Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Kilas balik ekonomi di Papua tahun ini
  • Minggu, 30 Desember 2018 — 07:23
  • 1767x views

Kilas balik ekonomi di Papua tahun ini

Kemenhub meminta masyarakat untuk segera melapor ke pihak bandara setempat bila menemukan kenaikan harga tiket pesawat yang tidak wajar menjelang Natal dan Tahun Baru 2019.
Wartawan rubrik ekonomi, Sindung Sukoco, Ramah, dan Yance Wenda.-Jubi/Dok Pribadi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Sindung Sukoco, Ramah, dan Yance Wenda

Lobi untuk menekan harga tiket pesawat

MASYARAKAT Papua sudah maklum, jika mendekati hari besar keagamaan seperti Natal dan Idulfitri atau libur sekolah harga tiket pesawat dari dan ke Papua selalu selangit.

Tak tanggung-tanggung, harga bisa lebih Rp12 juta sekali perjalanan dari Jayapura ke Jakarta atau sebaliknya. Bahkan pada 2018 pernah dikomentari seorang warga melalui Facebook bahwa harga tiket sama dengan harga satu unit sepeda motor baru.

Bahkan seorang pemilik hotel di Jayapura menyebutkan harga tersebut mengalahkan tiket pergi wisata ke Malaysia, Australia, atau  Singapura.

Pemprov Papua telah melakukan berbagai upaya agar tiket pesawat tidak melonjak karena juga berdampak terjadinya inflasi. Salah satu dilakukan melakui acara FGD (Focus Group Discussion) yang melibatkan maskapai yang melayani rute intra Papua dan keluar daerah.

Gubernur Papua Lukas Enembe juga pernah meminta maskapai untuk menurunkan harga tiket pesawat yang melambung terlalu tinggi setiap jelang Natal dan Idulfitri.

Meski banyak pihak di Papua mengeluh, ternyata Kementerian Perhubungan mengaku belum mendapatkan laporan tentang lonjakan harga tiket tak wajar atau melebihi tariff batas atas.

Kemenhub meminta masyarakat untuk segera melapor ke pihak bandara setempat bila menemukan kenaikan harga tiket pesawat yang tidak wajar menjelang Natal dan Tahun Baru 2019. Bahkan Kemenhub menginformasikan sudah ada perintah pemasangan spanduk besar di semua bandara mencantumkan tarif per maskapai.

Kepala Bidang Pelayanan dan Kerjasama Unit Penyelenggara Bandar Udara  (UPBU) Kelas 1 Utama Sentani Sigit Pramono menyebutkan, terbatasnya slot penerbangan penyebab naiknya tiket.

Ia menawarkan penambahan slot dengan membuka jadwal dari pukul 5 pagi hingga 8 malam dan berharap ada maskapai yang menggunakannya. Saat ini 28 slot dari pukul 7-9 pagi sudah penuh. Sayang belum ada maskapai yang memanfaatkannya.

Kita berharap Pemprov Papua bisa melobi maskapai untuk menambah slot penerbangan agar masalah tiket teratasi.

Memperhatikan bahan baku perajin noken

Masyarakat Papua mengenal noken sebagai tempat menyimpan dan membawa barang.

Noken asli terbuat dari bahan alam seperti serat pohon, daun pandan, daun sagu, daun kelapa, dan rumput rawa. Seiring perkembangan zaman, kini noken bisa dijumpai berbahan benang wol.

Noken hanya dibuat oleh Mama Papua. Pada kehidupan tradisional, mama adalah pencari nafkah seperti mengurus kebun hingga menjual noken.

Dalam perkembangan saat ini, noken salah satu penggerak perekonomian karena sudah menjadi mata pencarian bagi masyarakat Papua.

Untuk membangkitkan kembali kerajinan tangan masyarakat Papua di tujuh wilayah adat, Unesco telah menetapkan noken sebagai warisan budaya tak benda pada 4 Desember 2012 di Paris, Prancis, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Noken se-Dunia.

Untuk menjaga warisan budaya tersebut, sepanjang 2018, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan instansi teknis terkait saling bahu-membahu mengadakan kegiatan mendukung noken. Ada pelatihan, bantuan alat pemintal, pendampingan, dan pameran.

Melalui pelatihan, perajin noken mengikuti perkembangan di bidang digital untuk meningkatkan pemasaran.

Hingga kini, peminat noken semakin banyak, kreativitas perajut noken, baik mahasiwa maupun ibu rumah tangga terus berkembang. Ini sangat bagus mencegah noken dari kepunahan.

Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura juga menggelar ferstival noken dengan menghadirkan penyulan noken dari seluruh kabupaten dan kota di Papua.

Selain menjaga warisan itu juga dilakukan agar menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat Papua dan menjaga masa depan perajin noken.

Meski demikian, perajin noken di Papua selalu diimbau untuk melestarikan lingkungan dengan tidak menebang pohon sembarangan.

Dukungan banyak pihak kepada perajin noken ini sangat bagus dan harus tetap dilanjutkan. Namun ke depan dukungan untuk membudidayakan bahan baku noken juga perlu didorong agar tidak terlalu tergantung kepada bahan yang ada di alam.

Tempat OAP dalam menata pasar tradisional

Pemerintah daerah terus menata pasar tradisional. Di Kabupaten Jayapura Pasar Pharaa Sentani merupakan pasar sentral yang dibangun 2017. Meski belum diresmikan, pedagang sudah mulai menempati los. Pasar ditempati pedagang di pasar lama, termasuk beberapa Orang Asli Papua (OAP).

Hanya saja kemudian banyak pedagang OAP yang berjualan di ‘pasar kaget’ di beberapa pinggir jalan. Dampaknya Pasar Pharaa menjadi sepi.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang mencoba menertibkan, namun tidak berhasil karena pedagang ‘pasar kaget’ yang umumnya Mama-Mama tersebut meminta fasilitas payung di Pasar Pharaa agar mereka nyaman berjualan. Mereka juga protes kenapa di Pasar Pharaa justru banyak non-OAP, sedangkan mereka yang OAP tidak mendapat tempat.

Kejadian mirip juga di Pasar Doyo Baru. Meski sudah dioperasikan, akhirnya pedagang banyak yang memilih berjualan di eks Pasar Polres Doyo. Alasannya Pasar Doyo Baru tersebut sepi pengunjung. Penertiban yang dilakukan dinas gagal, karena pedagang sekalu kembali.

Problem inilah salah satu yang dihadapi dalam pengelolaan pasar tradisional di Kabupaten Jayapura.

Hal seperti ini perlu diselesaikan di pasar tradisional dan pemerintah harus membuka mata, melihat bagaimana kondisi rakyat Papua yang berjualan melantai di tempat yang panas. 

Mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, namun ini menjadi salah satu masalah yang harus dilihat dengan serius oleh Pemkab Jayapura dan Pemprov Papua.

Pemkab Jayapura juga harus melakukan pemerataan tempat di bangunan pasar kepada pedagang OAP dan non-OAP agar mereka melakukan usaha dengan fasilitas yang sama. Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Jika itu dilakukan maka mama-mama pedagang OAP akan merasa aman dan tidak memilih untuk bertahan di ‘pasar-pasar kaget’. (*)

loading...

Sebelumnya

Divestasi Freeport transparan, Misbakhun anggap usul hak angkat hanya cari perhatian

Selanjutnya

Legislator dan Damri dorong terbentuknya BUMD transportasi

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe