Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Tokoh adat bahas pengelolaan ikan berbasis masyarakat
  • Kamis, 22 September 2016 — 21:20
  • 410x views

Tokoh adat bahas pengelolaan ikan berbasis masyarakat

Kawasan Teluk Mayalibit, Raja Ampat dianugerahi kekayaan alam yang sangat berlimpah. Karena itu, sudah seharusnya masyarakat adat sembilan kampung di kawasan tersebut berperan aktif untuk mengatur dan mengelola kawasan perikanannya.
Situasi pembahasan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat oleh tokoh adat, agama dan kepala kampung di sembilan kampung di Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat – Jubi/Florence Niken
Florence Niken
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Rabu, 19 Desember 2018 | 06:43 WP
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Waisai, Jubi – Sejumlah tokoh adat, agama dan kepala kampung di sembilan kampung di Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat membahas pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

Kegiatan yang difasilitasi Conservation International (CI) itu digelar di Warkabu 20 - 21 September 2016.

Ketua Dewan Adat Suku Maya, Krist Tebu mengatakan kawasan Teluk Mayalibit dianugerahi kekayaan alam yang sangat berlimpah. Karena itu, sudah seharusnya masyarakat adat sembilan kampung di kawasan tersebut berperan aktif untuk mengatur dan mengelola kawasan perikanannya.

Dengan demikian dapat memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan pengelolaannya pun berkelanjutan. Maka dari itu, perlu memetakan kawasan   pengelolaan perikanan di kawasan ini.

“Memang secara turun-temurun masyarakat di Teluk Mayalibit telah memiliki batasan antar kampung dalam mencari ikan. Namun sekarang ini dengan kekuatan masyarakat adat kami memetakan kawasan pengelolaan perikanan bukan untuk melarang,” katanya.

Menurut dia pemetaan kawasan dilakukan agar seluruh masyarakat bertanggung jawab dalam mengelola kawasan perikanan di wilayahnya. Bila ada yang berniat mengambil ikan di luar kawasannya harus meminta izin terlebih dahulu ke masyarakat adat pemilik kawasan.

“Ini agar sumber daya ikan tetap terjaga,” katanya.

Sementara itu Kresia Mambrasar Kasub Telma dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Dinas Kelautan dan Perikanan Raja Ampat mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kawasan Teluk Mayalibit.

Ia juga meminta agar masyarakat bekerja sama untuk menjaga kawasan ini sehingga tetap lestari dan sumber dayanya tidak dicuri. (*)

loading...

Sebelumnya

Aktivitas belajar di Kabupaten Sorong lumpuh

Selanjutnya

Tokoh adat bahas pengelolaan ikan berbasis masyarakat

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23582x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19235x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15684x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12755x views
Domberai |— Senin, 10 Desember 2018 WP | 10867x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe