Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Wairon, Festival Kanoe, dan pembuktian jejak leluhur suku Byak
  • Jumat, 28 Desember 2018 — 08:15
  • 881x views

Wairon, Festival Kanoe, dan pembuktian jejak leluhur suku Byak

PELAYARAN perahu Wairon dari Mokmer, Biak ke Jayapura, pulau Karkar selama hampir sebulan penuh mengitari bagian timur pulau New Guinea hingga tiba 1 Desember 2018 di Provinsi Milne Bay, Papua New Guinea, telah membuktikan perjalanan para leluhur suku Byak ke Australia maupun ke Republik Palau melalui Kepulauan Raja Ampat.
Perahu Wairon dalam perjalanan ke PNG - Jubi/IST

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

PELAYARAN perahu Wairon dari Mokmer, Biak ke Jayapura, pulau Karkar selama hampir sebulan penuh mengitari bagian timur pulau New Guinea hingga tiba 1 Desember 2018 di Provinsi Milne Bay, Papua New Guinea, telah membuktikan perjalanan para leluhur suku Byak ke Australia maupun ke Republik Palau melalui Kepulauan Raja Ampat.

Sebenarnya pelayaran dengan perahu Wairon dan Mansusu perahu perang sudah lama berakar dalam kebudayaan suku Byak. Apalagi dalam perjalanan pelayaran selalu dikawal dengan perahu Mansusu dengan para pendayung.

Sangaji Bernard Rumadas adalah seorang mambri yang mempunyai pengaruh di Teluk Gelvink yang pernah mengantar para penginjil dengan perahu dayung sebanyak 20 orang dari Pulau Mansinam ke Wondama dan Nabire

Menurut sejarahwan gereja di tanah Papua, Pdt Hanz Wanma, bahwa mambri Rumadas ketika itu berangkat  bersama 20 pendayung dari Pulau Mansinam dan mengantar para zendeling Geissler, Frans Mosche, dan Rudolf Bayer ke Wondama dan Nabire pada 1-15 Mei 1866. Pada 4 Mei 1866 mereka tiba di Jomber Roswar Teluk Wondama, 6 Mei 1866 tiba di Pulau Roon, dan selanjutnya 9 Mei tiba di Yaur, Nabire.

Sejarahwan dan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) AB Lapian dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX menyebutkan selama ini hanya orang Bugis saja yang dikisahkan dalam menjalin hubungan dagang dengan suku Aborigin Australia.

Namun kata AB Lapian tak banyak yang mengetahui jika orang Byak yang mendiami Pulau Biak dan Numfor dari Papua, juga telah lama dikenal pula sebagai para penjelajah lautan yang tangguh.

Motif yang menjadi faktor pendorong sebagai para pelaut dalam pelayaran mengarungi lautan karena beberapa motif antara lain persaingan atau korfandi, lingkungan geografis Biak karang panas dan kurang menguntungkan secara ekonomis.

Budaya maritime

Tokoh perempuan yang ikut dalam pelayaran Wairon dari Biak ke Samarai, Papua New Guinea, Tineke Rumkabu, sangat berharap agar generasi muda Papua khususnya anak anak muda Byak harus selalu mencintai budaya maritim yang telah ada sejak zaman leluhur.

“Ada kesamaan budaya antara masyarakat di Kampung Maywara, Aletau Provinsi Milne Bay. Mereka punya tradisi bakar batu sama dengan orang Byak, tidak menggali lubang tetapi langsung membuat barapen di atas tempat perapian dengan memindahkan arang-arang bekas kayu bakar,” katanya kepada Jubi, di Jayapura, belum lama ini.

Dia menambahkan dalam bahasa ada sedikit kesamaan misalnya orang di Kampung Mayawara menyebut air dalam bahasa setempat wara sedangkan bahasa Biak war. Begitupula dalam cara mendayung perahu ada kesamaan.

Hal senada juga dikatakan Mananwir Raja Ampat Paul Finsen Mayor kepada Jubi bahwa mantan Bupati Raja Ampat mendiang Marcus Wanma pernah melakukan pelayaran dengan perahu dari Pulau Numfor ke Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat.

“Mantan Bupati Raja Ampat Marcus Wanma pernah naik perahu dari Numfor ke Raja Ampat guna mengenang para leluhur,” katanya, seraya menambahkan bukan di Raja Ampat saja ada orang suku Byak di Republik Palau terdapat perkampungan suku Byak antara lain marga-marga antara lain Mirino dan Mayora.

Tak heran kalau Mananwir Paul Finsen Mayor juga berniat melibatkan perahu Wairon dari Raja Ampat juga dalam Festival Perahu Perang dan Tifa di Aletou, Milne Bay Province PNG pada 2019 mendatang.

Mama Tineke Rumkabu mengatakan masyarakat di Aletou Milne Bay sangat berharap kehadiran tim Wairon dari Papua untuk ikut festival di Milna Bay.

“Mereka minta kalau boleh ada tiga perahu Wairon dari Papua Barat untuk ikut meramaikan Festival Perahu Perang dan Tifa di Milna Bay, 2019,” katanya.

Festival Canoe Milna Bay

Tim perahu Wairon dari Papua Barat yang semula hendak mengikuti Festival Kano dan Kundu di Milna Bay berlangsung tiap tahun sejak 2-4 November 2018. Tim Wairon terlambat karena tiba di sana pada 1 Desember 2018. Saat ini perahu Wairon sedang disimpan di Kampung Maiwara, Aletau Milne Bay Province.

“Kami rencana tahun 2019 baru ikut festival,” kata Tineke Rumkabu.

Setiap tahun akhir Minggu pertama November, ibu kota Provinsi Milne Bay yang kecil dan damai, Alotau, ramai dikunjungi peserta festival kano tradisional, dan bunyian tabuhan tifa dan suara dari triton atau cangkang keong. Ini merupakan Festival Kenu dan Kundu Nasional tahunan di Papua Nugini.

Kano dan drum kundu atau fifa merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Teluk Milne, Papua Nugini. Perahu perang, secara khusus dibuat dari kayu khusus di bawah kebiasaan ketat untuk mendapatkan hasil terbaik dan memastikan penggunaannya berhasil atau menang.

Kano yang digunakan dalam festival ini dibuat dengan cara yang sama seperti nenek moyang orang Milne Bay membangun kano mereka sendiri bertahun-tahun yang lalu. Semoga tahun 2019 perahu Wairon hadir di tengah Festival Kanoe dan Kundu di  Milne Bay, PNG. (*)

loading...

Sebelumnya

Jonan : Kontrak Freeport beda dengan kontrak perusahaan migas

Selanjutnya

Pemalangan, dominasi fasilitas umum di Merauke

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe