Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Senpi jadi mahar perkawinan, Kapolda Papua Barat: Ini ancaman
  • Kamis, 03 Januari 2019 — 16:51
  • 1886x views

Senpi jadi mahar perkawinan, Kapolda Papua Barat: Ini ancaman

Hal ini diakibatkan banyaknya pemesan gelap yang sampai saat ini masih bersembunyi dibalik budaya mahar perkawinan (mas kawin).
Kapolda Papua Barat, Brigjen Rudolf Albert Rodja (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Manokwari, Jubi - Kapolda Papua Barat Brigjen Rudolf Albert Rodja menyatakan bahwa penyelundupan senjata api (senpi) ke Manokwari masih terus berlangsung hingga saat ini. Hal ini diakibatkan banyaknya pemesan gelap yang sampai saat ini masih bersembunyi dibalik budaya mahar perkawinan (mas kawin).

Hal ini jika tidak segera ditertibkan, justru akan menjadi ancaman bagi keamanan dan ketertiban umum. Kendati ada alasan budaya oleh salah satu suku di Manokwari yang menjadikan senjata sebagai mas kawin, akan tetapi bisa saja menjadi strategi bagi kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi seperti itu.

"Beberapa waktu lalu, Polres Manokwari telah amankan sejumlah pucuk senjata api tak bertuan yang dikirim melalui kapal laut. Ini pertanda, bahwa ada pemesan di Manokwari. Jadi kita jangan lengah, meski ada salah satu suku di Manokwari yang menggunakan senjata sebagai mas kawin, tapi itu senjata api peninggalan perang,” ujarnya di Mapolda Papua Barat belum lama ini.

Lanjut Rodja, pihaknya sudah memerintahkan Kapolres Manokwari dan jajaran reskrimnya untuk mengejar pelaku pemilik senjata api tersebut. Tidak ada alasan budaya atau tradisi, karena hal tersebut bagi Rodja, adalah modus yang dipakai oleh kelompok tertentu untuk mengumpulkan kekuatan senjata dan pada waktunya bisa digunakan jika mereka merasa kuat.

"Mulai sekarang kita akan mengambil langkah tegas, dan saya sudah perintahkan Kapolres Manokwari untuk mengejar pelaku pemesan dan pemilik senjata api tersebut. Ini modus, jangan kita terkecoh. Mereka bisa kumpulkan senjata dan sewaktu-waktu bisa menyerang, jika mereka rasa sudah kuat,”  ujarnya.

Dari catatan media ini, satu terpidana pelaku penembakan berinisial OI warga Distrik Tanah Rubuh Manokwari, sudah ditangkap pertengahan 2018 lalu. 

OI diketahui adalah residivis pemilik senjata api yang kabur dari Lapas Manokwari pada tahun 2012. Dia kemudian melakukan aksi penembakan di Kampung Warnyeti Distrik Tanah Rubuh pada tahun 2014 dan menewaskan satu Mahasiswa Unipa.

Dia (OI) lalu melarikan diri bersembunyi di hutan selama tiga tahun pasca penembakan tahun 2014 dan baru tertangkap oleh tim gabungan Polres Manokwari dan Polda Papua Barat pertengahan 2018 lalu. 

Kondisi serupa inilah yang kemudian dikhawatirkan oleh Kapolda Papua Barat. Meski ada budaya yang mewajibkan penggunaan senjata api bekas perang dunia II sebagai mahar perkawinan, tapi kemudian bisa dimanfaatkan oleh kelompok tertentu tengah berembrio di semua tempat. (*)

loading...

Sebelumnya

Provinsi konservasi di tengah derasnya laju investasi

Selanjutnya

Catut nama pejabat Polda Papua Barat, Godhelp: Pangkas pemasok miras

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe