TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Pasar Pharaa tak terpelihara
  • Selasa, 15 Januari 2019 — 10:26
  • 354x views

Pasar Pharaa tak terpelihara

“Kami minta pasar ini ditata kembali dengan baik. Semua bangunan digunakan sesuai dengan fungsi dan jenis barang yang dijual,” kata Fransina.
Para pedagang hasil bumi di Pasar Pharaa, Sentani. -Jubi/Engel Wally
Engelbert Wally
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PASAR
PHARAA Sentani adalah pasar terbesar di Kabupaten Jayapura, yang mampu menampung ribuan pedagang. Di pasar ini, segala hasil bumi diperdagangkan. Pun barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Pasar ini dibangun selama empat tahun, menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Orang nomor satu di Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo, pernah dua kali berkunjung ke Pasar Pharaa.

Pada kunjungan presiden 2017 lalu, ia berpesan agar pasar ini dimanfaatkan dan ditata sebaik mungkin, untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat lokal melalui kontrol pemerintah daerah.

Namun saat ini, kondisi Pasar Pharaa mengalami banyak perubahan. Sejak pembangunan awal, ada lima bangunan permanen berukuran besar, akan tetapi ditambah lagi dengan bangunan atau lapak-lapak kecil, di setiap samping atau di sela-sela lima bangunan permanen tersebut. Akhirnya pasar terlihat semrawut.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui instansi teknis, merencanakan agar Pasar Pharaa tidak hanya sebatas tempat jual beli, akan tetapi bisa digunakan sebagai tujuan wisata. Oleh sebab itu, dari sisi penataannya akan dibangun tempat-tempat seperti jalur hijau, taman bermain bagi anak-anak, serta pusat kesehatan dan pendidikan bagi para pedagang, termasuk koperasi simpan pinjam.

Sampai saat ini dari sisi fasilitas dasar seperti air bersih, lampu penerangan, pos sekuriti, petugas keamanan, armada pengangkut sampah, dan bak penampungan sampah, belum tersedia. Meski sejak awal 2017 pasar ini sudah mulai ditempati oleh para pedagang, dengan pembagian tempat diatur oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar.

Selang beberapa waktu setelah pembagian tempat di lantai dasar, pemerintah meminta agar para pedagang barang jadi dan kelontongan, dialihkan kembali ke lantai dua pasar, namun tidak semua mendapat tempat. Akhirnya lantai dasar dijejali semua jenis barang dagangan, tak hanya untuk hasil bumi dan bahan alami.

“Kami minta pasar ini ditata kembali dengan baik. Semua bangunan digunakan sesuai dengan fungsi dan jenis barang yang dijual,” kata Fransina, pedagang sayur mayur di Pasar Pharaa, Sabtu 12 Januari 2019.

Menurutnya, wajah Pasar Pharaa tak nampak lagi seperti pasar modern. Tapi terlihat kumuh dan tak terpelihara, karena banyaknya lapak kecil yang digunakan untuk menjual pinang, sayur mayur, bahkan barang-barang kios, yang tak tertata dengan baik. Kondisi itu, kata Fransina, sudah pernah disampaikan kepada petugas UPTD Pasar, yang bertugas mengawasi. Akan tetapi, sampai sekarang lapak-lapak tersebut masih ada.

“Dalam praktiknya, malah lapak-lapak tersebut dikoordinir oleh satu oknum pedagang di pasar ini, dengan nilai jual diduga mencapai jutaan,” ungkap Fransina.

Bagi Fransina, hal itu memang bukan urusan pribadinya, akan tetapi soal kondisi pasar yang tidak tertata rapilah, yang menjadi kendala baginya sebagai pedagang tetap di pasar tersebut.

“Di bangunan 'A' kita dari awal setelah dibagi tempat, hanya menjual sayur mayur. Tetapi di bangunan lain, ada juga pedagang musiman yang menjual sayur mayur. Jelas sekali, apa yang kita jual ini tidak akan laku, karena ada pedagang yang menjual barang yang sama pula di bangunan lain di pasar ini,” keluhnya.

Mengetahui hal tersebut, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw menyampaikan, akan memanggil instansi teknis terkait, untuk memperhatikan keluhan masyarakat khususnya pedagang soal kondisi pasar, agar Pasar Pharaa ditata dengan baik.

“Tidak boleh ada bangunan tambahan selain bangunan permanen, yang sudah dibangun di pasar itu. Karena pasar ini tidak hanya menjadi tempat jual beli, akan tetapi ditata menjadi tempat wisata bagi masyarakat yang ada di sini, juga bagi para pengunjung dari luar,” sampai Bupati Awoitauw, saat ditemui di kantornya, di Sentani, Kamis 10 Januari 2019.

Respons Kepala Disperindag, Yos Levi Yoku, yang dikonfirmasi beberapa waktu lalu, tidak banyak memberikan komentar. “Nanti saya kabari kalau sudah turun ke pasar."

Sementara Kepala UPTD Pasar Pharaa Sentani, Daniel Sokoy, yang ditemui awal pekan lalu, menyoroti tentang fasilitas penunjang pasar. Menurutnya, pada 2017 lalu, pihaknya telah mengusulkan pemasangan fasilitas penunjang seperti air bersih, lampu penerangan, petugas kebersihan dan keamanan, serta penambahan armada pengangkut sampah.

“Penataan pasar ini terlihat kaku, padahal fasilitas penunjangnya sudah kami usulkan dua tahun lalu. Dari tiga ribuan pedagang di pasar ini, jelas terus mengalami peningkatan, apalagi ada penertiban pasar-pasar liar di luar sana,” katanya.

Daniel berharap agar ada sinergitas kerja, antara Disperindag dan UPTD Pasar, sehingga persoalan dan kebutuhan yang dialami dapat ditangani maksimal.

Bentuk perhatian lain, datang juga dari komponen pemuda di Sentani, Ted Suebu. Ia sebagai mantan Ketua KNPI Kabupaten Jayapura, melihat kondisi Pasar Pharaa memang perlu ditata baik, agar memberikan rasa nyaman bagi setiap pedagang dan pembeli atau pengunjung.

“Kami dari komponen pemuda turut menyuarakan hal ini kepada pemerintah. Apalagi pemerintah sudah mencanangkan Go Adipura dan pelaksanaan PON 2020 nanti,” kata Ted Suebu, di Sentani, Sabtu 12 Januari 2019. (*)

loading...

Sebelumnya

Pendeta Nataniel Tabuni minta Kapendam Cenderawasih klarifikasi pernyataannya

Selanjutnya

Pendekatan keluarga untuk program Indonesia Sehat

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe