TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Isapan jempol penurunan tiket
  • Rabu, 16 Januari 2019 — 08:46
  • 2650x views

Isapan jempol penurunan tiket

Menurut ASITA penurunan hanya pada tiket Garuda Indonesia kelas nomor lima. Ardindo meminta pemeritah turun tangga. Sedangkan Garuda mengatakan, penurunan tiket efektif berlaku mulai 15 Januari.
Aktivitas penumpang di Bandara Sentani, Jayapura – Jubi/Yance Wenda 
Admin Jubi
[email protected]
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KETUA Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Papua, Iwanta Parangin-angin, mengatakan penurunan harga tiket pesawat yang dilakukan oleh maskapai hanya isapan jempol belaka.

Sebab, katanya, tiket yang diperjualbelikan di tingkat kelas ekonomi Yengki (Y) masih pada batas harga paling atas dan tengah.“Memang betul ada beberapa maskapai yang menurunkan harga, namun dibuka dengan harga penyesuaian, seperti di Garuda Indonesia kelas QBEC atau kelas tiket nomor lima dari tarif batas atas atau tengah,” ujarnya kepada Jubi, Selasa, 15 Januari 2019. 

Namun, lanjutnya, itupun tidak naik. Maskapai hanya membuka sistem slot tiket tarif yang paling tinggi saja di mana tiket tersebut memiliki batasan hingga 12 slot, untuk Sentani-Jakarta mulai dari batas bawah dengan harga Rp 1,9 jutaan hingga batas atas seharga Rp 6,080 juta.

“Adanya desakan masif dari masyarakat untuk menurunkan tiket domestik dan dari kesepakatan INACA, AP1, AP2, dan AirNav akan menurunkan tarif membantu maskapai,” ujarnya.

Untuk maskapai lain, Iwanta mengakui akan berpatokan dan mengikuti kepada harga pembukaan Garuda, di mana jika GA (Garuda Indonesia) membuka harga slot tiket tarif atas maka mereka akan mengikuti hal tersebut. 

“Saya tanya juga ke maskapai lain, mereka mengatakan akan mengikuti harga Garuda di mana bermain, mereka akan terus ikuti harga, Lion akan main juga di harga tarif batas atas, Rp  4 juta sampai Rp 5 juta,” ujarnya.

Hingga saat ini, ASITA melihat belum ada intervensi yang dilakukan pemerintah untuk melihat, bahkan mengecek harga yang telah disepakati oleh INACA kemarin.

Sementara itu, Manager Sales and Marketing Garuda Indonesia BO Jayapura, Radhitya Prastanika, mengatakan Garuda melakukan penyesuaian harga, khususnya di rute Jayapura-Jakarta mulai 15 Januari 2019.

“Penyesuaian harga beberapa rute GA salah satunya untuk rute Jayapura (DJJ) - Jakarta  (CGK) akan efektif mulai 15 Januari 2019. Dengan harga sekali pergi mulai dari Rp 3.360.000 dan kembali Rp 6.795.000. Sedangkan rute lainnya akan bertahap disesuaikan,” ujarnya kepada Jubi. 

Iapun mengakui bahwa sekarang harga masih tinggi karena masih tingginya permintaan.

“Garuda akan terus melakukan penyesuaian harga tiket agar lebih murah,” ujarnya.

 

Sementara, Pengurus Asosiasi Rekanan Perdagangan Barang dan Distribusi Indonesia (Ardindo) Provinsi Papua meminta pemerintah membatasi waktu penggunaan tarif batas atas tiket penerbangan karena saat ini kondisinya sudah sangat memberatkan masyarakat.

"Untuk sektor penerbangan (peak season) ini dianggap panen raya yang biasanya jangka waktunya pendek, nah ini yang berkaitan dengan tiket pesawat (saat ini) sangat mengganggu aktivitas dunia usaha, harusnya ada batasan waktu kapan HET itu digunakan, saat ini sudah terlalu panjang," kata Jacky Kajai, Sekretaris Umum Ardindo Papua.

Ia memandang dalam sistem penjualan tiket pesawat, maskapai penerbangan membagi beberapa kelompok ekonomi yang harganya berbeda-beda. Saat ini tidak ada harga terendah yang ditawarkan ke masyarakat, tetapi mulai dari menengah hingga yang mencapai batas atas.

Hal itu ia pandang wajar dilakukan karena pada Desember permintaan terhadap tiket pesawat meningkat drastis. Hanya saja kondisinya kini sudah terlalu lama, bahkan sudah hampir melewati satu bulan.

Menurut dia, dengan kondisi seperti itu perlu ada respons dari pemerintah daerah di Papua untuk menyurati pemerintah pusat agar segera ada upaya pengendalian harga.

"Hanya apakah sebagian masyarakat pengguna jasa penerbangan komplain atau tidak, selama itu dianggap biasa-biasa maka dianggap aman saja. Kalau ada surat dari Gubernur ke pusat, itu akan memicu respons dari kementerian," katanya.

Pengurus Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Papua khawatir mahalnya tiket penerbangan saat ini bisa mematikan sektor pariwisata karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap tarif paket tur yang ditawarkan kepada wisatawan.

"Biro perjalanan harus menaikkan harga paket yang cukup signifikan khususnya kita di wilayah timur Indonesia, tiket Jakarta Jayapura (Rp10-Rp12 juta/pp) jadi kami khawatir daya beli wisatawan (asing) yang mau wisata ke Papua akan jelas berkurang," ujar Iwanta Parangin-Angin.

Ia mengakui selama ini para pengelola perjalanan wisata di Papua lebih cenderung menyasar kepada wisatawan asing karena tingginya biaya perjalanan menggunakan moda transportasi udara ke Jayapura.

Tetapi menurut dia masih ada beberapa wisatawan Nusantara yang sanggup berwisata ke Papua. Hanya dengan kondisi saat ini ia memandang wisatawan lokal akan semakin enggan berkunjung ke Papua. (Sindung/Antara)

loading...

Sebelumnya

Harga bawang merah di Pasar Pharaa kembali normal 

Selanjutnya

Kontrak Freeport tak bisa berakhir di 2021, benarkah?

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe