Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Tragedi Nduga di penghujung tahun 2018
  • Minggu, 28 Desember 2018 — 06:54
  • 363x views

Tragedi Nduga di penghujung tahun 2018

“Penanganan konflik bersenjata, harus menghindari korban sipil dan jangan sampai membuat panik masyarakat.”
Wartawan rubrik Lapago Meepago Islami Adisubrata. -Jubi/Dok Pribadi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Islami Adisubrata

TAHUN 2018 merupakan tahun politik, ditandai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada 27 Juni 2018 lalu. Di Papua sendiri, ada sejumlah daerah yang melaksanakan pilkada, termasuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, sementara di wilayah adat Lapago dan Meepago dilaksanakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya.

Pada Pilkada Serentak 2018 ini, yang cukup menyita perhatian saat digelarnya pilkada di Kabupaten Jayawijaya. Sehari setelah Komisioner KPU Jayawijaya resmi bekerja di kantor baru, sejumlah massa pendukung bakal calon, melakukan demonstrasi di depan kantor KPU Jayawijaya.

Aksi demonstrasi tersebut berujung bentrok antara aparat kepolisian dan pendemo, pada 9 Januari 2018. Bentrok disebabkan para pendemo mencoba menghalangi kandidat lain untuk mendaftar, sehingga kantor KPU Jayawijaya yang baru diresmikan dua hari, kaca-kaca jendelanya pecah dilempari batu oleh massa aksi.

Menurut Kapolres Jayawijaya, Yan Pieter Reba kala itu, massa dari beberapa kandidat yang disinyalir tidak mendapatkan partai, kembali menduduki kantor KPU Jayawijaya di hari pertama. Namun untuk menghindari bentrok, kepolisian mengambil langkah untuk menunda proses pendaftaran hari pertama.

Di Kabupaten Nduga, tepat 25 Juni 2018, terjadi penembakan terhadap pesawat Twin Otter Trigana Air yang membawa logistik pilkada, oleh kelompok bersenjata di Keneyam, Ibu Kota Kabupaten Nduga. Hal itu membuat Bupati Nduga, Yairus Gwijangge memutuskan, pelaksanaan pencoblosan untuk beberapa distrik, dipusatkan di Keneyam dan tetap sesuai agenda nasional.

Kejadian yang cukup menyita perhatian publik lainnya, terjadi pada 25 Agustus 2018, ketika Warga Negara Asing (WNA) asal Polandia, diamankan aparat kepolisian dan TNI di Jayawijaya. WNA tersebut bernama Jakub Fabian Skrzypski (39 tahun).

Dari keterangan polisi saat itu, Jakub dituding sebagai seorang jurnalis asing yang ingin meliput transaksi amunisi. Ia ditangkap bersama tiga warga lainnya, namun penanganannya diserahkan ke Polda Papua, untuk menjalani pemeriksaan. Barulah pada 2 November 2018, tersangka dan barang bukti diserahkan Polda Papua, kepada Kejaksaan Negeri Jayawijaya untuk selanjutnya dilakukan persidangan.

Pada 17 Desember 2018, sidang perdana Jakub pun dimulai dengan agenda mendengarkan surat dakwaan. Dikatakan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Wamena, Yajid SH. MH, sidang ditunda karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diminta menghadirkan penerjemah, tidak bisa memenuhinya. Penerjemah penting agar hak-hak terdakwa juga terpenuhi dan sidang berjalan dengan lancar.

Tak hanya itu, pada 11 Oktober 2018, ada kejadian di Mapenduma terkait sejumlah tenaga guru dan kesehatan yang bertugas di Distrik Mapenduma, yang dikabarkan mengalami tindakan pelecehan seksual dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata, dan menjadi berita hangat di berbagai media.

Namun pada 22 Oktober 2018, Sekda Kabupaten Nduga, Namia Gwijangge, membantah isu penyanderaan terhadap para guru dan tenaga kesehatan tersebut. Menurutnya, para tenaga guru tersebut tiba di Bandara Mapenduma, kemudian kelompok bersenjata melakukan razia terhadap barang bawaan mereka, akan tetapi tidak melakukan penyanderaan.

Dan pada penghujung tahun 2018 ini, kejadian yang paling menyita publik sampai dunia internasional adalah penembakan para pekerja di Distrik Mbua, Yal dan Yigi, di Kabupaten Nduga, yang mulai merebak pada 2 Desember 2018.

Puluhan pekerja PT. Istaka Karya dikabarkan menjadi korban penembakan kelompok bersenjata, yang belakangan mengklaim Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) sebagai pihak yang bertanggung jawab. Kejadian itu diketahui berawal dari laporan yang diterima pihak kepolisian, dari seorang hamba Tuhan (jemaat gereja) di wilayah tersebut, bahwa telah terjadi penembakan terhadap puluhan pekerja PT. Istaka Karya di puncak Gunung Kabo.

Menyikapi hal itu, tim gabungan TNI/Polri langsung menurunkan personel ke wilayah Mbua sampai Yal, untuk memastikan informasi tersebut. Hasilnya, memang ditemukan puluhan pekerja jembatan jalan Trans Papua Wamena-Mugi (Nduga), yang menjadi korban penembakan.

Proses evakuasi korban pun sempat terhambat karena sulitnya medan atau lokasi penembakan, ditambah terjadi kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata di wilayah itu. Akhirnya, pada 6 Desember 2018, 16 orang jenazah korban penembakan di Distrik Yal, berhasil ditemukan, dan harus dievakuasi ke Timika.

Sementara Pemerintah Kabupaten Nduga bersama DPRD, gereja, sejumlah tokoh, LSM hingga mahasiswa membentuk tim, untuk melakukan evakuasi terhadap korban sipil, maupun empat korban penembakan yang hingga kini masih belum ditemukan. Namun sekembalinya dari Mbua, tim ini justru menemukan empat warga sipil di tiga distrik berbeda, yang menjadi korban penembakan yang diduga imbas dari penyisiran pihak keamanan TNI dan Polri.

Hingga sekarang, tuntutan agar aparat keamanan baik TNI atau Polri segera ditarik dari Nduga, datang dari berbagai pihak termasuk Gubernur Papua, DPR Papua, dan Majelis Rakyat Papua. Aksi solidaritas untuk masyarakat di Nduga yang mengungsi ke hutan dan menjadi korban, terus berlangsung bahkan ketika perayaan Natal kemarin.

Dari semua kejadian di atas, diharapkan agar penyelesaian konflik atau bentrok antarwarga disebabkan pilihan politik, sebisanya tidak membuat warga sipil menjadi korban dan rusaknya fasilitas umum. Sama halnya dengan penanganan konflik bersenjata, harus menghindari korban sipil dan jangan sampai membuat panik masyarakat. Sebab masyarakat ingin hidup tenteram apalagi pada perayaan Natal dan menjelang Tahun Baru 2019. (*)

loading...

Sebelumnya

Begini cara Forkopimda Jayawijaya rayakan Natal bersama warga

Selanjutnya

"Kalau tidak sanggup amankan kota ini, kami pendeta siap,"

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe