Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Pelayan ODHA di Kampung Yoka
  • Rabu, 09 Januari 2019 — 08:16
  • 418x views

Pelayan ODHA di Kampung Yoka

Di tengah budaya masyarakat yang seakan mengucilkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), seorang dokter kelahiran Afrika Selatan bersama 20 perawat tekun menangani pasien di Klinik Walihole.
Klinik Walihole di Kampung Yoka, Waena milik kemitraan GKI Tanah Papua - Jubi/Agus Pabika

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

JARANG orang memberikan perhatian kepada petugas kesehatan yang melayani ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Padahal mereka adalah garda depan dalam perjuangan melawan HIV/AIDS. Mengingat beratnya perjuangan mereka, tentu beragam pula cerita tentang pelayanan yang mereka lakukan.

Salah satu tempat pelayanan ODHA atau tempat rehabilitasi ODHA adalah Klinik Walihole milik GKI Tanah Papua di Kampung Yoka, Waena, Kota Jayapura.

Abraham Imbiri, petugas atau perawat di Klinik Walihole, sudah hampir dua tahun bekerja dan melayani di klinik tersebut bersama dr. Agnella Chingwaro.

"Saya bukan lulusan (akademi) kesehatan, tapi karena panggilan jadi saya juga tergerak hati untuk bergabung di sini karena di sini juga kekurangan tenaga," kata Imbiri.

Ia menjelaskan Klasis GKI Sinode Tanah Papua memiliki Yayasan Klinik dengan banyak pasien. Klinik butuh tenaga kesehatan sehingga ia memutuskan bergabung untuk membantu pasien yang terinveksi HIV.

"Saya sebenarnya lulusan Jurusan Ilmu Pemerintahan (FISIP) Uncen, tapi karena panggilan saya masuk untuk bantu-bantu di klinik di bagian administrasi," katanya.

Menurut Imbiri, selama berada di Klinik Walihole, suka duka yang ia dan petugas lain adalah resiko terinfeksi HIV karena sebagian masyarakat berpikir untuk yang terinfeksi akan dijauhi dan ditinggalkan oleh keluarga. Itu menjadi tantangan, resiko, serta keputusan yang ia ambil.

"Ini pangilan untuk melayani, karena terkadang orang-orang yang tidak mengerti akan menolak keluarga mereka yang terinfeksi, bukan mengobati mereka sehingga membuat mereka (ODHA) dikucilkan di lingkungan mereka," katanya.

Imbiri menyadari pekerjaan yang ia lakukan tidak sebanding dengan gaji. Namun

karena keinginan untuk melayani dengan melihat nilai kemanusiaan maka ia dan kawan-kawan bertahan untuk bekerja.

“Karena kebanyakan pasien ODHA adalah orang asli Papua, itu yang membuat kami tergerak hati untuk bekerja di Klinik Walihole,” ujarnya.

Mama Yuli bersama anaknya, Yuli, yang baru berumur dua tahun asal Anggruk, Yalimo salah satu dari ibu dan anak yang terinfeksi HIV. Anaknya, Yuli, terinfeksi dari ibunya.

Mama Yuli sebelumnya dirawat oleh dr. Agnella Chingwaro selama tujuh tahun. Ia mengonsumsi obat secara teratur sehingga kekebalan tubuh dan fisiknya mulai membaik. Namun ketika kembali ke Anggruk tidak ada kontrol oleh keluarga. Ia tidak lagi rutin minum obat dan tanpa sadar memberikan ASI kepada Yuli sehingga ikut terinfeksi.

Melihat kondisi mereka seperti itu dan dikucilkan keluarga serta suaminya, dr. Agnella Chingwaro membawa mereka kembali ke Klinik Walihole untuk menjalani perawatan hingga sekarang bersama anaknya.

Mama Yuli mengatakan awalnya ia tidak mengetahui seperti apa penyakit HIV dan tertular melalui apa? Karena pendidikan dan edukasi kesehatan tentang bahaya HIV/AIDS oleh petugas kesehatan tidak pernah disampaikan.

"Tiba-tiba saya sakit, badan kurus, dan panas tinggi, kebetulan dr. Agnella Chingwaro melakukan kunjungan gereja ke sana dan bertemu dengan saya, lalu kami ke sini untuk menjalani tes kesehatann dan perawatan," katanya.

Selama berada di klinik, suami dan keluarganya tidak pernah mengunjungi mereka berdua.

"Mereka tau sa kena HIV, mereka tidak pernah datang berkunjung sampai saat ini, yang biasa datang sering berkunjung adalah kakak saya," katanya sambil bermain bersama Yuli.

Tidak pernah dikunjungi suami dan sebagian besar keluarga, bahkan hilang kabar, merupakan duka baginya.

Namun ia mengaku hal seperti itu sudah terbiasa dialaminya, karena sudah hampir 7 tahun di Walihole serasa seperti rumah sendiri bersama dr. Agnella Chingwaro.

Klinik Walihole yang didukung GKI Tanah Papua menampung sejumlah pasien yang terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS), serta penyakit menular lainnya.

Pertengahan Desember 2018, anak-anak muda Papua dari delapan komunitas di Kota Jayapura melakukan kunjungan ke Klinik Walihole. Mereka memberikan bantuan kepada petugas klinik sebagai bentuk dukungan moral atas kerja kemanusiaan yang mereka lakukan.

Kepala Klinik Walihole dr. Agnella Chingwaro yang menyambut rombongan mengaku kunjungan dengan perhatian kepada perawat pertama kali terjadi sejak klinik beroperasi.

“Kunjungan seperti ini akan memberikan semangat dan motivasi kepada para petugas klinik, karena pekerjaan seperti ini adalah panggilan jiwa untuk melayani sesama umat Tuhan,” kata dr. Nella, perempuan kelahiran Afrika Selatan kepada Jubi.

Ia mengatakan karyawan klinik (tenaga medis) yang bekerja di Klinik Walihole dari berbagai latar belakang. Tidak hanya tamatan sekolah kesehatan, melainkan juga sukarelawan dari latar belakang dan pendidikan yang beda.

“Untuk tenaga medis sangat terbatas, sedikitnnya ada 20 petugas yang masih aktif bekerja, ke depan kami menginginkan teman-teman lulusan kesehatan seperti mantri dan suster yang menganggur tergerak bergabung bersama kami agar kita bisa saling melayani sesama,” katanya.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Klinik Walihole untuk melayani dan menyelamatkan generasi muda Papua yang sangat rentan terhadap penularan HIV.

“Kami juga kekurangan tenaga medis, kami sangat merindukan perawat yang sudah selesai dari perguruan tinggi agar mau bekerja di sini daripada menganggur di luar sana," katanya.

Klinik Walihole sudah dilengkapi beberapa alat untuk memeriksa penyakit menular seperti HIV, hepatitis, dan siplis.(*) 

loading...

Sebelumnya

Kebangkitan ekonomi orang asli Lanny Jaya

Selanjutnya

BTM optimistis jembatan Hamadi selesai Maret

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe