TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. ULMWP tuding Jonny Arung otak di balik peristiwa Nduga
  • Selasa, 22 Januari 2019 — 19:47
  • 4342x views

ULMWP tuding Jonny Arung otak di balik peristiwa Nduga

Jonny Arung satu dari 8 orang selamat ketika 17 orang  dibunuh. Kembali kepada soal,
Peluncuran laporan ULMWP tentang situasi Nduga selama pendudukan Indonesia (Jubi/ Mawel)
Benny Mawel
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi - United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menuding Jonny Arung sebagai pemicu konflik Nduga pada Desember 2018. Konflik yang menyebabkan 22 ribu warga mengungsi.

Sebelas warga sipil dikabarkan tewas kena timah panas. Lima orang hilang. 10 orang ibu menanti melahirkan di pengungsian. 4 telah bersalin dan 1 meninggal saat bersalin.

"Ini terjadi berawal Jonny Arung melanggar kesepakatan,"ungkap Markus Haluk, kepala kantor Koordinasi ULMWP di West Papua dalam laporan resmi yang diluncurkan pada 15 Januari 2019.

Laporan ULMWP setebal 106 halaman itu mengulas kronologi kekerasan di Nduga dan terhadap orang Nduga dari masa ke masa. Orang Nduga menghadapi kekerasan selama 40 tahun sejak wilayah itu berkontak dengan dunia luar melalui pekabaran Injil pada 1960 an.

Sepuluh tahun sejak kontak awal, orang Nduga menghadapi operasi militer ke operasi militer. Operasi militer pertama pada 1977. Operasi ini dikenang sebagai peristiwa “Gejolak 77”.

Sepuluh tahun kedua, orang Nduga menghadapi operasi Sapu Bersih 1981 I dan II. Dalam operasi ini terjadi penyerangan Woema 1981. Militer menyerang warga setempat karena dicurigai sebagai separatis. Sejumlah yang lain meninggal dan mengungsi.

Sepuluh tahun berikutnya lagi, 1996, orang Nduga menghadapi operasi pembebasan Penyaderaan Tim ekspedisi Lorentz. 25 warga dinyatakan tewas dalam peristiwa ini dan dua peneliti yang disandera tewas.

Empat tahun kemudian, mahasiswa dan warga sipil Nduga yang ada di Jayapura dicari dan diserang. Peristiwa ini dikenal dengan Abepura berdarah pada 7 Desember 2000. 23 orang ditangkap dan dua orang mati dalam tahanan akibat penyiksaan.

Tiga tahun berikutnya, operasi militer pasca pembongkaran gudang senjata 2003 di wamena dan korban org Nduga. Tiga ribu warga mengungsi dan 36 orang meninggal akibat kelaparan di pengungsian.

Dua tahun lalu, 54 anak-anak Nduga Meninggal di Mbua 2015 - 2016. Kementerian kesehatan menyebut ini kejadian luar biasa.

Pasca kejadian itu, warga Mbua mengharapkan pembangunan fasilitas kesehatan. Tetapi harapan itu tidak terpenuhi. Yang ada pembangunan pos-pos TNI.

Kunjungan presiden Jokowi ke wilayah itu 2017, tidak pernah hiraukan korban anak-anak itu.

"Jokowi sibuk bicara untuk pembangunan jalan Trans Papua, dari Wamena ke Nduga"ungkapan Engelbertus Surabut, Sekretaris Judikatif ULMWP dalam peluncuran laporan itu.

Menurutnya, Jokowi menyerahkan proyek itu kepada militer. "Kondisi medan di Papua sangat berat sehingga pembangunan jalan dikerjakan oleh TNI bekerjasama dengan kementerian PUPR. Diharapkan pertumbuhan ekonomi di Papua akan meningkat,"ungkap Jokowi kepada media dikutip dalam laporan ULMWP.

Panglima Kodam VII Cendrawasih, Mayen TNI Hisan Siburian merespon kepercayaan itu. "Tentunya titik-titik yang paling sulit yang akan dikerjakan oleh TNI dalam pembangunan jalan trans Papua," ungkap Siburian.

TNI mengerjakan proyek atas legal Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2014 pasal 3 ayat 1 menyebutkan "Pemerintah memberikan penugasan kepada Tentara Nasional Indonesia untuk melaksanakan pembangunan jalan pada ruas-ruas jalan tertentu yang merupakan bagian dari jalan P4B". Percepatan Pembangunan provinsi Papua dan Papua Barat.

Kalau sudah petunjuk jelas begitu, menurut Markus Haluk, sangat tidak masuk akal kalau 17 korban disebut warga sipil. Kalaupun warga sipil, perusahaan harus memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan.

Haluk menuding PT Istaka Karya tidak peduli dengan keselamatan karyawan. Ketidakpedulian itu terlihat dari sikap bos lapangan PT Istaka Karya, Jonny Arung, warga dan karyawan memanggilnya, "Komandan" .

Komandan Jonny Arung dinilai melanggar kesepakatan dengan TPN-OPM. Pada 2017, Kedua belah pihak bersepakat bahwa camp karyawan harus kosong, setiap 24 november jelang perayaan kemerdekaan Papua tiap 1 Desember.

Kesepakatan itu dibuat atas dasar perkembangan situasi keamanan terhadap karyawan PT.Istana Karya. Situasi karyawan di camp tidak nyaman, kalau ada sejumlah aparat yang awasi.

"Pada awalnya mereka sempat dikawal oleh militer. Semakin mereka dikawal mereka mendapat ancaman oleh TPN,"ungkap ULMWP dalam laporan berdasarkan pengakuan karyawan.

Karena itu, Jonny Arung mengambil langkah para pekerja kerja tanpa ada pengawalan. Jonny Arung sampai ke pimpinan perusahaan dan keamanan untuk aparat tidak kawal.

"Kalau aparat kawal, kami diganggu terus. Pak Jonny Arung memutuskan untuk tidak dikawal aparat,"ungkap dia menirukan pernyataan karyawan.

Ada juga kesepakatan pimpinan perusahaan dengan TNP-OPM pada November 2017 tidak dilaksanakan pada 2018 ini. Karyawan perusahaan masih berada di lokasi hingga tanggal kesepakatan lewat.

"Saya kecewa dengan kejadian ini, karena sudah Desember masih berada di camp padahal sudah harus dikosongkan karena sudah peraturan dai kelompok bersenjata," kata Haluk.

Pancing emosi TPN-OPM

Menurut Haluk, Jonny Arung memancing TPN-OPM marah. Arung menghadiri doa bersama masyarakat dan TPN-OPM pada 1 Desember 2018.

Pada 30 November, anggota TPN-OPM pimpinan Egianus Kogoya mendatangi gembala gereja di Yabandolma untuk meminta doa pada 1 Desember. Sebagai persembahan, TPN-OPM usung satu ekor babi. Saat itu Jonny Arung sudah ada bersama pimpinan gereja setempat dalam rangka mengelar ibadah pembukaan Gerbang Natal.

"Melihat Jonny Arung dengan tujuan ibadah gerbang Natal itu, marah karena itu melanggar kesepakatan setiap 24 November semua tukang termasuk pak Jonny Arung harus tinggalkan lokasi proyek atau ke Wamena,"ungkapnya.

Karena Jonny Arung ada di sana, pasukan Egianus Kogoya tidak jadi menyerahkan babi untuk persembahan. Mereka kembali membawa babi ke gereja Tirid. Saat mereka pulang itu, Jonny Arung memotret pasukan TPN-OPM pikul babi. Sejumlah warga dan anggota TPN-OPM meminta Jonny Arung menghapus gambar karena itu bisa memicu kemarahan Egianus Kogoya, tetapi Jonny Arung tidak menghiraukannya.

"Benar, informasi itu didengar Egianus Kogoya. Ia marah besar,"ungkap ULMWP dalam laporan itu.

Empat jam selang, pasukan Egianus Kogoya menghadiri makan bersama. Pasukan Kogoya makin marah ketika pimpinan gereja menyerahkan potongan babi ke Jonny Arung lebih dulu sebelum yang lain.

"TPN-OPM dan sebagian warga para pimpinan gereja. Acara itu bukan acara John Arung melainkan acara TPN-OPM merayakan 1 Desember,"ungkapnya.

Akumulasi peristiwa sebelumnya, pasukan Egianus Kogoya bertindak untuk menembak Jonny Arung. Tetapi hamba Tuhan dan para ibu melindungi Jonny Arung.

Karena Jonny Arung tidak berhasil ditembak, Kogoya perintahkan pasukannya menangkap para karyawan PT Istaka Karya. Jonny Arung menghadapi ancaman itu dengan menawarkan uang, senjata dan sejumlah amunisi.

"Bisa menawarkan ya..siapa itu Jonny Arung," tanya Haluk. Rupanya tawaran itu tidak berhasil membujuk emosi pasukan kemerdekaan Papua itu.

Pasukan Egianus Kogoya mengiring 24 karyawan ke gunung Kabo. Mereka diperiksa identitas satu persatu. Menurut pengakuan sejumlah orang kepada tim investigasi ini:

"Mereka yang dibunuh itu yang diketahui anggota TNI dari Zipur dan yang dibebaskan itu warga sipil, tetapi itu belum bisa dipastikan karena tidak ada bukti,"ungkap Haluk.

Lagi-lagi Jonny Arung selamat dari pemeriksaan dan pembunuhan. Jonny Arung satu dari 8 orang selamat ketika 17 orang  dibunuh. Kembali kepada soal, siapa itu Jonny Arung?

Entah benar atau tidak, kata Haluk, sejumlah foto tersebar. Arung memeluk senjata laras panjang, foto bersama Jokowi dan Prabowo calon presiden RI 2018/2024 dan foto di depan mobil RI I.

Sudah begitu, ada sapaan khas John Arung dari para karyawan dan masyarakat Nduga."Mereka sapa Komandan. Siapa dia ini? Bongkar identitas orang ini,"ungkap dia.

Karena itu, Edison Waromi, ketua legislatif ULMWP mengatakan pemerintah Indonesia, media pemberitaan mesti berhenti menyalahkan orang Papua terus menerus dalam peristiwa Nduga.

"Saatnya Indonesia jujur, mengakui, dan butuh tim investigasi independen. Cara tahu siapa itu Jonny Arung. Dia itu otak pemucu peristiwa Nduga,"tuding Haluk.(*)


 

loading...

Sebelumnya

Ekspor kayu mesti dilakukan langsung dari Papua

Selanjutnya

Penolakan Enembe pada Freeport bukan akibat politik

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe