Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Anak Papua, dari pemulung jadi pencandu aibon
  • Rabu, 09 Januari 2019 — 10:27
  • 491x views

Anak Papua, dari pemulung jadi pencandu aibon

“Sekitar 109 anak Papua yang berprofesi sebagai pemulung maupun pencandu lem aibon. Setiap hari, ada beberapa guru saya mendampingi mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di SD YPK Ermasu,” ujar Sergius Womsiwor, kepada Jubi, Selasa (8/1/2019).
Polikarpus Boli bersama sejumlah anak anak aibon saat menikmati makan malam bersama di rumah sewanya – Jubi/Frans L Kobun

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Merauke, Jubi – Kepala Sekolah SMP/SMA Satu Atap (Satap) Terintegrasi Wasur-Merauke, Sergius Womsiwor, mengungkapkan banyak anak Papua yang dulunya sebagai pemulung, kini beralih menjadi pencandu lem aibon. Namun kondisi seperti ini hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat.

“Sekitar 109 anak Papua yang berprofesi sebagai pemulung maupun pencandu lem aibon. Setiap hari, ada beberapa guru saya mendampingi mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di SD YPK Ermasu,” ujar Sergius Womsiwor, kepada Jubi, Selasa (8/1/2019).

Dikatakan, jumlah itu belum termasuk di sejumlah titik lain dalam wilayah kota dan sekitarnya. Jumlahnya bisa mencapai ratusan anak.

“Memang ada yang melakukan pendampingan juga,” katanya.

Dijelaskan, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, ternyata sejumlah anak Papua yang masih bertahan sebagai pemulung, menjadi tulang punggung keluarga. Hasil memulung mereka dijual, uang hasil penjualan memulung untuk membeli beras atau kebutuhan lain.

Dari tahun ke tahun, demikian Sergius, pihaknya terus bersuara meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke agar memberikan perhatian kepada anak-anak Papua itu. Hanya saja, belum direspons sampai sekarang.

Womsiwor mengaku jika pemerintah memberikan dukungan dana secara rutin tiap tahun, ia akan terus bekerja ekstra mengurus anak-anak Papua mulai dari kebutuan setiap hari sampai kepada mendorong agar rutin ke sekolah.

“Apapun bisa saya lakukan, ketika ada dukungan pemerintah. Kalau seperti begini, bagaimana saya bisa bergerak mengurus anak-anak,” tegasnya.

Dia mengaku pernah ditanya sejumlah orangtua dari anak-anak asli Papua yang berprofesi sebagai pemulung.

“Kami mau tanya bapak, apakah ketika akan disuruh sekolah, semuanya bisa dijamin,” katanya menirukan ucapan orangtua murid.

Ditambahkan, persoalan mendasar hingga anak tak bisa sekolah adalah urusan perut.

“Bagaimana mereka mau ke sekolah, sementara dalam keadaan lapar,” katanya.

Seorang guru pendamping anak-anak aibon, Polikarpus Boli, mengaku banyak tantangan dihadapi ketika mengurus anak-anak tersebut untuk mengikuti proses belajar mengajar.

“Banyak cara saya lakukan agar secara perlahan-lahan mencoba ‘menaklukan’ anak-anak itu. Selain menemui mereka di jalan, juga mendatangi orangtua maupun keluarga untuk berdialog secara langsung,” ujar guru asal Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. (*)

loading...

Sebelumnya

PGRI Gresik bantu seragam sekolah untuk Koroway

Selanjutnya

Pelantikan ratusan Kepsek tuai protes, YPPK liburkan anak didik

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe