TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Lima alasan penolakan Mako Brimob di Wamena 
  • Sabtu, 19 Januari 2019 — 06:12
  • 2933x views

Lima alasan penolakan Mako Brimob di Wamena 

"Tentu masyarakat tidak mau ada cerita memori passionis kelak dari Kompi Khusus Brimob ini. Karena sebelumnya masyarakat sipil banyak yang terluka, tertembak, sakit, menderita, meninggal dunia, dan masih trauma. Cukup peristiwa-peristiwa lalu menjadi pembelajaran berharga untuk sekarang ini”
Demo penolakan mako brimob di Wamena - Jubi/dok
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: Soleman Itlay

Menurut Kepolisian RI, rencana pembangunan Mako Brimob di Wamena, Jayawijaya, Papua, adalah suatu tuntutan yang mendesak untuk mengatasi gerakan TPNPB/OPM di wilayah pegunungan tengah Papua. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan Kapolda Papua kepada media masa. 

“Selama ini kalau ada konflik yang dilakukan TPNPB, kirim pasukan dari Mako Brimob di Kota Jayapura. itu membutuhkan biaya besar dan waktu. Kalau ada personil bermarkas di Wamena, tentunya bisa cepat bergerak. Keberadaan kompi khusus, akan mem-back up tugas kewilayaan” kata Kapolda Papua.

Kapolda Papua kemungkinan akan menghadapi penolakan dari masyarakat sipil. Hal ini bisa saja terjadi, kalau Kapolda Papua sekarang masih membangun pendekatan seperti pada 2015 lalu. Saat itu pihaknya mendorong wacananya. Tetapi masyarakat adat, terutama pemilik hak ulayat di sejumlah tempat yang strategis untuk membangun Mako Brimob menolaknya.  

Lima alasan penolakan Mako Brimob

Mengapa masyarakat menolak pembangunan untuk 100 personel Kompi Khusus Elit Kepolisian RI di Wamena? 

Pertama, masyarakat adat yang merupakan pemilik hak ulayat tanah adat merasa dan sadar bahwa dirinya akan kehilangan tanah leluhurnya;

Kedua, mereka menolak karena lokasi yang disebutkan pemerintah daerah waktu itu adalah tempat perkebunan yang menjamin kehidupan keluarga mereka, warga sipil;

Ketiga, masyarakat adat menolak karena tidak mau kehilangan sumber atau mata pencaharian hidup akibat pembangunan Mako Brimob;

Keempat, masyarakat adat menolak karena malas kehilangan mata air kehidupan akibat limbah dan kotoran dari Mako Brimob tersebut;

Kelima, masyarakat adat pribumi menolak karena mereka sangat percaya kalau Kompi Khusus Brimob ini ditempatkan di Wamena nanti akan membawah perkara buruk. 

Tentu masyarakat tidak mau ada cerita memori passionis kelak dari Kompi Khusus Brimob ini. Karena sebelumnya masyarakat sipil banyak yang terluka, tertembak, sakit, menderita, meninggal dunia dan masih trauma. Cukup peristiwa-peristiwa lalu menjadi pembelajaran berharga untuk sekarang ini. Terkait ini Anda bisa baca pembahasan catatan berikut.

Catatan memori passionis 

Berikut data-data atau catatan memori passionis yang melibatkan aparat Kepolisian, termasuk Brimob dan TNI di Wamena sepanjang 2012-2015. Pada hari kamis, 10 Oktober 2012, Brimob menganiaya 2 masyarakat sipil  hingga babak belur di lapangan Futsal Aquen, di belakang hotel Ranu Jaya, Jl. Trikora Wamena. 

Mereka adalah Timotius Mote dan Gerson Wetapo. Timo adalah mantan penjaga gawang Persiwa Wamena. Dia dan kawannya mendapat pukulan yang hebat dengan tangan, sepatu laras, popor senjata, dan kursi. Mote mengalami luka dalam. Timo menderita parah. Tiga bulan kemudian dia meninggal dunia. 

Pada tanggal 3 Desember 2012, aparat Kepolisian di pos Pirime, Kabupaten Lanny Jaya memukul 4 warga sipil yang menurut mereka adalan TPNPB. Besok harinya, 3 Kompi Brimob tiba di lokasi TKP. Aparat keamanan di-back up oleh TNI. Kemudian menembak warga sipil atas nama Wendis Wanimbo (46). Setelah itu, membakar 17 unit rumah milikk warga sipil. Harta benda dan hewan ternak lainnya juga ikut terbakar. 

Pada hari minggu 07 September 2014, pukul 07.00 waktu setempat, Brimob menembak Weak Wantik (16) di jalan Wamena – Lani Jaya. Tepatnya Kampung Kosiaphe Distrik Muliama. Korban kenah tembakan di kaki kiri. Sekarang ia masih hidup. Bekas luka tembakannya hingga saat ini masih kelihatan. 

Pada Minggu, 04 November 2015 aparat Kepolisian menyerang warga sipil di Kampung Hetuma. Besar kemungkinan Brimob ikut terlibat dalam peristiwa ini. Sebanyak 33 kepala keluarga (orang) kehilangan harta benda. Kerugian materialnya ± 531.610.000 (Lima ratus tiga puluh satu juta enam ratus sepuluh ribu rupiah). Jumlah tersebut belum termasuk harga ternak dan lainnya. (*)

Penulis adalah anggota PMKRI St. Efrem Jayapura  

loading...

Sebelumnya

Persipura, dari MR Kambu sampai BTM

Selanjutnya

Antara sampah dan kesadaran masyarakat

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe