TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Butuh komitmen bersama lindungi kawasan Cycloop
  • Senin, 17 Desember 2018 — 13:10
  • 915x views

Butuh komitmen bersama lindungi kawasan Cycloop

"Berdasarkan hasil analisis dari USAID Lestari, pada 2013 hingga 2015 luas pembukaan lahan atau deforestasi di kawasan Cycloop sekitar 275 hektare. Kemudian pada 2015 hingga 2017, mulai menurun kurang lebih 32 hektare  yang sudah dibuka dan pada 2018 ini belum sempat dianalisis. Namun, saat patroli ditemukan pembukaan lahan-lahan yang baru"
Pantai Pasir 6 yang berada di kawasan Pegunungan Cycloop - Jubi/Kristianto Galuwo
ANTARA
[email protected]
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

LAJU kerusakan Cagar Alam Pegunungan Cycloop disebut cukup memprihatikan. Oleh karenanya membutuhkan perhatian setiap pemangku kepentingan untuk melindungi dan melestarikan kawasan tersebut.

Koordinator Lanskap USAID Lestari di Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Deddy Rickson, Minggu, 16 Desember 2018 di Kota Jayapura, mengatakan tingkat kerusakan atau laju kerusakan kawasan tersebut cukup tinggi, per tahun bisa 5-10 hektare. 

"Ini memang perlu komitmen bersama, bukan hanya kita atau BBKSDA, Dinas Kehutanan atau lainnya, tapi semua karena jangan sampai terjadi bencana lalu saling menyalahkan," katanya.

Berdasarkan hasil analisis dari pihaknya, pada 2013 hingga 2015 luas pembukaan lahan atau deforestasi di kawasan tersebut sekitar 275 hektare. Kemudian pada 2015 hingga 2017, mulai menurun kurang lebih 32 hektare  yang sudah dibuka dan pada 2018 ini belum sempat dianalisis. Namun, saat patroli ditemukan pembukaan lahan-lahan yang baru.

Menurut dia, Cycloop dari sisi ancaman bukan saja dari ketersediaan air sebagaimana ramai diberitakan dan dirasakan oleh warga Kabupaten dan Kota Jayapura, tetapi dari semua jenis yang ada di dalam kawasan tersebut sangat mengkhawatirkan.

"Dari sisi ekologinya, salah satu contohnya itu kalau dulu masyarakat sering masuk ke hutan, sering menemukan spesies langka yakni Ekidna, tapi sekarang yang kami lakukan dalam survey pada 2017 akhir itu, kami tidak temukan spesies ini. Sehingga menunjukkan bahwa memang ada ancaman untuk spesies ini atau ada perusakan terhadap habitat spesies ini dan lainnya," katanya. 

Ia mencontohkan burung cenderawasih, nuri, dan kakatua, berdasarkan hasil patroli pengamanan dan perlindungan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, terjadi tingkat penurunan perburuan spesies lindung jenis itu.

"Jadi dari tahun 2017 itu kurang lebih penurunannya sekitar 45 persen, di 2018 berkurang lagi menjadi 66 persen. Tapi kalau Ekidna hasil kajian kami sementara ini kami belum temukan, kemungkinan tidak punah, tapi bergeser, dia berpindah, kemungkinan dia makin naik ke atas Cycloop," katanya.

Mengenai upaya perlindungan dan pelestarian yang digaungkan oleh BBKSDA dengan menggandeng Rumah Belajar Papua dan berbagai komunitas di Kabupaten dan Kota Jayapura dengan menyelenggarakan Festival Cycloop di Pasir 6 pada awal Desember, Deddy mengapresiasiakan hal tersebut.

"Karena berbicara perlindungan dan pelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop bukan menjadi tugas satu atau dua pihak, tetapi semua pihak harus ikut bertanggung jawab. Kami dari USAID Lestari sejak terlibat aktif pada akhir 2015 sudah punya program pengamanan dan perlindungan kawasan," katanya.

Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Kabupaten Jayapura, Demas Tokoro, beberapa pekan lalu menyebut pihaknya sering mengagalkan upaya perambahan hutan oleh oknum-oknum tertentu di kawasan tersebut. Namun, diduga ada oknum penguasa di balik perambahan atau perusakan Cagar Alam Cycloop.

Truk pengangkut kayu di wilayah Sentani dari kawasan ini juga, sebutnya, diduga dibekingi aparat keamanan.

Untuk itu, pemilik ulayat kawasan juga harus dilibatkan dalam melindungi kawasan Cycloops. Masyarakat kawasan Sentani, Tablasupa, Pasir Enam, dan Nehebe merupakan masyarakat adat yang bermukim di kaki Pegunungan Cycloops. Bagi mereka, Cycloops merupakan mama dan sumber penghidupan. 

Jika sumber kehidupan ini rusak, maka akan berdampak pada kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, harus terus dijaga dan dilindungi

Untuk diketahui, Pegunungan Cycloop resmi sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 56/Kpts/Um/1/1978 tanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 365/Kpts-II/1987 tanggal 18 Nopember 1987 dengan luas 22.500 hektare. 

Penetapan itu ditegaskan kembali melalui PP Nomor 28 Tahun 1985 dan SK Menteri Kehutanan No.365/Kpts-II/87. Pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.782/Menhut-II/2012, luas CA Cycloop diperluas menjadi 31.479,84 hektare. (*)

loading...

Sebelumnya

Lestarikan hutan, 2000 bibit pohon ditanam di Kamp Wolker

Selanjutnya

Kampanye capres-cawapres belum sentuh isu budaya

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe