Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Sudah enam bulan sekolah di Mbua libur, layanan kesehatan macet
  • Jumat, 11 Januari 2019 — 08:07
  • 731x views

Sudah enam bulan sekolah di Mbua libur, layanan kesehatan macet

Sebagian besar masyarakat di Distrik Mbua masih berada di luar kampung mereka dan tinggal di hutan sekitar Mbua. Mereka membutuhkan layanan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka.
Masyarakat di Distrik Mbua berkumpul saat acara penyerahan bantuan kemanusiaan dari Gubernur Papua untuk warga Nduga - Jubi/Victor Mambor
Victor Mambor
Editor : Syofiardi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SMA di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga sudah enam bulan tutup. Siswa sekolah tersebut tidak tahu apakah mereka sedang libur atau sekolah mereka memang ditutup. Yang mereka tahu, guru-guru mereka sudah pergi sejak Mbua menjadi lokasi pengungsian setelah kekerasan bersenjata terjadi pada Juli 2018 di Keneyam dan Alguru.

Tra tau ini libur atau sekolah tutup, guru sudah pergi, tidak bilang apa-apa juga,” kata Endius, seorang siswa SMA Mbua, yang ditemui Jubi di Mbua, Senin, 7 Januari 2018.

Menurut Endius, guru di SMA tempatnya belajar itu ada tujuh orang. Semuanya bukan asli Mbua.

Sedikit berbeda dengan guru di SD dan SMP Mbua, guru SD dan SMP, kata Endius, pergi dari Mbua pasca serangan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pada Pos TNI di Mbua yang berlanjut dengan “operasi militer” yang dilakukan TNI pada awal Desember 2018.

“Bulan Desember itu guru-guru SMP dan SD sudah tidak ada di sini,” kata Endius.

Endius menduga guru-guru tersebut pergi karena khawatir dengan konflik bersenjata yang terjadi di beberapa distrik di Nduga yang dekat dengan Mbua.

Namun Kepala Distrik Mbua, Erias Gwijangge, menduga guru-guru tersebut pergi dari Mbua, selain karena merasa khawatir dengan keamanan mereka, juga karena status mereka yang hanya sebagai guru kontrak.

“Mungkin memang mereka takut, tapi mereka itu guru kontrak semua. Mungkin ada masalah pembayaran honor yang belum diselesaikan,” kata Erias, yang ditemui usai penyerahan bantuan kemanusiaan dari Gubernur Papua untuk warga Nduga.

Ia mengatakan akan memanggil guru-guru tersebut dalam waktu dekat agar aktivitas sekolah dapat berjalan kembali seperti biasa.

Saat ini SMA Mbua digunakan sebagai tempat tinggal oleh anggota TNI yang ditugaskan di Mbua. Demikian juga rumah guru yang terletak di sekitar SMA.

Selain aktivitas sekolah yang “libur”, pelayanan kesehatan di Mbua juga macet. Tidak ada petugas kesehatan di distrik tersebut.

Menurut warga Mbua, petugas kesehatan juga pergi meninggalkan Mbua sejak enam bulan lalu. Ketiadaan petugas kesehatan tersebut membuat ibu-ibu hamil dan anak-anak balita mengalami ancaman kesehatan, bahkan nyawa mereka. Sebab masih ada warga Mbua yang pergi keluar dari kampung mereka dan tinggal di hutan sekitar kampung karena trauma dengan kekerasan bersenjata yang sempat terjadi di Mbua.

Tim kesehatan yang dikirimkan Pemerintah Provinsi Papua sejak 8 Januari telah melayani sekitar 800 orang dari Distrik Mbua, Dal, dan Mbumuyalma yang datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka.

“Minggu lalu, menurut masyarakat, ada seorang ibu yang terpaksa melahirkan sendiri karena tidak ada petugas kesehatan di Pustu,” kata Elias Tabuni.

Tabuni yang bertugas pada tim kesehatan yang dikirimkan Pemerintah Provinsi Papua, menjelaskan ibu tersebut bernama Selfina melahirkan di gereja. Namun ia bersama anak yang dilahirkannya meninggal karena ari-arinya tersangkut.

Erias Gwijangge menyebutkan jumlah penduduk di Mbua sekitar 3.900 orang dari enam kampung. Saat ini sebagian besar masih berada di hutan-hutan sekitar Mbua. Masyarakat yang sudah kembali ke kampung mereka membutuhkan layanan kesehatan karena sudah beberapa minggu tinggal di hutan.

“Sebagian besar memang masih di luar kampung. Kami sudah panggil mereka untuk kembali ke kampung, tapi mungkin mereka masih takut. Saya katakan pada mereka saat ini Mbua sudah aman,” ujar Erias.

Sayangnya, tim kesehatan yang sedang berada di Mbua tersebut terpaksa kembali ke Wamena setelah ditembaki dalam perjalanan menuju Distrik Yigi untuk melakukan layanan kesehatan di distrik tersebut.

Selain berencana memberikan pelayanan kesehatan, tim juga membawa bantuan logistik untuk masyarakat di Yigi yang saat ini masih berada di hutan-hutan di sekitar Yigi.

“Kami sedang dalam perjalanan ke Yigi, lalu ada tembakan, anggota TNI yang mengawal kami bilang kondisi tidak aman dan sebaiknya kami kembali ke Mbua,” ujar Elias Tabuni.

Selanjutnya, kata Tabuni, tim kesehatan akan kembali ke Wamena untuk mengevaluasi kegiatan tim dan mengubah rencana pelayanan.

Menurut Tabuni, tim baru melakukan pelayanan di tiga distrik dari 10 distrik yang ada dalam rencana awal. (*)

loading...

Sebelumnya

Pelantikan ratusan Kepsek tuai protes, YPPK liburkan anak didik

Selanjutnya

Masalah kios Pasar Kalibobo Nabire

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe