Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Hoaks tsunami di Jayapura
  • Senin, 07 Januari 2019 — 19:56
  • 668x views

Hoaks tsunami di Jayapura

SERATUSAN warga Kota Jayapura, khususnya di Hamadi dan Entrop, Distrik Jayapura Selatan dikejutkan oleh isu yang berembus Minggu dinihari, 6 Januari 2019. Kabar yang beredar menyebutkan Jayapura bakal dilanda tsunami. Mereka pun ramai-ramai mengungsi ke kantor wali kota Jayapura dan Kodam XVII/Cenderawasih.
Masyarakat yang mengungsi ke kantor wali kota usai mendengar isu tsunami - Jubi/Satpol PP Kota Jayapura
Roy Ratumakin
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SERATUSAN warga Kota Jayapura, khususnya di Hamadi dan Entrop, Distrik Jayapura Selatan dikejutkan oleh isu yang berembus Minggu dinihari, 6 Januari 2019. Kabar yang beredar menyebutkan Jayapura bakal dilanda tsunami. Mereka pun ramai-ramai mengungsi ke kantor wali kota Jayapura dan Kodam XVII/Cenderawasih.

Warga Kelurahan Entrop, M. Ridwan, membenarkan bahwa ada masyarakat yang mengungsi setelah mendengar kabar tsunami. Pasalnya dikabarkan air laut di Hamadi surut sehingga dirinya pun ikut mengungsi.

“Saya tidak bisa berpikir dengan cepat karena posisinya sudah tengah malam. Mendengar ada isu itu saya langsung menyuruh keluarg saya untuk mencari tempat yang paling tinggi yaitu di kantor wali kota,” kata Ridwan.

Dia mengaku tak mengetahui siapa yang menyebarkan hoaks itu. Oleh karena itu, dirinya sempat panik sehingga segera mencari perlindungan di kawasan yang dianggap aman.

“Saya lihat masyarakat ada yang lari ke daerah Jaya Asri, kantor wali kota, dan ke Kodam. Masyarakat sudah tidak peduli dengan harta benda, yang penting selamat dulu,” katanya.

Mendengar informasi tersebut, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Jayapura, Muchin Ningkeula, dan beberapa anggotanya langung menemui warga yang mengungsi. Alhasil, disebutkan isu tsunami merebak dengan cepat sehingga membuat mereka panik.

Pihaknya langsung berkoordinasi dengan BNPB Kota Jayapura untuk mengecek kondisi air laut Hamadi. Setelah dicek, ternyata informasi tersebut adalah hoaks.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah V Papua, Petrus Demon Sili, mengatakan isu tsunami tidak benar alias hoaks.

Maka dari itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak langsung percaya dengan isu-isu tersebut.

“Monitoring terakhir pada 6 Januari 2019 pagi tidak terjadi gempa dengan kekuatan besar 7.0 SR yang dapat membangkitkan potensi tsunami di wilayah Jayapura. Namun kami mengimbau agar waspada terhadap potensi gelombang tinggi di perairan Jayapura dan Sarmi ataupun Samudera Pasfik, terutama bagi nelayan ataupun yang ingin berkegiatan di sekitar pantai,” kata Petrus Demon Sili.

Dari hasil monitoring kondisi iklim di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya menunjukkan terjadi musim hujan hingga Maret 2019 dengan puncaknya pada Februari 2019. Hal ini menyebabkan frekuensi kejadian hujan di kota Jayapura meningkat.

Hasil evalusi kondisi cuaca menunjukkan terjadi gangguan pola angin berupa terbentuknya daerah belokan angin di wilayah utara Papua, yang disebabkan tumbuhnya siklon tropis Penny dan Mona yang terbentuk di wilayah tenggara Papua Nugini dan bergerak menuju Pasifik Barat.

Selain itu juga hasil evaluasi suhu muka laut di perairan utara Papua terpantau hangat dan kondisi kelembaban relatif pada lapisan atas terpantau cukup basah yaitu berkisar antara 75 – 100 %. Kondisi-kondisi tersebut di atas mendukung terbentuknya awan-awan hujan. Awan-awan hujan yang terbentuk tersebut adalah jenis awan konvektif (cumulonimbus) yang dapat menyebabkan hujan terjadi dengan intensitas sedang – sangat lebat dalam beberapa hari ini (3 – 5 Januari 2019).

Hasil observasi curah hujan pada stasiun Meteorologi Dok II dan Stasiun Meteorologi Sentani yaitu sebesar 175.4 mm/hari dan 68.6 mm/hari dan termasuk kategori sangat lebat. 

“Hujan yang terjadi menyebabkan genangan dan longsor di beberapa wilayah di Kota Jayapura, Sentani, dan sekitarnya yaitu di antaranya banjir di PTC Entrop dan terputusnya jalan di samping kantor wali kota," katanya.

Disinggung soal perakiraan cuaca di Kota Jayapura dan sekitarnya, Petrus mengatakan untuk tiga hari ke depan (7-9 Januari 2019), diperkirakan kondisi cuaca kota Jayapura secara umum berawan dan adanya potensi terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada siang, malam hari dan dini hari. Kecepatan angin di perkirakan berkisar antara 10 – 25 knot bertiup dari arah barat-utara.

"Tinggi gelombang di wilayah perairan Jayapura dan Sarmi diperkirakan berkisar antara 1.5 – 2,5 meter untuk tiga hari ke depan (7-9 Januari 2019). Selain itu waspadai juga bencana hidrometeorologis seperti longsor, banjir, pohon tumbang, angin kencang yang berpotensi terjadi selama musim penghujan ini," katanya.

Ketika terjadi fase bulan baru atau bulan purnama, secara bersamaan di belahan bumi yang terdekat dengan bulan akan mengalami pasang karena massa air laut dalam cakupan wilayah yang luas akan tertarik (pasang). Saat yang sama belahan bumi lainnya yang massa air lautnya telah tertarik oleh belahan bumi yang mengalami pasang, sehingga belahan bumi lainnya tersebut mengalami surut. 

"Saat salah satu sisi belahan bumi mengalami pasang, maka di sisi belahan bumi lainnya yang massa air lautnya telah tertarik karena gravitasi bulan akan mengalami surut. Saat ini kita sedang mengalami fase bulan baru. Jadi, sangat berpengaruh terhadap pasang dan surut air laut seperti yang terjadi di pantai sekitar pesisir kota Jayapura," ujarnya.

Meski diingatkan BMKG, warga Kota Jayapura seakan tak mengindahkan perubahan cuaca selama beberapa hari terakhir. Pantauan Jubi, di bawah gerimis dan awal tebal, warga memadati pantai Hamadi, Minggu siang hingga sore. Mereka melakukan rekreasi di pantai yang sebelumnya dikabarkan bakal terjadi tsunami.

Kini polisi sedang memburu oknum penyebar hoaks tsunami. Kapolres Jayapura Kota, AKBP Gustav Robby Urbinas, mengaku sedang mendalami siapa oknum yang menyebarkan hoaks itu.

“Saya tidak ingin isu ini disebarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, untuk meraih keuntungan pribadi dengan melakukan tindakan pencurian terhadap rumah yang ditinggal oleh penghuninya, karena takut soal isu tsunami tersebut,” kata Urbinas.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, mengimbau agar tidak terpancing dengan isu-isu tsunami. Kalau pun mau mengungsi, sedianya memperhatikan keselamatannya. Jangan sampai terburu-buru hingga mengakibatkan kecelakaan di jalan. (*)

loading...

Sebelumnya

Awal tahun, longsor hingga banjir landa Jayapura

Selanjutnya

Kebangkitan ekonomi orang asli Lanny Jaya

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe