Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ada apa di Nduga?
  • Sabtu, 29 Desember 2018 — 03:39
  • 2921x views

Ada apa di Nduga?

Namun di balik perbedaan ideologi kedua pihak, ada warga sipil menjadi korban. Ideologi memang tak dapat dibunuh. Selalu dalam hati dan diyakini kebenarannya. Tapi ideologi tidak mesti mengorbankan nyawa warga sipil tak bersalah.
Wartawan rubrik Polhukam, Arjuna Pademme - Jubi/Dok Pribadi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh : ArjunaPademme

Kabupaten Nduga yang berada di Pegunungan Tengah Papua hampir tak pernah luput dari pemberitaan media, dalam beberapa bulan terakhir.

Berbagai peristiwa kekerasan terjadi wilayah itu, sejak Juni 2018 hingga Desember 2018.

Pada 22 Juni 2018, kelompok bersenjata menembaki pesawat Dimonim Air saat mendarat di Nduga. Pesawat yang berangkat dari Timika, dipiloti Kapten Kasta Gunawa dengan co-pilot Irena Nur Fadila itu, membawa 17 personel perbantuan Brimob untuk pengamanan Pigub Papua.

Akibat aksi itu, pergelangan kaki kanan co-pilot Irena Nur Fadila terkena serpihan peluru. Bagian depan pesawat tertembak.

Tiga hari setelahnya, 25 Juni 2018, kelompok bersenjata di Nduga menembaki pesawat Twin Otter Trigana Air PK-YRU rute Wamena-Keneyam. Pesawat ini juga membawa 15 orang anggota Brimob yang diperbantukan mengamankan pilkada gubernur (pilgub) di Nduga.

Pilot pesawat, Abdillah Kamil terkena serpihan peluru di bagian bahu sebelah kanan dan kepala bagian belakang. Para pelaku yang melarikan diri usai kejadian, disebut melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Kepala Penerangan Daerah Militer XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi ketika itu mengatakan, tiga warga meninggal dunia akibat diserang kelompok bersenjata yang melarikan diri. Korban yakni Margaretha Pali (28), Hendrik Sattu Kola (38), dan Zainal Abidin (20). Arjuna Kola (6), putra Margaretha dan Hendrik, mengalami sejumlah luka akibat terkena sabetan benda tajam.

Penembakan di Kabupaten Nduga berlanjut, 6 Juli 2018. Sasarannya, personel Brimob yang melakukan pengamanan di Bandara Keneyam. Anggota Resimen 1 Pelopor Brimob, Bharada Rafindo Refli Sagala terluka tembak dalam penyerangan itu.

Pasca serangkain peristiwa itu, Rabu, 11 Juli 2018, aparat keamanan menyisir Kampung Alguru. Daerah yang diduga basis kelompok bersenjata.

Dalam upaya penegakan hukum itu, aparat keamanan diisukan menggunakan helikopter dan bom. Warga di daerah tersebut, dikabarkan mengungsi ke hutan, karena khawatir menjadi korban salah sasaran.

Irjen Pol Boy Rafli Amar, yang ketika itu menjabat Kapolda Papua membantah penggunaan helikopter dan bom dalam upaya penegakan hukum. Katanya, aparat keamanan hanya berupaya melindungi masyarakat lain, agar tidak ada korban lagi.

Menurutnya, upaya penegakan hukum harus dilakukan untuk memberikan keadilan terhadap para korban yang meninggal akibat ulah kelompok bersenjata di wilayah itu.

Jelang akhir Oktober 2018, pemberitaan terkait Nduga kembali menghiasi media. Belasan guru dan tenaga medis yang mengabdi di Distrik Mapenduma diberitakan disekap kelompok bersenjata, kurang lebih dua pekan. Ada di antara guru wanita mengalami kekerasan seksual.

Awal Desember 2018, kabar duka kembali tersiar dari Nduga. Puluhan pekerja jalan Trans Papua di wilayah itu, mengalami kekerasan. Belasan di antaranya meninggal dunia, dan sejumlah lainnya berhasil melarikan diri.

Beberapa hari setelah evakuasi korban, aparat keamanan diberitakan melakukan penyisiran di Mbua dan Yigi. Kabarnya dalam upaya penegakan hukum itu, aparat keamanan menggunakan bom dan helikopter untuk menembak dari udara.

Empat orang warga sipil disebut ditemukan meninggal dunia setelah penyisiran. Puluhan bahkan mungkin ratusan warga di wilayah itu mengungsi ke hutan, karena khawatir menjadi sasaran kedua pihak.

Namun Kepala Penerangan Daerah Militer XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, tidak ada penggunaan bom dan tembakan dari pesawat maupun helikopter dalam upaya mengejar kelompok bersenjata di Nduga.

Sejumlah aksi kekerasan di Nduga beberapa bulan terakhir, membuat masyarakat setempat tak tenang. Bahkan menjelang perayaan Natal, 25 Desember 2018, warga Nduga harus menyambutnya dengan keresahan.

Mungkin ada di antara mereka menyambut dan merayakan Natal di hutan, atau wilayah lain yang menjadi tujuan pengungsian. Mereka Terpaksa meninggalkan rumah dan kampungnya, karena khawatir terkena imbas perseteruan kelompok bersenjata dan aparat keamanan.

Selain itu, trauma masa lalu pascaoperasi militer pembebasan sandera Mapenduma, 8 Januari 1996 - 9 Mei 1996, masih membekas hingga kini di ingatan sebagian besar masyarakat asli Nduga.

Berbagai peristiwa kekerasan di Nduga dalam beberapa bulan terakhir, mungkin tak lepas dari berbagai kepentingan.

Kelompok bersenjata mengklaim memperjuangkan kemerdekaan Papua. Polri dan TNI memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati.

Namun di balik perbedaan ideologi kedua pihak, ada warga sipil menjadi korban. Ideologi memang tak dapat dibunuh. Selalu dalam hati dan diyakini kebenarannya. Tapi ideologi tidak mesti mengorbankan nyawa warga sipil tak bersalah.

Semoga ke depan tidak ada lagi warga sipil yang nyawanya direnggung paksa di Nduga, hanya karena perbedaan ideologi atau kepentingan tertentu pihak lain.

Jangan ada lagi masyarakat mengungsi ke hutan.

Kedua pihak mesti dapat menahan diri. Memperjuangkan dan mempertahankan ideologi masing-masing dengan cara yang lebih bermartabat.

Jika kedua pihak selalu memilih cara kekerasan, sampai kapan pun sulit menghindari jatuhnya korban. Tidak hanya dari kedua pihak, juga dari kalangan warga sipil.

Kalau bukan kedua pihak berkonflik yang berupaya menyelesaikan pertikaiannya dengan cara damai, entah berapa banyak lagi korban pada masa mendatang. 

Sudah semestinya kedua pihak memikirkan bagaimana mencari solusi terbaik tanpa harus ada nyawa warga sipil tak bersalah lepas dari raga. Atau mungkin perlu ada pihak ketiga yang menfasilitasi penyelesaian konflik kedua kubu. (*)

loading...

Sebelumnya

Inilah pemain muda Papua yang bakal bersinar di Liga1 musim 2019

Selanjutnya

Kilas balik ekonomi di Papua tahun ini

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe