Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Kondisi terkini warga Nduga yang mengungsi : Luka tembak, kekurangan makanan hingga trauma
  • Sabtu, 12 Januari 2019 — 17:34
  • 1758x views

Kondisi terkini warga Nduga yang mengungsi : Luka tembak, kekurangan makanan hingga trauma

“Ada tiga kasus luka tembak tetapi pasiennya tidak datang ke tempat pelayanan dan mereka hanya utus kurir untuk melaporkan sakitnya dan kami memberikan obat untuk mencegah infeksi lebih lanjut,” ujarnya.
Ibu-ibu dan anak-anak di Distrik Yigi datang ke pusat distrik dari pengungsian mereka untuk bertemu dengan tim evakuasi. Mereka berharap ada layanan kesehatan di Yigi pasca kekerasan bersenjata di distrik tersebut - Jubi/Victor Mambor
Islami Adisubrata
Editor : Victor Mambor

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Wamena, Jubi – Tim kesehatan provinsi Papua dibantu dinas kesehatan Kabupaten Nduga yang diturunkan untuk melakukan pelayanan kesehatan di sejumlah distrik terdampak dari konflik di Nduga, telah kembali ke Wamena
usai melakukan pengobatan terhadap masyarakat. Dari hasil pemeriksaan selama tiga hari (8-10 Januari 2019) di distrik Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma, Kabupaten Nduga ditemukan banyak penyakit yang dialami masyarakat saat dalam pengungsian.

Koordinator tim medis pada tim kemanusiaan yang dibentuk pemerintah Provinsi Papua, Dr Beery I.S Wopari mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan terhadap keluhan masyarakat, kebanyakan penyakit yang dialami disebabkan oleh kurangnya pasokan makanan saat mereka memilih untuk mengungsi.

“Dalam pelayanan tim medis dengan situasi geografis, cuaca, memang ada beberapa penyakit yang dominan di daerah pelayanan, baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak,” katanya kepada wartawan di Wamena, Jumat (11/1/2019) malam.

Ia menambahkan, pada orang dewasa lebih banyak kasus sakit nyeri sendi, nyeri tulang, sakit pada seluruh badan dan sakit kepala. Ditambah dalam suasana mencekam, ada beberapa kasus tekanan darah tinggi yang terjadi pada orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Sementara untuk anak-anak, bayi dan balita, panyakit yang mendominasi adalah flu, batuk, Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) kemudian juga diare hingga cacingan selain luka-luka. Dijumpai pula beberapa ibu hamil yang berada dalam kelompok yang mengungsi.

“Kasus-kasus ini kita coba tabulasi untuk melihat permasalahan yang ada di sana secara menyeluruh, terkait dengan kondisi-kondisi situasi yang dialami masyarakat. Baik mereka yang menyingkir sementara untuk
menyelamatkan diri dan masuk di hutan sembunyi maupun  anak-anak yang ikut bersama orang tua mereka,” katanya.

Selain itu kata Wopari, banyak orang dewasa mengeluhkan nyeri pada ulu hati atau yang biasa diistilahkan sakit maag. Kondisi ini terjadi karena kesulitan mendapatkan makanan selama mengungsi di hutan.

“Dari analisa kami sebenarnya penyakit maag ini disebabkan karena masyarakat punya pola makan tidak dalam jumlah yang cukup. Mereka sudah terbiasa dengan jumlah yang terbatas. Namun saat ini mereka mengalami kesulitan untuk bisa mengakses makanan dari kebun mereka,” katanya.

Hal ini ujarnya, bukan karena masalah kekeringan atau kerusakan kebun, tetapi masyarakat sulit mencapai kebun mereka untuk mengakses sumber makanan dan mengolahnya Karen situasi keamanan yang tidak kondusif.

“Ini yang memicu terjadinya sakit pada ulu hati. Jadi kami berikan obat untuk mengurangi keluhan itu. Karena asam lambung yang meningkat ditambah kondisi stress masyarakat, penyakit ini muncul,” ujar Wopari.

Selain itu, anak-anak yang ikut mengungsi banyak yang terluka. Luka anak-anak ini karena terjatuh saat mengungsi.

Informasi yang diterima tim kesehatan dari warga saat melakukan pengobatan, lanjut dokter Beery Wopari, ada tiga orang dewasa yang terluka karena tembakan, namun pasien tersebut tidak datang berobat sehingga tim hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit.

“Ada tiga kasus luka tembak tetapi pasiennya tidak datang ke tempat pelayanan dan mereka hanya utus kurir untuk melaporkan sakitnya dan kami memberikan obat untuk mencegah infeksi lebih lanjut,” ujarnya.

Hingga kini tim kesehatan ini masih membuat rekapitulasi jenis-jenis penyakit, dan juga jumlah kasus per jenis penyakitnya. Tetapi untuk sementara yang datang dalam pelayanan kesehatan itu lebih banyak perempuan dan anak-anak.

Warga sempat ragu pada tim kesehatan yang datang
Anggota tim medis yang tergabung dalam tim kemanusiaan provinsi Papua, Elianus Tabuni mengaku tim yang diturunkan berjumlan 16 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat kesehatan ditambah
dengan tim dari dinas kesehatan Kabupaten Nduga. Pelayanan selama tiga hari itu hanya di tiga titik di Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma ditambah satu tempat di distrik Ilekma, Jayawijaya karena banyak masyarakat yang mengungsi ke Wamena.

Sebenarnya tim juga merencanakan untuk masuk ke Distrik Yigi pada hari ketiga, namun karena kendala situasi yang tidak memungkinkan, tim kembali ke Wamena dan melakukan pelayanan di Wamena.

“Kami koordinasi terkait dengan situasi terakhir di sana dengan TNI, mereka menyarankan kami untuk tidak memasuki wilayah distrik Yigi karena masih ada suara tembakan tetapi tidak tahu dari mana sumbernya. Tetapi diduga ini tanda atau situasi tidak baik untuk melanjutkan perjalan ke distrik Yigi,” kata Elianus Tabuni.

Ia juga mengaku jika hambatan yang dialami selama pelayanan selain soal letak geografis yang sulit dan cuaca yang dingin, masyarakat yang datang berobat sempat tidak mempercayai mereka yang datang.

“Mungkin karena masyarakat masih trauma. Sehingga mereka sempat meragukan kami yang datang ini apa benar ingin melakukan pelayanan kesehatan atau tidak,” kata Tabuni.

Ia juga mengaku  ada beberapa wilayah yang harus dicapai melalui jalur udara. Hal ini menjadi hambatan menembus masyarakat yang ada di distrik lainya.

“Hal ini sudah kami koordinasikan dengan pihak penerbangan. Namun karena kurang tersedianya transportasi udara, kami tidak bisa menjangkau daerah tersebut. Ditambah kendaraan yang kami gunakan sempat mengalami masalah teknis hingga adanya ancaman atau penembakan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan sebenarnya ada 10 titik yang menjadi target tim kesehatan untuk melakukan pelayanan namun tim ini hanya bisa mengakses tiga saja.

Percayakan misionaris untuk pelayanan selanjutnya
Kepala Dinas Kesehatan Nduga, Innah Gwijangge mengaku sejak tim kesehatan dari provinsi dan kabupaten kembali dari pelayanan, tidak ada petugas kesehatan yang disiapkan di tiga distrik tersebut. Pemerintah kabupaten lebih mempercayai para orang tua atau misionaris yang bertugas disana untuk memberikan pelayanan kesehatan jika ada masyarakat yang datang berobat.

“Orang tua yang tugas disana seperti misionaris memang mereka disiapkan disana. Jadi kami beri obat untuk persiapan sehingga mereka bisa melakukan pelayanan. Tidak ada tenaga medis yang ditinggalkan disana karena masyarakat lebih percaya didikan misionaris ini,” ujar Innah Gwijangge.

Ia mengaku, memang selama ini baik di Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma ada petugas kesehatan, namun konflik yang terjadi membuat mereka memilih untuk pergi ke Wamena.

Ditambahkannya, ketika melakukan pelayanan di Distrik Dal mereka hanya menjumpai tiga orang lelaki sehingga tim harus menunggu warga lainya datang berobat. Karena tidak kunjung datang, akhirnya sebagai kepala dinas kesehatan, ia langsung melakukan pengumuman dengan berteriak memanggil masyarakat yang ada di hutan dan perkampungan lainya untuk datang berobat. Setengah jam kemudian satu per satu warga berdatangan berobat dan akhirnya melakukan pelayanan kesehatan.

“Dari pelayanan kami di Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma terdapat 25 ibu hamil yang datang berobat, setelah di cek semuanya dalam keadaan sehat, artinya kandungannya tidak ada masalah apapun,” ujar Gwijangge. (*)

loading...

Sebelumnya

Sudah enam bulan sekolah di Mbua libur, layanan kesehatan macet

Selanjutnya

Empat sekolah di Jayapura akan terapkan sistem SKS

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe