TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. SMA dengan sistem SKS ala Perguruan Tinggi
  • Jumat, 18 Januari 2019 — 08:06
  • 684x views

SMA dengan sistem SKS ala Perguruan Tinggi

Empat SMA di Papua melanjutkan program Akselerasi dengan program SKS. Siswa tetap bisa menamatkan SMA hanya dua tahun, namun sistemnya lebih terbuka karena dilakukan di tiap lokal.
Siswa MIPA program K13 Murni atau Program Akselerasi dua tahun di SMAN 4 Jayapura sedang praktik di ruang laboratorium – Jubi/Roy Ratumakin
Roy Ratumakin
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Geraldo Syaloom Rumbino, 16 tahun, kini duduk di Kelas XI di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Jayapura. Mestinya siswa se angkatannya baru akan tamat setahun lagi. Namun siapa sangka, pada Juni 2019 dipastikan ia sudah tamat, hanya dua tahun di SMA.

Gerald, sapaan akrabnya, satu dari 25 siswa yang mengikuti Sistem Kredit Semester (SKS) di sekolahnya. Program SKS sudah diterapkan di SMAN 4 Jayapura sejak 2016 di mana setiap siswa yang berkemampuan lebih akan mengikuti ujian semester tiap 3 bulan sekali.

Hal itu bisa dilakukan siswa jika telah menuntaskan beban belajar dalam satu semester dan beban belajar ini ditentukan dengan jumlah SKS yang telah diselesaikan.

“Saya cukup tertarik karena ada sedikit tantangan dalam belajar, selain itu saya bisa mendapatkan rekomendasi dengan lulus lebih cepat dari biasanya apabila semua tahapan pembelajaran sudah saya selesaikan,” kata alumnus SMPN 5 Jayapura, kepada Jubi, saat ditemui di sekolahnya.

Kata Gerald, apa yang menjadi pilihannya sangat didukung orang tuanya dan juga guru. Ia mengaku awalnya sedikit susah mengikuti ritme belajar yang normalnya diselesaikan dalam satu semester. Namun itu, katanya, bisa dituntaskan seiring waktu.

“Orang tua tetap mendukung selagi saya mampu, memang awalnya saya merasa berat dengan sistem ini, tetapi lama-kelamaan saya merasa biasa, dibawa santai saja, waktu bermain memang sedikit dipangkas, tetapi tidak apa-apa,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Desi Roriwo, 16 tahun, alumnus SMP YPPK St. Paulus, Abepura. Kata, Desi sapaan akrabnya, dengan menyandang predikat siswa berprestasi tidak sedikit teman-temannya merundungnya (mem-bully-nya). Namun itu dijadikannya motivasi.

“Kalau di-bully ia, sering malah, tapi bully-an itu tidak dikatakan di depan, tetapi di belakang. Bagi saya itu sebagai motivasi saya saja, biarlah mereka membicarakan hal tersebut yang terpenting apa yang saya lakukan ini untuk masa depan saya kelak,” katanya.

Dengan program SKS tersebut bagi Desi tidak ada yang susah, tergantung dari pribadi orang masing-masing. Jika ingin berjuang dengan semangat tidak ada halangan.

“Hanya waktu belajar dan waktu bermain harus disesuaikan, tetapi saya sangat tertarik dengan SKS,” ujarnya.

Ia mengaku senang ketika terpilih menjadi salah satu siswa yang berhak mengambil SKS tersebut.

“Ketika guru kelas menyampaikan bahwa saya mempunyai potensi untuk mengambil SKS lebih banyak dari teman-teman saya sangat senang, saya langsung diskusikan dengan Mama, dan Mama bilang, ketika itu tidak menjadi beban untuk diri sendiri, kalau mau silakan,” katanya.

Kepala SMAN 4 Jayapura, Laba Sembiring, mengatakan penentuan mengambil program SKS untuk siswa dilakukan guru kelas. Sebab siswa belum sepenuhnya paham dengan caranya.

“Kalau di Perguruan Tinggi (PT) mahasiswa sendiri yang mempunyai inisiatif mengambil SKS sebanyak yang dia mampu, tapi kalau di SMA tidak, pihak sekolah yang menentukan, jadi guru kelas yang melihat apakah siswanya mampu atau tidak, kalau mampu langsung diberikan tambahan SKS,” katanya.

Sembiring mengatakan SMAN 4 Jayapura terpilih sebagai salah satu sekolah model (pilot project) sistem pembelajaran menganut sistem Akselerasi sejak 2014. Namun di tengah jalan, Kementerian Pendidikan menghapus proram Akselerasi dan menggantinya dengan program SKS.

“Kami sudah masuk dalam sistem dan ketika ada perubahan kami harus mengikutinya, kami tidak bisa lagi menoleh ke belakang, jadi sekarang sudah menerapkan SKS sejak 2016,” ujarnya.

Soal plus-minus penerapan Akselerasi dan SKS, kata Sembiring, memang ada. Untuk Akselerasi kebanyakan masyarakat mempertanyakan kenapa tidak ada Orang Asli Papua (OAP) yang terjaring dalam sistem tersebut. Itu karena setiap siswa yang terpilih harus memiliki nilai 135.

“Sedangan dengan SKS, semua siswa diberikan kesempatan, siapa yang mampu di setiap kelas akan direkrut, kemampuannya nanti dinilai di setiap kelas,” katanya.

Ia mencontohkan siswa A pada mata pelajaran Matematika 1 sudah bisa menyelesaikan dalam kurun waktu 1 bulan, maka siswa tersebut akan direkomendasikan untuk mengambil pelajaran Matematika 2, begitu selanjutnya. Ketika masuk ujian semester dia akan dinilai.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 4 Jayapura, Subiyanto, menambahkan sejak diberlakukannya sistem Akselerasi, kemudian dilanjutkan dengan SKS, sekolahnya telah meluluskan 109 siswa. Masing-masing 24 siswa pada 2016, 29 pada 2017, dan 31 siswa pada 2018.

“Lulusan 2016 itu dari sistem Akselerasi 2014, sedangkan lulusan 2019 ada 25 siswa yang dipersiapkan lulus pada Juli nanti,” ujarnya.

Menurut Subiyanto tidak ada kelas khusus untuk siswa yang mengambil SKS. Mereka hanya diberi jam pelajaran tambahan oleh beberapa dosen dari Universitas Cenderawasih (Uncen). Di antaranya dosen Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi.

“Siswa tetap belajar di kelas masing-masing, setelah selesai mereka lanjutkan ke kelas tambahan, jadwalnya Senin hingga Jumat,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Papua, Elias Wonda, menyampaikan pada 2019 ada empat SMA di Papua yang menjalankan program SKS. Keempat sekolah adalah SMA Negeri 2 Jayapura di Dok 9, SMA Negeri 4 Jayapura di Entrop, SMA Negeri 3 Jayapura di Buper Waena, dan SMA Advent Doyo Baru Kabupaten Jayapura.

Ia mengapresiasai keempat sekolah yang terus meningkatkan mutu kelulusannya dan menyebutkan sebagai penanda kualitas pendidikan di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, tempat keempat sekolah berada, semakin baik. (*)

loading...

Sebelumnya

Asosiasi Kepala Daerah Wilayah Tabi dibentuk untuk pembangunan

Selanjutnya

Presiden terpilih didesak perhatikan masalah lingkungan

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe