga mengharapkan peran orangtua dan guru dalam mendidik," katanya.

Apalagi, lanjutnya, gaya hidup dan pola pikir manusia saat ini bergerak cepat dalam kehidupan sehari-hari sehingga menpengaruhi generasi.

"Tantangan globalisasi itu proses masuknya ke ruang lingkup dunia, dalam hal ini dunia seakan-akan tanpa batas maka dengan mudahnya informasi masuk dan keluar, mengakibatkan berbagai dampak, baik positif maupun negatif," katanya.

Dijelaskan, dampak positifnya adalah menambah wawasan serta pengetahuan dan dampak negatifnya semakin tinggi tingkat pemenuhan manusia sehingga dapat mengubah tatanan, struktur, hingga kebiasaan dalam masyarakat jika tidak difilter dengan baik.

"Salah satu contoh yang dapat merusak demokrasi di antaranya politik uang yang dilakukan oleh segelintir orang yang mempunyai tujuan dan kepentingan pribadi, hal yang dapat merusak demokrasi seperti itu harus sejak dini diajarkan kepada anak agar mempunyai tanggung jawab menjaga NKRI," katanya.

Bernard menambahkan pendidikan harus bisa berfungsi ikut membangun kapasitas bangsa sebagai manusia pembelajar, sehingga menjadi andal, percaya diri, religius, dan humanis.

Siswa Kelas VII C, Ruth Anderi, mengatakan pendidikan demokrasi sangat penting baginya sebab dengan berdemokrasi yang baik bisa menyelamatkan bangsa Indonesia.

"Di era globalisasi saat ini semua informasi harus dicermati dengan baik sehingga tidak menimbulkan keresahan yang menyebabkan tercorengnya nilai-nilai moral bangsa," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Kontroversi asal mula babi di Papua

Selanjutnya

Butuh komitmen bersama lindungi kawasan Cycloop

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe