Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Kondisi pengungsi di hutan Nduga kian memprihatinkan, tiga meninggal
  • Selasa, 08 Januari 2019 — 18:13
  • 8979x views

Kondisi pengungsi di hutan Nduga kian memprihatinkan, tiga meninggal

Leribina Gwijangge, Lerni Gwijangge, Elsina Kogeya, dan Bobina Kogeya telah bersalin di hutan.
Warga Nduga yang mengungsi . Jubi/ist
Benny Mawel
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi - Sejak operasi militer berlangsung di Nduga Papua pertengahan Desember tahun lalu, hingga kini ribuan orang lari mencari aman ke hutan rimba.

"Sampai saat ini, ada yang tinggal di gubuk-gubuk, mengungsi dari satu kampung ke kampung-kampung tetangga,"ungkap Alfonsa Wayap ketua Komisariat Daerah Pemuda Katolik Provinsi Papua kepada jurnalis Jubi pada (8/01/2019) di Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Kata dia, kondisi kesehatan para pengungsi kian memprihatinkan dari waktu ke waktu. Anak-anak hingga orang tua kekurangan gizi. Bahkan ada yang meninggal dunia.

"Tiga anak meninggal akibat kurang makan,"ungkap Wayap yang menjabat sekretaris Solidaritas Pemuda Gereja Peduli Nduga ini kepada jurnalis.

Menurut Wayap, ketiganya meninggal di Distrik Yal Kabupaten Nduga atas nama Ubugina Unue, 2 tahun, Bugun Unue, 1 tahun dan Raina Kogoya, 5 tahun.

Kata dia, warga yang mengungsi juga menginformasikan jika ada 10 ibu hamil berada di tempat pengungsian.

"Ada yang sudah bersalin, ada juga yang masih menantikan waktu bersalin,"ungkap dia.

Kata dia, laporan menyebutkan ada 4 orang ibu, atas nama Leribina Gwijangge, 20 tahun, Lerni Gwijangge, 18 tahun, Elsina Kogeya, 35 tahun dan Bobina Kogeya, 16 tahun telah bersalin di hutan.

Laporan rekan gereja dari lapangan menyebutkan, ada sepuluh ibu sedang menunggu bersalin di hutan. di Distrik Yigi ada 4 ibu, Distrik Yal 5 ibu, Distrik Mapenduma 1 ibu.

Dalam kondisi itu, mereka sangat membutuhkan bantuan medis dan kebutuhan pokok lainnya. Bahan makanan, hingga pakaian layak pakai.

Karena itu pada 5 Januari lalu pemuda Katolik bersama pemuda gereja Baptis Papua, GIDI, GKI membentuk Solidaritas Pemuda Gereja Nduga.

"Setiap pemuda gereja bertanggungjawab terhadap lembaga gerejanya untuk solider,"Ujarnya.

Adapun pemuda Katolik telah mengirim surat kepada 7 Paroki di Dekanat Jayapura, Keuskupan Jayapura. Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Kristus Juru Selamat Kotaraja, Santo Fransiskus Assisi Apo, Gembala Baik Abepura dan Santo Petrus dan Paulus Argapura.

Dekanat Jayapura adalah wilayah ibu kota provinsi Papua. Jayapura menjadi pusat pendidikan dan perekonomian di Papua. Karena itu dengan harapan besar umat bersolider.

"Saya menyurati Pastor Paroki. Mereka kami harap umumkan kepada umat pada misa minggu 6 Januari," ujarnya.

Diakon Daud Wilil Pr, pembantu Pastor Paroki Kristus Terang Dunia Waena mengatakan surat dari Pemuda Katolik sudah diterima.

"Surat sudah ada. Saya sudah serahkan ke penggurus dewan Paroki. Teknis pengumpulannya, nanti dewan akan bicara,"ungkap dia.

Kata dia, sumbangan yang terkumpul akan diserahkan kepada pemuda Katolik. Tentunya juga sumbangan Paroki lain yang ada di Dekanat Jayapura.

Sumbangan atas kerja sama 7 Paroki itu akan dibawa ke sekretariat solidaritas. Posko bantuan berada di Kantor Pusat GIDI, Jalan PLN, Sentani, Kabupaten Jayapura, 26 KM dari kota Jayapura, untuk kemudian diteruskan ke Nduga.

Koordinator Solidaritas Pemuda Gereja Peduli Nduga, Yendinus Mabel (Ketua Umum Pemuda GIDI) mengatakan solidaritas itu semata-mata peduli pada kemanusiaan. terlepas dari kepentingan politik, penyebab rakyat lari

Kata dia, sumbangan yang menjadi kebutuhan itu, pakaian layak pakai, sembako dan bantuan uang. Karena itu, yang berkelebihan bisa ikut membantu.

Kata dia, kalau sudah terkumpul, solidaritas akan berusaha semaksimal mungkin sampai ke para pengungsi. Mengingat kondisi geografis di wilayah itu sangat sulit.

Perjalanan dari ibu kota provinsi Papua, ke wilayah itu agak sulit. Wilayah itu hanya lewat dari Kabupaten Jayawijaya. Jayapura ke Jayawijaya 45 menit dengan pesawat. Sedangkan jalan darat perlu 3 hari. Jayawijaya ke Nduga kurang lebih seharian dan itu belum sampai ke tempat penggungsi.

"Kita harapkan bantuan ini benar-benar tepat sasaran,” ujar Mabel kepada jurnalis.

Kata dia, pengumpulan melalui Kebaktian Kebangunan Rohani(KKR) dan Doa bersama untuk Umat di Nduga akan diselenggarakan di Lapangan Stakin Sentani, 13 Januari 2019 mendatang.

"KKR sebagai bagian dari penggalangan dana dan sumbangan bagi saudara-saudari kita di Nduga,"ungkap dia.

Pemuda KINGMI Papua, Ester Haluk,mewakili rekannya mengatakan bantuan ini penting dalam upaya mengurangi beban hidup dan trauma warga Nduga. Rasa trauma sangat terasa akibat operasi militer .

"Masih saja ada rasa trauma di tengah sesama. Sebagai manusia, pasti ingin rasa nyaman,aman, bebas mencari makan,untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok"

Karena itu, kata dia, pihak keamanan sangat diharapkan menggunakan pola komunikasi persuasif,sehingga tidak menakuti warga. (*)

 

 

loading...

Sebelumnya

Polri tetapkan Kadis Kehutanan Papua tersangka pemerasan

Selanjutnya

Warga mengeluh jaringan telkomunikasi, ini janji Bupati Mambra

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe