TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Persipura, dari MR Kambu sampai BTM
  • Jumat, 18 Januari 2019 — 23:22
  • 893x views

Persipura, dari MR Kambu sampai BTM

“Saya punya banyak memori tentang bagaimana kelola manajemen selama 11 tahun. Saya menyadari bahwa saya tidak punya kelebihan sebagaimana manusia lain. Tapi saya punya suatu keyakinan yang kokoh, bahwa Tuhan akan menolong kita, jika kita mau bekerja keras percaya kepada Nya,” tulis MR Kambu.
Persipura the Champion - Jubi/Dok
Dominggus Mampioper
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

USAI meraih medali emas PON 2004 di Palembang, Boaz dan kawan-kawan langsung memperkuat Persipura musim 2005-2006. Hasilnya Rahmad Darmawan berhasil membawa Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan juara Liga Indonesia pertama kali.

Kepergian Rahmad Darmawan ke Sriwijaya membawa pula beberapa pemain terutama pemain terbaik Liga Indonesia 2005-2006, Christiwan Worabai dan striker Korinus Fingkreuw. Hanya Boaz dan Ian Kabes bertahan di bawah kepemimpinan Eduard Ivakdalam.

Peran manajer Persipura Rudy Maswi memang sangat besar, karena juga ikut dalam tim sepak bola PON Papua 2004. Walaupun Rudy Maswi sendiri mengatakan prestasi Persipura bukan peran satu orang tetapi semua orang  yang terlibat termasuk masyarakat Papua dalam dukungan doa. Hal ini diakui pula oleh Ketua Umum Persipura sekarang Benhur Tommy Mano, bahwa peran Rudy Maswi sangat besar sebagai manajer Persipura.

Jika menelisik ke belakang sepak terjang Persipura, mungkin hanya mantan Ketua Umum Persipura mendiang Herman Monim yang berani menyalahkan manajemen semasa kepemimpinannya. Pasalnya saat kekalahan Persipura melawan PSM Makassar pada Ligina VII, mantan Wagub Papua Monim mengakui bahwa itu murni karena kekacauan manajemen. “Ketidakakuran pengurus,” kata Monim adalah faktor utamanya.

Lalu mengapa sampai sekarang setelah Persipura meraih juara tidak resmi, Torabica Soccer Champion (TSC) 2016 terus prestasinya menurun? Apa karena faktor sponsor dan sudah tidak lagi tergantung pada Anggaran Belanja Daerah (APBD)? Padahal Persipura sendiri sekarang sejak ikut Indonesia Super League (ISL) sudah berubah nama menjadi PT Persipura Papua. Tentunya ketergantungan terhadap APBD terus semakin berkurang dan pihak manajemen mulai menjual Persipura guna meraih sponsor.

MR Kambu saat masih menjadi Ketua Umum Persipura pernah mengatakan kepada pers sejak berlaga pada ISL musim 2008/2009 tim berjuluk Mutiara Hitam sudah tidak bergantung lagi pada APBD.

“Kita tidak boleh lagi mengandalkan APBD Kota Jayapura,” katanya kala itu.

Lebih lanjut MR Kambu mengakui kalau Persipura didukung pula oleh manajer Rudy Maswi yang merupakan sosok pengusaha yang sangat memberikan support kepada olahraga sepak bola.

Pernyataan MR Kambu soal APBD bersamaan dengan terbitnya Peraturan Mendagri Nomor 59 Tahun 2007 mengenai perubahan Permendagri Nomor.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Kebijakan ini ibarat momok bagi sepak bola di Indonesia, sebab aturan itu tak lagi memanjakan klub sepak bola dalam pembagian dana APBD. Apalagi Mendagri saat itu, Mardianto, menegaskan klub sepakbola bukan instansi atau induk organisasi yang berhak atas dana hibah APBD.

Memang harus diakui, pada 2006, Persipura masih mendapat dana dan diakomodasikan dalam APBD Kota Jayapura berkisar sekitar Rp 15 miliar. Menanggapi pandangan umum fraksi-fraksi atas nota keuangan dan RAPBD Kota Jayapura, MR Kambu sebagai Ketua Umum Persipura menjelaskan bantuan itu akan diambil dari APBD Kota Jayapura melalui pos bantuan keuangan kepada organisasi profesi.

MR Kambu menegaskan Persipura membutuhkan biaya sekitar Rp 15 miliar untuk kontrak pemain, gaji pemain, serta tuntutan fasilitas lainnya setiap putaran liga nasional. Pada liga-liga sebelumnya dana yang dibutuhkan masih berkisar Rp 15 miliar, tetapi memasuki Indonesia Super League (ISL) sudah membengkak mencapai sekitar Rp 30 miliar. Belum terhitung saat mengarungi AFC 2011 sampai AFC 2014.

Mantan Ketua Umum Persipura, MR Kambu, dalam bukunya berjudul “Jejak Persipura Go Internasional” mengakui tidak pernah bercita-cita ingin menjadi Ketua Umum Persipura dan sekaligus manajer Persipura.

Namun setelah MR Kambu terpilih menjadi Wali Kota Jayapura 2000, saat mengikuti perjalanan Persipura bermain selalu kalah, bahkan hampir saja degradasi. Sebagai orang asli Papua, MR Kambu sangat prihatin dan mencoba analisa, semua itu terjadi karena tidak solidnya manajemen Persipura.

“Saya punya banyak memori tentang bagaimana kelola manajemen selama 11 tahun. Saya menyadari bahwa saya tidak punya kelebihan sebagaimana manusia lain. Tapi saya punya suatu keyakinan yang kokoh, bahwa Tuhan akan menolong kita, jika kita mau bekerja keras percaya kepada Nya,” tulis MR Kambu.

Pernyataan MR Kambu ini dibenarkan pula oleh mantan pelatih Persipura JF Tiago dalam akun facebook-nya kepada Jubi, MR Kambu adalah pemimpin yang takut akan Tuhan, memiliki loyalitas dan trust.

”MR Kambu yang memanggil saya untuk melatih Persipura dan Beliau selalu mendampingi dan memberi support kepada saya,” kata JF Tiago, yang kini melatih Borneo FC di Bumi Kalimantan. (*)

loading...

Sebelumnya

Semangat menyala peternak tua

Selanjutnya

Lima alasan penolakan Mako Brimob di Wamena 

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe