Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Dulu pendamping distrik, kini ojek online
  • Jumat, 11 Januari 2019 — 08:37
  • 620x views

Dulu pendamping distrik, kini ojek online

"Go-Jek telah meningkatkan taraf hidup jutaan pengusaha mikro, termasuk mitra pengemudi, pemilik restoran, pengusaha rumahan. Tak terkecuali Leo Himan"
Leo Himan saat menunjukkan aplikasi Go-Jek di telpon genggamnya - Jubi/Roy Ratumakin
Roy Ratumakin
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MENJADI tukang ojek online (ojol) menjadi pilihan bagi Leo Himan (29), pria asal Kabupaten Yalimo. Dia lalu bergabung dengan Go-Jek Jayapura, Papua.

Himan bercerita dirinya tertarik gabung dalam Go-Jek setelah pergi ke Jakarta. Namun, kala itu dirinya tak bisa gabung dengan Go-Jek Jakarta karena ponsel belum terhubung dengan aplikasinya.

Menurut Leo Himan, pendapatan sebagai tukang ojek online dalam perusahaan itu cukup menjanjikan. Per hari didapat Rp 100 ribu atau Rp 700 ribu tiap minggunya.

Go-Jek merupakan penyedia layanan on-demand yang berbasis aplikasi terbesar di Indonesia. Perusahaan berbasis online yang berdiri sejak tahun 2010 dan aplikasinya diluncurkan pada 2015 itu pun hadir di Jayapura beberapa waktu lalu.

Go-Jek telah membuktikan bahwa pengemudi ojek dapat melakukan banyak hal, lebih dari sekadar memberikan layanan transportasi.

Melalui teknologi, Go-Jek telah meningkatkan taraf hidup jutaan pengusaha mikro, termasuk mitra pengemudi, pemilik restoran, pengusaha rumahanan. Tak terkecuali Leo Himan.

"Saya dulunya bekerja sebagai pendamping (distrik) di Kabupaten Mappi. Namun saya memilih keluar dari pekerjaan tersebut dan merantau ke Jayapura pada tahun 2007," kata Himam kepada Jubi di Kota Jayapura, Kamis, 10.Januari 2019.

Kata Himan, ketertarikan dirinya kepada Go-Jek karena awalnya Go-Jek tersebut dikenalnya di Jakarta beberapa tahun silam. Ketertarikannya terhadap Go-Jek membuatnya keluar dari pekerjaan lama sebagai pendamping desa. Di Jayapura dirinya menjadi tukang ojek pangkalan.

"Saya senang karena Go-Jek akhirnya bisa masuk di Jayapura. Mendengar Go-Jek masuk di Jayapura, saya langsung melamar untuk menjadi ojol. Saya masuk jadi ojol pada 21 Desember 2018 hingga sekarang," ujarnya.

Terkait penghasilan, kata Himan, semenjak dirinya terdaftar sebagai ojol di Go-Jek hingga saat ini pendapatan dari bonus sendiri telah mencapai Rp 1,7 juta dan itu belum termasuk jasa ojolnya.

"Itu baru bonus. Kalau kita dapat 5 poin, maka kita sudah bisa mendapatkan Rp 75 ribu. Rata-rata penghasilan satu bulan bisa mencapai Rp 4 juta. Saya saat ini saja sudah mencapainya. Itu belum termasuk bonus. Jadi kalau ditotal kita bisa dapat Rp 5 juta lebih per bulan," katanya.

Penghasilan sebesar itu juga tergantung pribadi si tukang ojol. Jika dia rajin, maka pendapatannya besar.

"Rajin, itu kalau handphone kita tetap online, dengan begitu kita bisa mendapatkan pesanan dari konsumen," ujarnya.

Dalam perekrutan petugas ojol di Jayapura menurut VP Go-Jek Regional Indonesia bagian timur, Anandita Danaatmadja, pihaknya memprioritaskan ojek lokal untuk menjadi mitra pengemudi.

"Jadi Go-Jek ini layanan banyak yaitu pengantaran penumpang (Go-Ride), pengantaran makanan (Go-Food), pengantaran barang (Go-Send), dan pelayanan non tunai (Go-Pay)," kata Anandita pada acara peluncuran Go-Jek di halaman apel kantor Wali Kota Jayapura.

Semua yang disediakan Go-Jek menurut Anandita dilengkapi dengan fasilitas jaminan keamanan mitra pengemudi dan penumpang. Jaminan itu berupa pemanfaatan teknologi aplikasi Noken yang merupakan kolaborasi antara Go-Jek dengan Polres Jayapura Kota. 

Hingga Kamis, 10 Januari 2019, perusahaan milik PT Aplikasi Karya Anak Bangsa itu diunggah lebih dari 50 juta pengguna, dan bermitra dengan lebih dari 1 juta driver, 125 ribu pedagang kuliner, dan 30 ribu penyedia jasa lainnya. Semua itu tersebar di 50 kota di Indonesia, termasuk ibu kota Provinsi Papua. 

Seperti dikutip katadata.com dari survei Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) pada 2017, Go-Jek menyumbangkan Rp 8,2 triliun per tahun dari mitra pengemudinya dan Rp 1,7 triliun dari mitra UMKM.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, beberapa waktu lalu bahkan menyatakan Go-Jek dapat mendukung program smart city di kota yang dipimpinnya ini. (*)

loading...

Sebelumnya

Masalah kios Pasar Kalibobo Nabire

Selanjutnya

Mendorong OAP manfaatkan peralatan teknologi tepat guna

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe