Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Keuskupan Merauke: Anak tujuh tahun sudah hirup aibon
  • Sabtu, 12 Januari 2019 — 05:30
  • 1026x views

Keuskupan Merauke: Anak tujuh tahun sudah hirup aibon

“Ada 53 anak asli Papua saya dampingi selama beberapa tahun terakhir. Berbagai cara telah saya lakukan agar kegiatan menghirup lem aibon dihentikan. Namun belum berhasil juga,” kata Simerony Mahuze, kepada Jubi, Jumat (11/01/2019).
Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Simerony Alberty Mahuze – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Merauke, Jubi - Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Simerony Alberty Mahuze, mengungkapkan dari hasil observasi dan penelitian yang dilakukan, ada anak berusia tujuh tahun sudah menghirup lem aibon. Anak itu mengikuti jejak kakaknya.

“Ada 53 anak asli Papua saya dampingi selama beberapa tahun terakhir. Berbagai cara telah saya lakukan agar kegiatan menghirup lem aibon dihentikan. Namun belum berhasil juga,” kata Simerony Mahuze, kepada Jubi, Jumat (11/01/2019).

Bahkan, lanjut dia, ada cara lain dilakukan dengan memberikan makan serta pemeriksaan kesehatan kepada anak-anak tersebut. Namun begitu pulang, mereka masih membeli lem aibon dan menggunakannya kembali.

Ditanya apakah perlunya dibangun rumah singgah, Simerony mengaku tidak tepat dan itu bukan solusinya. Karena begitu mereka datang, sebentar akan kembali dan berkumpul dengan sesama teman lain, lalu membeli dan menghirup kembali.

Selama ini, menurutnya, mereka mendapatkan uang dengan berprofesi sebagai petugas parkir di emperan toko. Lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli lem aibon.

Dikatakan, pihaknya telah menemui orangtua dari anak-anak sekaligus memberikan pemahaman tentang dampak dari penggunaan lem aibon. Hanya saja, orangtua sepertinya sudah ‘angkat tangan’.

“Ketika saya tanya kepada ortu, mereka mengakui telah memarahi anaknya berulang kali. Hanya saja, sepertinya tak direspons, justru kebiasaan itu terus berlangsung,” ujaranya.

Apalagi, menurutnya, bukan baru satu atau dua minggu mereka menghirup lem aibon, tetapi sudah sampai tahun. Sehingga agak sulit untuk dihentikan secepatnya.

“Saya menyarankan agar perlu dibangun satu asrama dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Juga pendamping, sehingga anak-anak rutin diawasi. Lalu, anak-anak tak diizinkan pulang ke rumah selama beberapa bulan,” saran dia.

Kepala Sekolah SMP/SMA Satap Terintegrasi Wasur, Sergius Womsiwor, menegaskan perlunya perhatian serius dari pemerintah setempat dengan memberikan dukungan dana secara rutin setiap tahun.

“Berulang kali kami bersuara agar anak-anak aibon yang umumnya adalah orang asli Papua, harus segera ditangani dengan baik,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Kepsek SD Mopah Baru: Ada kepsek dilantik, pangkat tak penuhi syarat

Selanjutnya

Kantor BKD Asmat ludes terbakar

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe