TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Pecandu aibon butuh sentuhan pemerintah
  • Kamis, 17 Januari 2019 — 08:43
  • 387x views

Pecandu aibon butuh sentuhan pemerintah

Kasus penyalahgunaan lem aibon, kian mencemaskan di Merauke. Tren jumlah pecandunya semakin merangkak setiap tahun.
Kepala Sekolah SMP/SMA Satap Terintegrasi Wasur, Sergius Womsiwor,  berfoto bersama pengajar dan siswa korban kecanduan aibon– Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Aris Munandar
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KASUS penyalahgunaan lem aibon, kian mencemaskan di Merauke. Tren jumlah pecandunya semakin merangkak setiap tahun.

Di Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke terdapat 53 pecandu yang mereka tangani. Sementara itu, SMP dan SMA Satu Atap (Satap) Terintegrasi Wasur menanggani 103 pecandu. Ini belum termasuk para pecandu di belakang Stadion Mini Maro, Kali Weda, Kelurahan Seringu Jaya, maupun di Kuda Mati dan Kelapa Lima, yang ditangani Kelompok Belajar Mawar.

Para pecandu tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar hingga putus sekolah di jenjang pendidikan tingkat menengah pertama. Kebanyakan mereka berasal dari Kabupaten Asmat dan Mappi. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke pernah berencana membangun rumah singgah untuk menangani para pecandu aibon. Namun, keinginan itu tak kunjung direalisasikan tanpa diketahui pasti penyebabnya.

Kepala Sekolah SMP/SMA Satap Terintegrasi Wasur, Sergius Womsiwor, mengungkapkan mereka telah berkecimpung sekitar enam tahun dalam penanganan terhadap pecandu aibon di Merauke. Para pecandu terus dimotivasi agar melanjutkan pendidikan.

“Ada beberapa tenaga pengajar rutin mendidik anak-anak dengan metode tersendiri. Kegiatannya dimulai pukul 15.00 (Waktu Papua) dengan menumpang di gedung SD YPK Ermasuk,” kata Womsiwor, kepada Jubi, Sabtu (12/1/2019).  

Para pendidik berlatar belakang sarjana. Mereka dinilai Womsiwor mampu merangkul para pecandu dengan beragam karakter. Anak-anak korban kecanduan aibon yang ditangani di SD YPK merupakan tulang punggung keluarga masing-masing.

“Mereka menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Belum semuanya sadar, dan mau meninggalkan kebiasaan (mengonsumsi aibon) karena pengaruh teman lain,” jelas Womsiwor.

Bencana kemanusiaan

Maraknya kasus kecanduan aibon dapat mengancam kelangsungan dan kualitas hidup generasi mendatang karena banyak yang putus sekolah. Apalagi, pecandu merupakan Orang Asli Papua (OAP) yang sangat diharapkan mampu membangun daerah sendiri.

Womsiwor mengaku kewalahan dalam merehabilitasi pecandu karena anggaran dan fasilitas mereka serba terbatas. Perhatian pemerintah juga sangat minim. Womsimor acap kali meminta pemerintah turun tangan langsung menangani problematika ini, tetapi tidak pernah digubris.

“Tidak ada seragam sekolah untuk anak-anak (pecandu aibon). Anggaran kami terbatas karena mereka juga butuh makan dan biaya kesehatan,” ujar Womsiwor.

Harapan dia, pemerintah setempat paling tidak menggali akar permasalahan. Syukur-syukur mengalokasikan anggaran khusus untuk menangani dan merehabilitasi pecandu.

“Anak-anak (pecandu) aibon membutuhkan sentuhan pelayanan. Saya tidak tahu dengan cara apa lagi mengetuk hati pemerintah agar memberi perhatian,” keluh Womsiwor.

Segudang tantangan juga dihadapi para guru pendamping pecandu. Mereka tidak jarang harus menjemput anak-anak tersebut ke rumah. Seringkali sang anak malah tidak berada di rumah karena bermalam di pinggiran jalan maupun emperan toko. Sampai sekarang pun, masih ada anak yang menolak diajak bersekolah meskipun telah dijemput guru. 

“Harus didekati baik-baik dan pandai-pandai mengambil hati. Tidak bisa dengan suara keras (memarahi) agar mereka mau bersekolah,” kata Polikarpus Boli, guru pendamping pecandu.

Polikarpus bersama sejawatnya menerapkan metode khusus yang berbeda dengan di sekolah formal. Dia juga tidak terlalu memusingkan seragam sekolah buat anak didiknya.

“Bagi saya, seragam bukan menjadi ukuran, asalkan mereka bersedia datang, dan mau diajari menulis serta membaca.”

Pecandu bertahun-tahun

Pecandu mudah mendapatkan lem aibon karena dijual bebas dengan harga yang terjangkau. Uang untuk membelinya, mereka dapatkan dari hasil bekerja sebagai pemulung, dan juru parkir.

“Mereka bekerja dadakan ketika petugas (parkir resmi) tidak masuk. Uang yang diperoleh kemudian dibelikan lem aibon untuk dihirup (aromanya),” kata Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Simerony Alberty Mahuze.

Para pecandu dampingan Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke awalnya kebanyakan ditemukan di pingiran jalan atau emperan toko. Selain bekerja sambilan sebagai juru parkir, mereka menjadi pemulung seperti rata-rata pecandu dampingan SMP/SMA Satap Terintegrasi Wasur.

Mahuze mengungkapkan aibon biasa dikonsumsi sendiri atau berkelompok pada siang maupun malam hari. Mereka telah berulang kali mengajak pecandu menghentikan kebiasaan yang dapat merusak syaraf itu, tetapi tidak pernah tergugah.

Dia menyadari mengubah kebiasaan yang sudah akut itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, memutus rantai peredaran dan pengonsumsiannya.

Berbagai upaya pendekatan pun tidak pernah berhenti dilakukan agar pecandu segera meninggalkan kebiasaan mereka. Mulai dari pembagian makanan, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga program pendampingan lainnya. 

“Mereka bukan baru satu atau dua minggu, tetapi sudah bertahun-tahun menjadi pecandu bahkan ada beberapa yang berusia tujuh tahun menggunakannya,” pungkas Mahuze. (*)

loading...

Sebelumnya

Kursi panas sang ketua dewan

Selanjutnya

Kader Gerindra dukung Ketua DPRD Merauke dilengserkan

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe