Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Usaha kue kering menyambut Natal
  • Rabu, 19 Desember 2018 — 06:56
  • 813x views

Usaha kue kering menyambut Natal

Penjual kue kering mulai bermunculan di pasar menjelang Natal. Berbeda dengan muslim yang lebih suka membuat kue sendiri menyambut Idul Fitri, warga yang merayakan Natal di Jayapura justru lebih suka membeli kue kering.
Santy Wonda sedang membuat kue kering – Jubi/Yance Wenda

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MEMASUKI Desember umat Nasrani menghiasi rumah mereka dengan berbagai pernak-pernik Natal dan menu di meja tamu. Berbagai jenis kue kering biasanya selalu tersedia di rumah-rumah, terutama bagi mereka yang tinggal di kota.

Kue kering ini tidak selalu dibuat atau dimasak si pemilik rumah. Selain cukup merepotkan, tidak semua orang juga memiliki peralatan membuat kue dan memiliki keterampilan memasak kue. Alternatifnya membeli kue kering yang sudah jadi.

Inilah yang menyebabkan usaha kue kering menjelang Natal selalu ramai.

Salah satu yang memiliki usaha kue kering ini adalaah Santy Wonda. Perempuan satu anak yang berasal dari Kabupaten Puncak Jaya ini mengaku memulai usaha pembuatan kue kering dari coba-coba. Sebab ia sebelumnya tidak memiliki pengalaman. Modalnya hanya keingintahuan bagaimana membuat kue kering yang bagus dan enak.

"Sebelumnya saya belum pernah bikin, tapi saya belajar-belajar buat, baru tawarkan saja ke pembeli," katanya, kepada Jubi, Selasa, 18 Desember 2018.

Wonda sudah bisa membuat lima jenis kue kering. Ada kue rambutan, nenas, puteri salju, coklat, dan fantasi.

"Membuat kue itu yang penting kita sudah tahu dasarnya, mau bikin dengan bentuk apapun kemudian tergantung kita yang atur,” kata mahasiswi FISIP Universitas Cenderawasih tersebut.

Dalam sehari Wonda membuat dua macam kue kering. Tergantung ketersediaan bahan dan waktu yang ia miliki. Kue kering pertama yang ia buat ia tawarkan ke teman-temannya di kampus, teman se pelayanan di gereja, dan kepada saudara-saudaranya dengan menginformasikan lewat Facebook.

"Sejauh ini belum ada yang datang ambil, tapi kalau cuma tawar-tawar itu ada, tapi tergantung mereka mau beli atau tidak,” katanya.

Wonda menjelaskan untuk pembuataan kue kering bahan-bahan yang digunakan tidak terlalu mahal. Bahkan jika diolah sendiri lebih baik lagi.

“Kalau beli bahan itu murah, misalnya satu kilogram tepung terigu itu bisa bikin kue kering dua jenis, jadi enak daripada kita beli, jadi dengan harga Rp 35 ribu itu kalau dibelikan bahan cukup banyak,” katanya.

Kue  kering hasil olahannya ia tawarkan per toples denga harga berbeda. Paling murah Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Sedangkan yang mahal Rp5 0 ribu per toples. Lebih mahal karena kuenya memakai coklat.

Tahun ini modal usahanya tidak banyak, hanya Rp 500 ribuan saja. Itu karena ia memulai terlalu mepet, sehingga tidak sempat membuat banyak.

Ia berencana akan membuka usaha Desember tahun depan lebih awal agar bisa membuat lebih banyak.

Perempuan Papua lainnya yang membuka usaha kue kering adalah Ester Ibo, asal Sentani. Awalnya Ibo berjualan bumbu dapur. Namun memasukan Desember ia juga mencoba membuat kue kering dan menjualnya juga di Pasar Pharaa.

“Saya mencoba menjual kue kering seperti pedagang pendatang, saya baru mulai seminggu,” katanya.

Ia memulai dengan delapan toples seharga Rp 35 ribu dan jika beli tiga toples Rp 100 ribu. Sedangkan beli satu karton Rp 400 ribu. Selain itu ia juga menjual dalam kemasan kantong plastik.

“Saya berharap kita punya orang Papua bisa datang membeli ke kita,” ujarnya.

Ia menyediakan aneka macam kue kering. Ada mawar, kacang, rasta, pale, rambutan, dan lainnya. Dalam sehari terjadang terjual satu hingga tiga toples atau bungkus.

“Belum banyak karena belum ramai, masih tanggal muda jadi," katanya.

Dalam kondisi kurang ramai pembeli ia belum bisa menentukan berapa besar yang ia peroleh dari usaha kue kering. Kecuali jika pembeli nanti sudah ramai.

“Pendapatan paling tinggi sehari paling Rp 200 ribu, kalau orang pesan itu lumayan ada berkat sedikit," katanya.

Di pasar tradisional Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, penjual kue kering juga sudah mulai banyak, namun hingga Senin, 17 Desember 2018 masih sepi pembeli.

Memang terlihat banyak pedagang kue kering musiman berjualan seperti halnya menjelang Idul Fitri. Beragam kue karang dijajakan seperti brownis kacang, nastar bulan, kacang-kacangan, nastar donat, longtong paris, black forest, dan stick kentang.

Seorang pedagang kue kering musiman, Astrid, mengaku sudah berjualan sejak 1 Desember, namun minat warga untuk membeli kue kering masih kurang.

"Satu hari kadang laku tiga sampai lima toples saja, satu toples saya jual Rp 35 ribu, kadang ada yang datang lihat-lihat sambil tanya harga," ujarnya.

Puncaknya, kata Astri, warga yang membeli kue kering terjadi pada 23 sampai 24 Desember.

"Biasanya menjelang Natal satu hari saya bisa laku 200 toples, lumayan lakunya, saya ambil dari yang buat kue Rp 30 ribu, lalu saya jual Rp 35 ribu, saya dapat Rp 5 ribu dari setiap penjualan satu toples," ujarnya.

Penjual kue kering lainnya, Handayani mengaku penjualan kue kering setiap Natal selalu ramai pembeli. Berbeda dengan hari raya idul Fitri.

"Kalau Natal tahunya orang mau jadinya, makanya banyak pembeli kue kering, kalau Idul Fitri sepi pembeli karena kebanyakan buat sendiri," ujarnya.

Soal penjualannya, Handayani mengaku masih sepi pembeli, padahal sudah berjualan kue kering dari 5 Desember. Sehari baru laku 4 toples. Biasanya 23-24 Desember baru bisa laku 250 toples per hari. (*)

loading...

Sebelumnya

Pendiri Kamar Adat Pengusaha Papua tuding KLB II ilegal

Selanjutnya

Harga $3.85 triliun untuk Freeport apakah kemahalan?

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe