Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. "Kalau tidak sanggup amankan kota ini, kami pendeta siap,"
  • Sabtu, 29 Desember 2018 — 15:18
  • 24698x views

"Kalau tidak sanggup amankan kota ini, kami pendeta siap,"

Saya tantang satu tahun pendeta pimpin keamanan di Wamena ini, jika memang kepolisian tidak sanggup
Aksi damai sejumlah paguyuban, FKUB, PGGJ di Polres Jayawijaya meminta agar kepolisian memberikan jaminan keamanan masyarakat di Wamena-Jubi/Islami
Islami Adisubrata
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi - Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam berbagai paguyuban, kerukunan keluarga di Wamena meminta Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Piter Reba segera diganti, karena dianggap tidak bisa memberikan rasa keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat di Kota Wamena.

Hal ini dilakukan sebagai rasa kekecewaan masyarakat terhadap aksi penjambretan dengan kekerasan oleh oknum masyarakat, sehingga mengakibatkan seorang Pendeta bernama Clarce Rinsampessy Salamena meninggal dunia pada Jumat (28/12/2018) sekitar pukul 20.00 WP di depan rumahnya di jalan SD Percobaan Wamena. Tepatnya di depan gereja Effata.

Aksi damai yang diinisiatifi oleh antara lain Forum Komunikasi Kerukunan dan Paguyuban Nusantara Jayawijaya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jayawijaya, Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya (PGGJ), Ikemal se pegunungan tengah Papua, Sabtu (29/12/2018) di halaman mapolres Jayawijaya ini meminta polisi memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat.

Pendeta Alexander Mauri yang memimpin aksi damai di Mapolres Jayawijaya mengatakan aksi itu sebagai bentuk keprihatinan masyarakat, tokoh gereja, tokoh masyarakat dan hadir untuk mendukung pemerintah, Polri dan TNI yang ada di kota ini harus berantas segala tindak kejahatan yang ada.

“Ini hari natal, pendeta dibunuh di depan gereja. Ini keji, kami tidak tolerir ini. Kami minta pelaku ditangkap dan ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Pendeta Mauri.

Ketua FKUB Jayawijaya, Pendeta Esmon Walilo mengatakan, aksi pembunuhan terhadap masyarakat ini bukan kali ini saja terjadi, dimana sering kali terjadi kasus-kasus tetapi tidak pernah diungkap pelakunya.

“Saya kira polres Jayawijaya ini tidak pernah bekerja dengan baik, padahal sudah sering dilakukan pertemuan bersama sejumlah tokoh dan organisasi bahas soal keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi tidak pernah aman juga,” ujar pendeta Walilo.

FKUB juga pernah usul, agar senjata tajam yang dibawa masyarakat tidak boleh masuk ke Kota Wamena. Namun tetap terjadi. Sehingga, ia beranggapan jika hal ini suatu pembiaran yang terjadi.

“Sekarang kalau lihat orang bawa parang atau pisau di kota jadi takut. Kami minta kapolres lihat hal ini sehingga kejahatan tidak lagi terjadi,” ujar dia.

“Kenapa di pulau Jawa kalau ada pembunuhan, pelakunya bisa dapat cepat. Kenapa di Wamena ini susah sekali. Kalau kasus pembunuhan ini tidak bisa diungkap, maka ke depan kejahatan akan semakin marak ,” tambah dia.

Sekretaris Forum Komunikasi Kerukuranan dan Paguyuban Nusantara Jayawijaya, Iswardi mengungkapkan, rentetan tindak kejahatan di Wamena sejak 2013 dinilai tidak pernah ada suatu penyelesaian.

“Kasus-kasus pembunuhan yang tidak bisa diungkap ini, pertanyaannya apa sebenarnya kerja kepolisian, kalau tidak sanggup bilang biar kita ganti Kapolres,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan akar persoalan keamanan di Wamena hanya dua, minuman beralkohol dan perjudian. Untuk itu, pihaknya meminta agar judi dan miras ini segera diselesaikan dan diberantas.

“Kalau pemuka agama saja sudah tidak dihargai masyarakat, apalah arti kita sebagai masyarakat biasa,” katanya.

Pendeta Wilirum seorang tokoh agama lainnya menyebutkan agar kepolisian dan pemerintah dapat mengumpulkan seluruh kepala distrik, kepala kampung dengan tokoh gereja, tokoh masyarakat bicara sebuah konsep yang tepat untuk menata kota ini untuk masalah keamanan.

“Kalau tidak sanggup amankan kota ini, kami pendeta siap amankan kota ini. Saya tantang satu tahun pendeta pimpin keamanan di Wamena ini, jika memang kepolisian tidak sanggup. Makanya kami minta dalam waktu secepatnya kapolres Jayawijaya diganti,” katanya.

Kepala suku besar Maluku se pegunungan tengah Papua, Christian Sohilait mengungkapkan sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan kepolisian yaitu ambil tindakan agar seluruh miras dan sajam di kota Wamena dibersihkan.

Kedua, pelaku pembunuhan terhadap pendeta Clarce Rinsampessy Salamena ini ditangkap, dalam waktu 2x24jam Kapolres Jayawijaya harus diganti dan meminta kepada kepolisian dan pemerintah daerah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk memasuki tahun baru tidak ada minum-minuman beralkohol dan perjudian.

“Tiga hari lepas tahun 2018, biasanya memasuki tahun baru ini orang mempersiapkan minuman beralkohol besar-besaran di Wamena,” ujar Sohilait. (*)

loading...

Sebelumnya

Tragedi Nduga di penghujung tahun 2018

Selanjutnya

Pemda dan polisi Jayawijaya akan sweeping Sajam,berantas Miras

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe