Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Pendidikan seks harus diberikan kepada anak
  • Jumat, 21 Desember 2018 — 00:34
  • 1125x views

Pendidikan seks harus diberikan kepada anak

Pendidikan seks sangat penting diberikan kepada anak di Kota Jayapura untuk mengantisipasi terjadinya seks bebas dan pelecehan seksual. Ini sangat perlu karena tingkat pengetahuan pendidikan seks di masyarakat masih 68 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari - Jubi/Ramah

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SEKS adalah kebutuhan yang sangat alami dan melekat pada setiap manusia, tidak terkecuali pada remaja.

Menginjak usia remaja 10 tahun, anak makin dekat dengan pubertas. Pendidikan seks perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual dan seks bebas pada anak.

"Pendidikan seks sangat penting, maka itu jangan tabu mengajarkan anak agar terhindar dari seks bebas, bukan lagi zamannya orangtua harus tabu," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, di kantor Wali Kota Jayapura, Rabu, 19 Desember 2018.

Menurut Antari, orangtua cenderung merasa tabu mengajarkan pada anak akan pentingnya pendidikan seks yang menyebabkan anak terjerumus kepada perlakuan seks hingga melakukan seks bebas.

"Kita tidak boleh tabu lagi menjelaskan kepada anak, ketika kita memberikan penjelasan sejak dini, anak-anak menjadi tahu bagaimana menjaga kesehatan reproduksinya supaya terhindar dari penyakit," ujarnya.

Antari mengatakan pendidikan seks diajarkan dari keluarga seperti membersihkan kemaluan agar tidak infeksi dan mengajarkan anak agar menghindari perilaku seks bebas.

Meski perilaku seks bebas tergantung dari perilaku masing-masing individu, Antari menilai yang tak kalah pentingnya adalah pembinaan dan tetap menanamkan iman kepada anak.

Selain itu, cara sederhana anak diajarkan bisa mengenal perilaku seks seperti anak tidak boleh memasukkan sesuatu ke dalam kemaluan dan jangan melakukan hubungan suami istri bila belum waktunya.

"Untuk bisa memberikan pendidikan seks kepada remaja kami gencar melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi," ujarnya.

Berasarka data Dinas Kesehatan Kota Jayapuara, pada 2010 jumlah kasus HIV/AIDS 1.547 kasus sejak awal ditemukan di Papua pada 1996.

Sampai dengan 2018, jumlah kasus HIV/AIDS ada 6.189 kasus berdasarkan data kumulatif Dinas Kesehatan Kota Jayapura hingga Juni 2018.

Dari data tersebut, antara laki dan perempuan, perempuannya lebih banyak, yaitu 54,7 persen, sedangkan laki-laki 44,8 persen. Rata-rata usia produktif mulai dari 20-29 tahun.

Warga yang sudah melakukan tes HIV/AIDS dari Januari-September 12.613 orang. Dari jumlah itu ditemukan 664 orang yang positif atau lima persen.

Dari 664 tersebut, kata Antari, harusnya 100 persen sudah ditangani, namun ternyata ada 652 orang atau 98 persen yang masuk perawatan karena tidak mendengar hasil tes.

Sedangkan yang baru minum obat Antiretroviral (ARV) hanya 65 persen atau 434 orang dari Januari-September 2018 dan sudah dilakukan pemantauan sehingga tidak putus minum obat.

"Ini benar-benar harus diperbaiki melalui cara mengajarkan anak tentang pendidikan seks karena merupakan cara paling efektif agar anak bisa terhindar dari seks bebas dengan menanamkan pendidikan seks sejak dini dan itu dimulai dari keluarga," katanya.

Untuk mencegah lebih luas kasus HIV/AIDS, kata Antari, program promotif dan preventif lebih banyak disosialisasikan kepada masyarakat dengan melibatkan instansi teknis terkait.

"Membuat keterpaduan antara keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, gereja, masjid, kalau semua berperan, saya yakin bisa mengatasi perilaku seks bebas di usia remaja karena heteroseks ada 90 persen," katanya.

Bersasarkan survei HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI) Papua, kata Antari, pada 2016 ditemukan tingkat pengetahuan pendidikan seks di masyarakat masih 68 persen.

"Prestasi oke, tapi hal-hal yang negatif seperti seks bebas, narkoba, dan mabuk jangan dilakukan, jadi hati-hati dengan seks bebas karena banyak penyakitnya, usia muda diisi dengan prestasi untuk menggapai cita-cita," katanya.

Kepala SMP Negeri 6 Jayapura, Purnama Sinaga, mengatakan saat ini era digital, anak sudah pintar bermain gawai dan berselancar di media sosial.

"Harus dipantau untuk mengetahui aktivitas anak bila bermain ponsel, anak-anak juga harus selektif dan membuat hal yang positif agar terhindar dari seks bebas," ujarnya.

Menurutnya, pendidikan seks sangat penting agar anak terhindar dari perbuatan seks maupun pelecehan seksual.

Anak usia praremaja sudah harus belajar tentang seksualitas, hubungan dengan lawan jenis, dan masalah kesehatan.

"Kami selalu mengingatkan kepada anak agar takut kepada Tuhan dan terus mengikuti kegiatan positif agar berprestasi," katanya.

Materi dasar pendidikan seks yang diajarkan, lanjutnya, seperti mengenalkan pada anak tentang alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan dan bagaimana cara mencegahnya.

Selain itu, anak-anak sejak usia dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seksual yang sesuai dengan tahap perkembangan, dan menyampaikan secara nyaman agar mudah dipahami anak.

"Dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak, orangtua sebaiknya tidak tergesa-gesa, dengan pendidikan seks yang baik dapat mencegah perilaku seks bebas dan kehamilan pada usia dini," katanya.

Purnama menambahkan anak juga harus bisa diajak bicara dan berdiskusi seputar seks dengan orangtuanya sebelum anak mendapatkan dari orang lain, yang bisa saja menjerumus pada perilaku seks.

"Jangan tunggu sampai anak menjadi remaja baru memberikan pendidikan seks, pahamilah perkembangan diri, kesehatan, dan pertumbuhan anak," ujarnya.

Purnama mengimbau orangtua agar saat memberikan pendidikan seks kepada anak seharusnya secara berkala dan bertahap, tidak berlebihan, dan tidak berbelit-belit. (*)

loading...

Sebelumnya

Potensi beras Koya di pasar Kota Jayapura

Selanjutnya

Hukum adat Arfak dan Wondama untuk melestarikan kearifan lokal

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe