Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Bukit Arfai riwayatmu dulu
  • Selasa, 18 Desember 2018 — 16:32
  • 917x views

Bukit Arfai riwayatmu dulu

Itulah wajah Kota Manokwari dan sekitarnya di masa sekarang. Padahal era 1963-1969 wilayah Prafi merupakan markas militer dan termasuk daerah operasi mendiang Ferry Awom dan pasukannya. Begitu pula Lodewijk Mandacan yang kecewa dan masuk hutan bergerilya bersama Ferry Awom dan kawan-kawan.
Pasukan Ferry Awom menyerah di lapangan Borarsi, Manokwari - Jubi/IST

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

HUTAN Arfai di Manokwari kini telah berdiri bangunan pusat perkantoran Gubernur Papua Barat, bahkan simbol burung Kasuari ikut menyemarakkan tempat Gubernur Dominggus Mandacan bekerja sehari-hari. Dari atas bukit Arfai terlihat Teluk Doreri dan keindahan pulau-pulau kecil.

Kodam XVIII/Kasuari juga berkantor di arah jalan menuju Arfai. Begitu pula Mako Brimob. Tak ada lagi hutan rimba maupun bekas-bekas pertempuran di Arfai. Kini Arfai telah berubah menjadi salah satu wilayah pengembangan Kota Manokwari ke depan, pusat kota menuju wilayah terluar Prafi, dan tapal batas antara Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak serta Manokwari Selatan.

Itulah wajah Kota Manokwari dan sekitarnya di masa sekarang. Padahal era 1963-1969 wilayah Prafi merupakan markas militer dan termasuk daerah operasi mendiang Ferry Awom dan pasukannya. Begitu pula Lodewijk Mandacan yang kecewa dan masuk hutan bergerilya bersama Ferry Awom dan kawan-kawan.

Saat itu tercipta pula syair lagu di era 1965 yang mengisahkan Ferry Awom dan kawan-kawan bertempur melawan pasukan TNI Indonesia.

“Pada tahun 1965, 28 Juli, markas Arfai dibongkar oleh laskar Papua. Kami tentara sapu rata batalyon Kasuari, berjanji tetap berjuang sampai akhir merdeka”.

Itulah sekelumit syair dan lagu yang pernah dipopulerkan Grup Band  Black Brothers era 1980-an selama mengkampanyekan gerakan Papua merdeka di wilayah Pasifik.

Peristiwa ini tercatat oleh Letjend (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.”

Tanggal 28 Juli 1965, pukul 04.30 WIT pagi, terjadi peristiwa berdarah di Manokwari. Gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Ferry Awom menyerang asrama Yonif 641/Tjenderawasih I di Arfai, Manokwari.

Gerombolan menggunakan senjata api, senjata tajam berupa parang, tombak, dan panah. Yonif 641 menderita tiga orang anggota korban meninggal dan empat menderita luka-luka, sedangkan pucuk senapan mesin regu Bren caliber 7,7 mm dan sepucuk senjata otomatis jatuh ke tangan Ferry Awom dan gerombolannya.

Sebalik, pasukan OPM pimpinan Ferry Awom kehilangan 36 orang meninggal dan korban-korban yang tidak diketahui jumlahnya yang terluka. Korban luka-luka bersama Ferry Awom bergerak mundur ke Warmare dan Prafi. Wilayah pegunungan Arfak sampai dengan Ransiki yang akhirnya menjadi wilayah pertempuran dan operasi militer.

Sejak itu  Ferry Awom dan kawan-kawan terus menyerang pos-pos militer TNI yang jauh terpencil. Mereka melakukan penghadangan terhadap pasukan ABRI yang sedang melakukan operasi. Sintong Panjaitan sendiri tiba di Manokwari 6 Januari 1967 saat memimpin tim Irian Barat RPKAD mendarat di lapangan Rendani.

Sebelumnya, 25 Juni 1965, terjadi penyerangan OPM di bawah pimpinan Johanes Djambani, mantan anggota polisi jaman Belanda di Papua Barat. Berkekuatan 400 orang asal  Ajamaru dan Karon menyerang upacara bendera di Kebar di tengah-tengah wilayah kepala burung.

Tiga anggota ABRI meninggal dan Johanes Djambani beserta pasukannya merampas empat senjata otomatis, satu senapan M1 Garand, tiga senapan Mauser, dan sepucuk senapan laras panjang milik Jawatan Kehutanan.

Selama operasi Wibawa I di  Manokwari Papua Barat, tercatat aparat TNI selain dari tim Irian Barat RPKAD atau sekarang Kopasus, berasal dari Kodam VII/Diponegoro, Kodam VIII/Brawijaya, Kompi A Yonif 700/Raiders/Kodam XV/Hasanuddin dan Kodam XVII/Cenderawasih.

Pada Februari 1969, Pangdam XVII/Cenderawasih Brigjend TNI Sarwo Edhie, menggelar operasi militer bersandi “Wibawa”. Tugas pokok operasi ini  bertujuan mengamankan Pepera, menghancurkan pemberontak OPM di bawah Ferry Awom, serta menumbuhkan dan memelihara kewibawaan pemerintah.

“Kalau Pepera gagal, kegagalan itu terletak di pundak saya. Sebaliknya, kalau nanti Pepera berhasil, akan banyak pihak yang mengaku bahwa keberhasilan itu hasil jerih payah mereka,” kata Sarwo kepada Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Tercatat selama Brigjen Sarwo Edi Wibowo menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih di Irian Barat mengadakan peningkatan pasukan ABRI ke sasaran langsung basis pemberontak. Serangkaian operasi militer digelar meliputi operasi tempur, teritorial, dan intelijen. Operasi tempur bertujuan menghancurkan kekuatan fisik musuh. Operasi teritorial dipakai untuk menyerukan pemberontak supaya turun gunung dan tunduk pada pemerintah. Sementara operasi intelijen diarahkan untuk membongkar sekaligus menetralisasi organ-organ pendukung gerakan separatis. Sebanyak 6.000 personel dari berbagai kesatuan di luar Irian Barat dikerahkan.

Kisah brutal di Arfai

Tabloidjubi.com pernah melansir 39 dokumen setebal 30.000 halaman yang merupakan catatan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia sejak 1964 hingga 1968.  Dari sejumlah dokumen itusatu dokumen ternyata menguak penembakan terhadap sekian banyak Orang Asli Papua di Manokwari pada tahun 1965.

Dokumen telegram bernomor kontrol 542A, tertanggal 15 September 1965 itu berkisah tentang kondisi di Irian Barat (Papua Barat) pada pertengahan September 1965, sebagaimana diceritakan oleh seorang misionaris Protestan Belanda yang melaporkan tentang dipenjarakannya seorang misionaris, Harold Lovestrand.

Isi telegram itu menyebutkan pada Juni, aparat keamanan Indonesia telah mencegah sejumlah orang Papua yang berencana meninggalkan Papua menuju Australia dengan sebuah dokumen yang ditandatangani oleh sejumlah orang Papua terkemuka saat itu di Manokwari. Kejadian ini diikuti dengan penangkapan sebagian besar pegawai sipil dan sejumlah fungsionaris daerah.

Telegram yang ditandatangani Duta Besar AS untuk Indonesia Marshall Green itu, menjabarkan aksi pertama tentara Indonesia di Manokwari yang dikatakan brutal. Pada 26 Juni di salah satu bukit di Manokwari tiga orang tentara Indonesia yang sedang menaikkan bendera merah putih, ditembak oleh kelompok orang Papua yang memberontak saat itu.

Yunus Inauri, salah satu pelaku penyerangan markas Arfai itu dalam satu wawancaranya dengan Jubi mengatakan Permenas Awom adalah bekas anggota Batalyon Papua. Dia komandan Papua PVK pada zaman Belanda. Dia dan kawan-kawannya berontak karena pasukan Indonesia yang datang membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat. PVK atau Papoea Vrijwilligers Korps dibentuk pada 21 Februari 1961 untuk membantu membantu mempertahankan koloni Nederlands Nieuw Guinea dari infiltrasi pasukan Indonesia.

Inauri yang adalah seorang guru saat itu, mengatakan bila tentara Indonesia mendapati orang di jalan yang dinilai berperilaku aneh, maka mereka akan main pukul seenaknya, termasuk anak muridnya di sekolah. Permenas yang melihat keadaan tidak beres ini, bersama kawan-kawannya memukul tentara Indonesia yang bikin kacau. Bukan hanya baku pukul, baku tembak pun tak terelakkan. Situasi jadi ramai, masyarakat lari kocar-kacir. Permenas saat itu punya senjata yang selalu dibawa kemana-mana.

Saat Acub Zainal menjadi Pangdam setelah Pepera 1969 menggantikan Brigjen Sarwo Edi, barulah Ferry Awom dan kawan-kawan menyerah di lapangan Bourasi Manokwari. Brigjen TNI  Acub Zainal Pangdam XVII/Cenderawasih periode 1970-1973 menerima mereka, namun hingga kini tak tahu di mana pusaranya. Filep Karma salah seorang pejuang Papua merdeka menuturkan, kalau Ferry Awom sudah meninggal di mana kuburannya?

Saat ini Prafi dan Manokwari berubah dan pembangunan terus digalakan, jalan darat menuju Pegunungan Arfak melalui  Arfai, Prafi, dan pabrik Semen Conch milik China berdiri menghancurkan bukit kapur. Jalan darat telah menghubungi kota Manokwari ke Ransiki, ibukota Kabupaten Manokwari Selatan. Bahkan jalan darat dari Ransiki Papua Barat akan tembus ke Nabire, Provinsi Papua.

Semua pihak tak memungkiri pembangunan infrastruktur yang digalakkan Prsiden Jokowi dan memang itu  penting. Tetapi masalah kemanusian juga harus mendapat perhatian, sebab salah satu pernyataan Presiden Jokowi saat Natal Nasional 2014 sampai kini hanya tinggal janji.

Ketika Natal 2014 lalu, Presiden Joko Widodo meminta Kepolisian RI agar segera menyelesaikan kasus penembakan di Kabupaten Paniai, pada 8 Desember lalu, hingga tuntas.

"Saya ikut berempati terhadap keluarga korban kekerasan," ujar Presiden Jokowi di depan masyarakat Papua saat ibadah Natal Nasional di Stadion Mandala, Jayapura, Sabtu (27/12/2014) malam waktu setempat.

"Saya ingin kasus ini diselesaikan secepat-cepatnya, agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Kita ingin, sekali lagi, tanah Papua sebagai tanah yang damai,” imbuhnya sebagaimana dilansir BBC.com.

Tak heran kalau dalam press release dari SETARA Institut menyebutkan terkait gangguan keamanan yang terus berulang, pemerintah harus serius merespons secara komprehensif, antara lain dengan mencari formulasi penyelesaian politik di Papua, sebab jika tidak, eskalasi perlawanan KKB pasti meningkat.

Pemerintah Jokowi-JK menurut SETARA Institut, harus menyadari bahwa pembangunan infrastruktur dan peningkatanan kesejahteraan ekonomi masyarakat Papua tidaklah cukup, apabila tidak dibarengi penghormatan dan rekognisi atas hak-hak dasar masyarakat Papua.

Dalam konteks itu, lanjut Setara Institut, penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu serta yang terjadi pada dan paska pemerintahan Soeharto menjadi prasyarat mendesak. Dialog dan kesediaan mendengar hati dan pikiran rakyat Papua tidak boleh ditunda dan tidak bisa ditutupi dengan kemajuan ekonomi belaka. (*)

loading...

Sebelumnya

Kapal cepat menyinggahi 13 distrik di Kabupaten Teluk Wondama

Selanjutnya

Kadinsos Papua Barat kaget ada perempuan Papua jadi pekerja seks di Manokwari

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe