Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Kampanye capres-cawapres belum sentuh isu budaya
  • Rabu, 19 Desember 2018 — 06:43
  • 1282x views

Kampanye capres-cawapres belum sentuh isu budaya

KAMPANYE calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2019 dinilai belum menyentuh isu budaya, terutama berkaitan dengan pelestarian cagar budaya maupun warisan budaya takbenda Papua.
Ilustrasi benda-benda sejarah dan budaya yang dikoleksi Museum Loka Budaya Uncen - Jubi/Timo Marten
David Sobolim
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Selasa, 15 Januari 2019 | 10:26 WP
Features |
Senin, 14 Januari 2019 | 05:50 WP
Features |
Rabu, 09 Januari 2019 | 08:32 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi , KAMPANYE calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2019 dinilai belum menyentuh isu budaya, terutama berkaitan dengan pelestarian cagar budaya maupun warisan budaya takbenda Papua.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, kepada Jubi di Jayapura, Selasa, 18 Desember 2018, mengatakan dirinya belum melihat atau mendengar, isu pelestarian atau perlindungan budaya bangsa kita oleh para kandidat capres dan cawapres 2019. Diperlukan perlindungan mendesak terhadap cagar budaya maupun warisan budaya takbenda Indonesia. 

"Beberapa waktu belakangan ini budaya atau warisan budaya takbenda bangsa kita mulai diklaim oleh negara lain. Begitu salah satu warisan budaya Indonesia diklaim negara lain, baru diributkan. Padahal sebelum hal itu terjadi harus ada langkah-langkah strategis terutama pencegahan yaitu dengan penelitian, pendokumentasian, perlindungan, dan mendaftarkannya ke UNESCO," ujar Hari.

Saat ini, katanya, banyak artefak dan benda budaya dari Papua yang dimiliki museum-museum maupun perseorangan di luar negeri. Untuk itu perlu mengambil langkah-langkah tegas untuk mengambil dan mengembalikan benda cagar budaya Papua ke Indonesia.

"Sudah ada satu warisan budaya takbenda dari Papua yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yaitu noken. Tapi follow up-nya seperti apa belum terdengar," katanya.

Masih banyak warisan budaya Papua lainnya yang perlu diajukan ke UNESCO sebagai warisan dunia, baik itu kawasan situs lukisan tebing atau 'Art Rock' prasejarah di Kabupaten Kaimana, Raja Ampat dan Fakfak, Papua Barat.

Selain itu, lanjutnya, ada juga warisan budaya takbenda yang perlu diajukan ke UNESCO yaitu koteka dan ukiran Asmat. Termasuk pendekatan budaya dalam menyelesaikan konflik Papua juga belum disinggung dalam kampanye capres-cawapres. Dan juga budaya sebagai alat diplomasi juga tidak disinggung, padahal budaya merupakan soft diplomation.

"Pendekatan budaya dengan menanggalkan semua arogansi kultural merupakan salah satu solusi menyelesaikan konflik di Papua," ujarnya.

Ia menilai menanggalkan arogansi kultural berarti tidak menganggap diri dan kebudayaan sendiri sebagai yang paling baik, namun membuka diri bagi orang Papua serta kebudayaannya dan bersedia belajar dari mereka.

Banyak orang yang datang ke Papua bermaksud baik dan memang orang Papua dapat belajar banyak dari mereka, tetapi sebaliknya para pendatang harus belajar banyak dari orang Papua.

"Karena itu, mereka harus menanggalkan arogansi kulturalnya. Integrasi tidak berarti bahwa orang Papua harus menyesuaikan diri dalam segala hal dengan para pendatang, seakan-akan mereka sendiri serba kosong atau malah kurang baik," ujarnya.

Ia berpendapat integrasi antara dua kelompok merupakan suatu proses yang melibatkan dua belah pihak untuk saling menerima dan memberi. Namun selama puluhan tahun terakhir orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia, tetapi sebaliknya negara ini dan banyak pendatang sepertinya enggan belajar sesuatu dari Papua.

Tidak banyak pendatang yang sungguh berusaha mengenal tanah Papua, manusia, bahasa, dan budayanya, dan biasanya seseorang tidak dapat mencintai apa yang dia tidak kenal.

Dalam program pembangunan sering kurang diperhatikan dan dihargai kearifan lokal, seakan-akan Papua harus menjadi fotokopi dari daerah-daerah lain di Indonesia tanpa suatu warna lokal Papua.

Aktivis lingkungan di Jayapura, Onong, mengatakan lingkungan dan pariwisata di Indonesia sangat besar pontesinya, termasuk Papua yang disebut sebagai paru-paru dunia. Oleh karena itu, capres dan cawapres diharapkan agar memaparkan isu program kerja untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap lingkungan. 

Ekosistem lingkungan di Indonesia, lanjutnya, sangat berpengaruh terhadap pertumbuham ekonomi dan sejalan dengan kemajuan bangsa. 

"Jangan pernah mengabaikan lingkungan dan dan kekayaan budayanya. Tinggalkan isu yang tidak berbobot, seperti survei prematur tentang harga tempe, dll. Mari, bicarakan lingkungan sebelum semua terlambat karena lingkungan adalah kebutuhan vital makluk jidup," kata Onong.

Disinggung soal cagar budaya, menurutnya di Papua, pemerintah setempat juga perlu melindungi dan memberikan soasialisasi kepada masyarakat, sehingga budaya dan benda-benda bernilai sejarah tidak diperjualbelikan.

"Indonesia memiliki banyak cagar budaya yang mesti dimantapkan perlindungannya, baik dari segi regulasi maupun metode pemeliharaannya," ujarnya.

Dilansir CNN Indonesia, capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memiliki visi terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong-royong. 

Visi tersebut dijalankan dengan misi, antara lain peningkatan kualitas manusia Indonesia, struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, pembangunan yang merata dan berkeadilan. 

Kedua paslon juga bermisi mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan, kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa, dan penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. (*)

loading...

Sebelumnya

Memenangkan hati Orang Papua

Selanjutnya

Perlu satgas awasi tiket mahal

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Rabu, 09 Januari 2019 WP | 6001x views
Polhukam |— Selasa, 08 Januari 2019 WP | 5639x views
Mamta |— Kamis, 10 Januari 2019 WP | 4973x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe